Pemerintah Indonesia membuka kemungkinan keterlibatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam misi di Jalur Gaza. Namun, Presiden Prabowo Subianto menegaskan, langkah itu hanya bisa ditempuh dengan satu syarat utama yakni mendapat persetujuan dari Hamas.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menjelaskan posisi Indonesia dalam forum negara-negara Muslim yang tergabung dalam Board of Participants (BoP). Ia mengisyaratkan bahwa Indonesia siap bergerak lebih dulu jika upaya tersebut dinilai memberi manfaat nyata.
“Kalau memang itu bermanfaat, mereka tahu saya akan melangkah, bahkan tanpa menunggu,” kata Prabowo.
Meski begitu, ia menekankan bahwa sikap tersebut bukan langkah sepihak, melainkan bagian dari konsistensi politik luar negeri Indonesia yang sejak lama berpihak pada kemerdekaan Palestina.
“Saya hanya menjalankan perjuangan bangsa Indonesia. Dari dulu kita selalu membela kemerdekaan Palestina, dan mereka memahami itu,” ujarnya.
Prabowo juga menjelaskan, keterlibatan TNI (jika terealisasi) akan berada dalam koridor yang jelas. Ia menyebut adanya national caveats atau batasan nasional yang mengatur ruang gerak pasukan Indonesia di lapangan.
Menurutnya, TNI tidak akan dilibatkan dalam operasi ofensif, termasuk menyerang atau melucuti kelompok Hamas. Peran yang diemban difokuskan pada misi perdamaian.
Pernyataan ini menjadi penegasan bahwa Indonesia berupaya menjaga posisi sebagai pihak yang mendorong stabilitas, bukan bagian dari eskalasi konflik.
Prabowo meyakini Indonesia memiliki ruang untuk berkontribusi dalam mendorong perdamaian yang lebih permanen di Palestina. Namun, pendekatan yang diambil tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan penghormatan terhadap dinamika di lapangan.










