GAZA — Ketidakmampuan militer Israel (IDF) untuk terus menempatkan pasukan reguler di jantung pertahanan Jalur Gaza pasca-gencatan senjata melahirkan taktik baru yang berbahaya. Sejak paruh kedua 2024, Israel secara sistematis menerapkan strategi outsourcing perang yakni membentuk, mendanai, dan memelihara milisi bersenjata (geng pengkhianat) yang diisi oleh warga lokal Gaza sendiri.
Misi utama geng pengkhianat ini jelas, memicu perang saudara (chaos), memotong rantai logistik bantuan, dan mengeksekusi operasi kotor mulai dari penculikan hingga pembunuhan ilmuwan, jurnalis, dokter, serta komandan perlawanan lokal tanpa harus mengorbankan nyawa tentara Israel.
Informasi sensitif yang berhasil dihimpun melalui pengakuan dua mantan anggota milisi tersebut membongkar cetak biru rekrutmen jaringan proksi ini. Mereka bergerak di bawah bayang-bayang komando perwira intelijen Israel yang mengendalikan operasi dari balik pembatas militer.
Arsitektur Rekrutmen: Dari Janji Manis ke Pemerasan Perut
Pengakuan para mantan anggota geng ini mengonfirmasi bahwa fase awal rekrutmen dilakukan dengan memanfaatkan keputusasaan ekonomi akibat blokade total. Para agen intelijen Israel melempar umpan berupa janji fasilitas “hidup mewah” (pasokan makanan melimpah, obat-obatan langka, uang tunai, dan jaminan keamanan keluarga) yang sangat kontras dengan realitas kelaparan di kamp pengungsian.
Namun, pengamat studi Israel, Dr. Muhannad Mustafa, menegaskan bahwa pola ini bukan hal baru. Sejarah pendudukan Israel selalu menggunakan senjata pemerasan (blackmail).
[SISTEM REKRUTMEN DAN METAMORFOSIS AGEN]
Sebelum 7 Oktober: Agen rahasia (informan tunggal), ruang gerak sempit & defensif.
│
▼
Juni 2024 (Pasca-invasi Rafah): Muncul sebagai faksi bersenjata semi-militer terbuka.
│
▼
Tahun 2026 : Struktur milisi proksi tersebar di 5 wilayah utama Gaza.
“Yang membedakan kali ini adalah skala dan bentuknya. Ini pertama kalinya dalam sejarah pendudukan di mana Israel melegalkan para kolaborator ini menjadi milisi bersenjata resmi (armed proxy militias) yang bertugas menyebarkan teror atas nama Tel Aviv,” urai Mustafa.
Ironisnya, di saat Israel gencar menuntut pelucutan senjata kelompok perlawanan Palestina, mereka justru memasok senjata otomatis secara masif kepada milisi-milisi proksi ini. Taktik ini sengaja dipelihara sebagai kompensasi atas ditariknya pasukan reguler Israel dari posisi-posisi berisiko tinggi di dalam kota.
Komposisi Milisi: Aliansi Residivis dan Eks Tahanan
Analis politik, Iyad Al-Qarra, menambahkan dimensi sosiologis dari kelompok proksi ini. Berdasarkan pemantauan di lapangan, struktur milisi ini mayoritas tidak diisi oleh warga biasa, melainkan aliansi pragmatis antara:
- Para pelaku kriminal murni (komplotan pencuri logistik)
- Residivis pasar gelap
- Mantan tahanan keamanan yang sebelum perang sudah masuk daftar hitam intelijen internal Gaza atas tuduhan spionase.
