Di ruang perawatan Kompleks Medis Al-Shifa, mesin-mesin pencuci darah bekerja dengan nafas tersengal. Saat suku cadang tak kunjung tiba dan air bersih kian langka, 700 nyawa pasien gagal ginjal di Gaza kini berada di ujung tanduk, menanti maut dalam diam.

Pemandangan di bangsal hemodialisis mumpung Al-Shifa, Kota Gaza, pekan ini jauh dari kesan steril dan tenang. Yang ada justru perlombaan gila melawan waktu. Di saat pasien terbaring lemas dengan jarum tertancap di lengan, para teknisi mesin justru sibuk membongkar jeroan perangkat pencuci darah yang kerap macet.

Ini bukan prosedur standar medis. Ini adalah aksi nekat untuk menyambung nyawa.

“Kami terpaksa melakukan servis besar tepat di saat darah pasien sedang mengalir di dalam mesin itu,” ujar Mazen Al-Araishi, Direktur Jenderal Departemen Teknik dan Pemeliharaan Kementerian Kesehatan di Gaza. Mesin-mesin itu sudah uzur, rongsok, dan berkali-kali dihantam getaran bom. Padahal, menurut standar medis global, mesin dialisis punya batas jam terbang yang ketat; jika lewat waktu tanpa perawatan, ia adalah rongsokan berbahaya.

Kini, mesin-mesin “tua bangka” di RS Al-Shifa, RS Al-Aqsa, dan Kompleks Medis Nasser itu tak sekadar rusak. Mereka sekarat.

Syarat Mati: Tanpa Air dan Suku Cadang

Masalahnya bukan cuma mesin yang batuk-batuk. Shalat satu “nyawa” utama proses cuci darah adalah unit pemurnian air. Proses ini butuh air dengan spesifikasi super ketat—bebas polutan dan kadar garam tertentu. Tanpa itu, proses cuci darah justru akan meracuni tubuh pasien.

Malangnya, unit pemurnian air pusat di tiga rumah sakit utama Gaza itu nyaris lumpuh total. Militer Israel, meski kesepakatan gencatan senjata sudah diteken sejak Oktober tahun lalu, masih saja mencekik jalur logistik. Suku cadang generator, filter air, hingga bahan kimia pemurni tertahan di perbatasan.

“Ini bukan lagi krisis medis, ini adalah eksekusi mati massal secara perlahan,” kata seorang teknisi di lapangan.

Dampaknya terasa langsung pada fisik pasien. Karena pasokan air murni merosot tajam, dokter terpaksa mengambil keputusan pahit: memangkas durasi cuci darah. Jika biasanya pasien butuh tiga sesi seminggu dengan durasi 4-5 jam sekali duduk, kini mereka hanya dijatah dua sesi dengan durasi maksimal tiga jam.

Bagi pasien gagal ginjal, pengurangan jam ini berarti penumpukan racun dalam tubuh. Kulit mereka menggelap, nafas makin berat, dan tubuh kian ringkih.

Menanti Lampu Hijau yang Tak Kunjung Padam

Kementerian Kesehatan mencatat ada sekitar 30.000 pasien dan korban luka yang berjejal di rumah sakit-rumah sakit Gaza yang sudah compang-camping. Semuanya menatap satu arah: pintu keluar Gaza. Perawatan lokal sudah angkat tangan; kapasitas mereka sudah habis tergerus perang dua tahun terakhir.

Dunia internasional sebenarnya sudah mendengar teriakan ini. Desakan agar Israel membuka gerbang perbatasan, terutama pintu Rafah, kian kencang. Tujuannya satu: evakuasi medis sebelum daftar tunggu berubah menjadi daftar kematian.

Data menunjukkan tragedi yang kolosal. Sejak “perang genosida” meletus dua tahun lalu hingga gencatan senjata 10 Oktober 2025, lebih dari 72.000 nyawa melayang dan 172.000 lainnya luka-luka. Infrastruktur sipil lumat.

Namun, di atas kertas gencatan senjata yang ada, kenyataan di lapangan berkata lain. Israel masih kerap melancarkan serangan sporadis dan mengutak-atik batas penarikan pasukan yang disepakati, yang dikenal sebagai “Garis Kuning”.

Di bangsal Al-Shifa, politik tingkat tinggi itu terasa sangat jauh. Yang terdengar nyata hanyalah bunyi mesin dialisis yang kian berisik, beradu dengan nafas pasien yang satu per satu mulai kehilangan tenaga untuk bertahan. Bagi 700 pasien gagal ginjal di sana, waktu bukan lagi uang; waktu adalah nyawa yang terus bocor dari selang-selang tua yang tak terawat.


Sumber: Diterjemahkan dan diolah dari laporan Al Jazeera dan Jurnalis Gaza

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here