Di Gaza, antara ranjang ICU dan tenda pengungsian, tersingkap kisah tragis dua bayi: Omar Abu Yusuf dan Misk Maamar. Kedua anak ini mewakili ribuan pasien anak yang nyawanya terancam bukan hanya oleh penyakit, tapi juga oleh penutupan perbatasan yang menghambat akses ke pengobatan.

Omar: Kelahiran yang Tidak Pernah Sehat

Omar Abu Yusuf, bayi sembilan bulan, sejak lahir telah menghadapi kondisi medis yang mengancam nyawanya. Ia menderita obstruksi usus bawaan, memaksa dokter melakukan operasi “mifaghra” untuk menyelamatkan hidupnya. Namun, pemeriksaan lanjutan menunjukkan tidak adanya sel saraf di anus, membuat kondisinya jauh lebih kompleks.

Bayi ini bahkan mengeluarkan tinja melalui hidung (a rare dan berisiko tinggi) yang mengakibatkan kehilangan cairan signifikan dan ancaman gagal ginjal. Kekurangan peralatan medis dan fasilitas diagnostik di rumah sakit Gaza membuat intervensi lebih lanjut mustahil, sementara penundaan dapat berujung pada komplikasi fatal. Para dokter menegaskan, Omar membutuhkan perawatan segera di luar Gaza, namun penutupan perbatasan menjadikan kebutuhan ini sebagai ujian ketidakpastian.

Misk: Melawan Gizi Buruk dan Cacat Bawaan

Di sisi lain, di ICU Rumah Sakit Nasser, bayi enam bulan Misk Maamar berjuang menghadapi penyakit, gizi buruk, dan blokade. Dilahirkan dengan berat 1,4 kg akibat malnutrisi ibunya selama kehamilan, Misk juga menderita sindrom Down, cacat jantung, serta satu ginjal yang mengalami batu.

Ayahnya, Murad, mengatakan kondisi anaknya memburuk setiap hari karena ketersediaan obat-obatan dan perlengkapan medis yang semakin langka. “Di Gaza, orang benar-benar meninggal karena kekurangan obat,” ucapnya.

Kisah Misk bukanlah kasus tunggal. Saat ini sekitar 1,5 juta pengungsi hidup di tenda dan pusat pengungsian yang minim fasilitas dasar. Meski operasi militer besar telah berakhir, bantuan kemanusiaan tetap terbatas, hanya menutupi sebagian kecil kebutuhan, sementara Israel masih menutup perbatasan dan membatasi masuknya obat-obatan serta perlengkapan medis.

Sistem Kesehatan di Ambang Keruntuhan

Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan lebih dari separuh jenis obat dan sekitar 70% perlengkapan medis habis. Rumah sakit kini hanya mampu menangani kasus darurat yang mengancam nyawa, sementara ratusan pasien (terutama anak-anak) terpaksa menunggu perawatan kritis.

Kepala Departemen ICU Anak di RS Nasser, Mohammad Abed, menyatakan, “Kami tidak bisa menyediakan banyak layanan, baik untuk pemeriksaan maupun obat, apalagi mengirim pasien keluar Gaza.”

Banyak anak, termasuk Misk, telah memegang rujukan medis selama berbulan-bulan, namun penutupan perbatasan membuatnya hanya menjadi catatan di atas kertas.

Statistik yang Mengkhawatirkan

Selama dua tahun terakhir, sistem kesehatan Gaza hancur akibat serangan yang menarget rumah sakit, fasilitas medis, gudang obat, dan tenaga kesehatan. Data WHO per 19 Desember 2025 mencatat 1.092 pasien meninggal saat menunggu evakuasi medis, kemungkinan lebih tinggi dari angka resmi. Organisasi seperti Doctors Without Borders menekankan bahwa jumlah pasien yang menunggu jauh lebih banyak.

Hingga kini, lebih dari 30 negara telah menerima pasien Gaza, namun hanya sedikit (termasuk Mesir dan Uni Emirat Arab) yang menampung jumlah signifikan. Omar dan Misk menggambarkan generasi anak Gaza yang terpaksa menghadapi penyakit dengan tubuh rapuh dan sistem kesehatan yang hancur. Bagi mereka, membuka perbatasan bukan sekadar tuntutan kemanusiaan, tetapi syarat mutlak untuk bertahan hidup.

Sumber: Palinfo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here