HEBRON – Muhammad Al-Huraini, mahasiswa Palestina asal Masafer Yatta, Hebron, Tepi Barat, terpilih sebagai penerima Norwegian Student Peace Prize 2027. Penghargaan ini diberikan atas kiprahnya dalam memperjuangkan hak asasi manusia, hak pendidikan warga Palestina, serta hak mereka untuk bertahan di tanah sendiri.

Al-Huraini memulai aktivitas advokasi hak asasi manusia sejak berusia 13 tahun. Perjuangannya berawal dari mendokumentasikan serangan pemukim ilegal Israel yang kerap terjadi ketika dirinya berangkat dan pulang sekolah.

Dalam laporan yang disusun jurnalis Muhammad Turkman untuk platform digital Al Jazeera, disebutkan bahwa Al-Huraini menjadi warga Palestina pertama yang meraih penghargaan tersebut. Pengakuan ini sekaligus menyoroti perjalanan panjangnya dalam mendokumentasikan pelanggaran terhadap warga Palestina di wilayah yang terancam pengusiran.

Mahasiswa Universitas Birzeit itu menegaskan, penghargaan tersebut bukan semata-mata pencapaian pribadi, melainkan pengakuan atas perjuangan kolektif rakyat Palestina.

Ia mendedikasikan penghargaan tersebut kepada para pelajar dan pembela hak asasi manusia di Palestina yang terus berjuang di tengah berbagai pembatasan dan kekerasan.

Al-Huraini mengaku tumbuh di Masafer Yatta dengan menyaksikan langsung serangan pemukim ilegal, penghancuran rumah, hingga ancaman pengusiran paksa terhadap penduduk. Sejak kecil, ia juga melihat bagaimana penjajah membatasi hak warga untuk memiliki tempat tinggal, mengakses pendidikan, serta menjangkau tanah dan lahan pertanian mereka.

Pengalaman tersebut, ditambah pengaruh ayahnya yang terlibat dalam gerakan perlawanan rakyat di selatan Hebron, mendorong Al-Huraini terjun ke aktivitas advokasi sejak usia muda. Ia memulai langkahnya dengan mendokumentasikan berbagai pelanggaran melalui media sosial, sebelum kemudian terlibat dalam sejumlah kegiatan lapangan.

Pada 2017, Al-Huraini bersama saudaranya, Sami, mendirikan inisiatif Shabab al-Sumud atau Pemuda Keteguhan. Organisasi ini berfokus pada dokumentasi pelanggaran penjajah Israel, mendampingi anak-anak Palestina ketika berangkat ke sekolah, melindungi para penggembala domba, serta membantu warga menjangkau lahan pertanian mereka.

11 Kali Ditangkap, Tetap Mendokumentasikan Pelanggaran

Perjuangan Al-Huraini bukan tanpa risiko. Ia, keluarganya, dan anggota inisiatif Shabab al-Sumud berulang kali menghadapi ancaman dan serangan.

Al-Huraini tercatat telah ditangkap sebanyak 11 kali. Delapan di antaranya terjadi sebelum ia berusia 18 tahun.

Namun, pengalaman tersebut justru semakin menguatkan keyakinannya bahwa pelanggaran terhadap warga Palestina harus terus didokumentasikan, bukan menjadi alasan untuk menghentikan aktivitas advokasi.

Seiring waktu, aktivitas Al-Huraini meluas ke sejumlah negara Eropa. Ia mulai menghadiri berbagai kegiatan dan diskusi di kampus-kampus serta forum internasional untuk memperkenalkan kondisi yang dihadapi warga Palestina dan memperkuat solidaritas terhadap masyarakat yang terancam pengusiran.

Baginya, menyampaikan suara dan pengalaman warga Palestina kepada masyarakat Barat merupakan bagian penting dari perjuangan hak asasi manusia. Ia menilai dokumentasi langsung dan kesaksian lapangan menjadi cara penting untuk menghadapi upaya menghapus atau menyembunyikan pelanggaran yang terjadi.

Penghargaan Perdamaian Mahasiswa Norwegia 2027, menurut Al-Huraini, merupakan pengakuan terhadap perjuangan kolektif rakyat Palestina. Ia berharap penghargaan tersebut dapat memperluas perhatian internasional terhadap hak-hak warga Palestina, terutama hak atas pendidikan, tempat tinggal, dan keberadaan mereka di tanah sendiri.

Al-Huraini juga menegaskan, solidaritas internasional tidak seharusnya berhenti pada pujian terhadap keteguhan rakyat Palestina. Dukungan tersebut harus diwujudkan melalui langkah nyata dan tekanan konkret untuk menghentikan pelanggaran serta mengakhiri penjajahan.

Kepada generasi muda Palestina, Al-Huraini berpesan agar mereka membekali diri dengan pengetahuan, kesadaran, dan kemampuan berpikir kritis. Ia menekankan pentingnya pendidikan sebagai alat untuk mempertahankan hak-hak mereka sekaligus membangun generasi yang mampu mengambil inisiatif dan mendorong perubahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here