[STRUKTUR KOMANDO JARINGAN PROKSI ISRAEL]
│
[PENGENDALI UTAMA: PERWIRA INTELIJEN "CMRAN"]
│
┌───────────────────────────────┴───────────────────────────────┐
▼ ▼
[Wilayah Selatan (Rafah/Khanyounis)] [Wilayah Tengah & Utara]
- Faksi Ghassan Al-Dahini (Eks Abu Shabab) - Ahmad Abu Nashira (Wilayah Tengah)
- Husam Al-Astal (Khan Younis) - Rami Helles (Kota Gaza)
- Ashraf Al-Mansi (Gaza Utara)
Al-Qarra mencatat, eksistensi milisi ini sangat bergantung pada payung udara militer Israel. “Setiap kali unit keamanan lokal atau polisi sipil Gaza mencoba menertibkan milisi ini, jet tempur atau drone Israel akan langsung mengintervensi dengan membunuh perwira polisi tersebut. Israel secara sengaja memotong kepala aparat penegak hukum legal agar milisi ini bisa menguasai jalanan,” papar Al-Zaytoun.
Ketika identitas mereka terbongkar oleh radar intelijen perlawanan, para anggota milisi ini biasanya langsung dievakuasi oleh militer Israel ke balik “Garis Kuning” (zona militer steril Israel) untuk menyelamatkan diri.
Peta Kendali Operasional dan Rantai Komando
Dokumen visual dan data internal menunjukkan bahwa milisi ini beroperasi di bawah garis komando terpusat. Seluruh instruksi lapangan, target pembunuhan, koordinasi logistik, hingga pencarian titik lubang ruang bawah tanah (tunnel) dipandu langsung oleh seorang perwira intelijen Israel yang menggunakan nama samaran “Officer Cmran”.
Aktivitas milisi ini bertransformasi dari kelompok kriminal kecil menjadi kartel bersenjata terstruktur melalui lima wilayah utama:
- Sektor Rafah: Merupakan tempat penetasan pertama pasca-invasi Juni 2024. Awalnya bergerak sebagai penjarah truk bantuan kemanusiaan. Kelompok ini mengonsolidasikan kekuatan di bawah bendera Yasser Abu Shabab. Setelah Abu Shabab tewas dieksekusi pada Desember 2025, tongkat komando Rafah dialihkan ke tangan Ghassan Al-Dahini.
- Sektor Khan Younis: Dikendalikan oleh faksi bersenjata di bawah pimpinan Husam Al-Astal.
- Sektor Wilayah Tengah: Operasi pengamanan jalur logistik militer Israel dipimpin oleh Ahmad Abu Nashira (dikenal di dunia bawah tanah dengan nama Shawqi Abu Nashira).
- Sektor Kota Gaza: Dipimpin oleh Rami Helles, bertugas mengidentifikasi sisa-sisa pos komando perlawanan di wilayah urban.
- Sektor Gaza Utara: Wilayah paling rawan kelaparan ini dikendalikan oleh milisi pimpinan Ashraf Al-Mansi.
“Mereka bergerak di depan tank-tank Israel, bertindak sebagai penunjuk jalan sekaligus tameng hidup, bertukar seragam sipil untuk menyusup ke tengah-tengah pengungsi.” Laporan Intelijen Lapangan.
Resolusi Konflik Internal dan Batas Proteksi Militer
Faksi perlawanan Palestina di Gaza sebenarnya telah mencoba meredam ekspansi milisi ini melalui pendekatan sosiologis, yakni menggunakan jaringan komunikasi dewan adat dan tokoh suku (tribal approach). Langkah ini diambil untuk menghindari pertumpahan darah antarklan yang bisa mempercepat fragmentasi sosial seperti yang diinginkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Melalui pendekatan berbasis kearifan lokal ini, beberapa anggota milisi level bawah berhasil ditarik kembali dan menyerahkan diri. Namun, untuk level komandan utama, pendekatan sosial ini menemui jalan buntu.
Dengan adanya kawalan ketat drone pengintai Israel dan jaminan logistik tanpa batas, para pemimpin milisi proksi ini memilih terus bertahan, menjadikan kekacauan domestik di Gaza sebagai bisnis baru yang menguntungkan di atas penderitaan jutaan warga yang kelaparan.
Sumber: Diterjemahkan dan Diolah dari Al Jazeera










