Pengerahan enam brigade tempur secara bergantian oleh militer Israel di Gaza mengonfirmasi satu hal: Tel Aviv sedang bersiap untuk menetap. Dari pos pertahanan sementara ke benteng permanen, Gaza kini dipaksa menjadi wilayah penyangga yang tak berkesudahan.
ISRAEL tampaknya tak sedang terburu-buru untuk berkemas dari Jalur Gaza. Laporan terbaru harian Yedioth Ahronoth pada Senin ini mengungkap bahwa militer Israel (IDF) tengah mengoperasikan enam brigade tempur secara bergiliran di kantong Palestina tersebut. Pola rotasi ini bukan sekadar penyegaran pasukan, melainkan sinyal kuat akan adanya rencana “masa tinggal yang diperpanjang dan intensif”.
Brigade Pasukan Payung dikabarkan segera masuk untuk menggantikan brigade cadangan yang telah menyelesaikan tugasnya. Salah satunya adalah Brigade 205, yang baru saja menuntaskan tur tempur keenamnya sejak perang pecah pada Oktober 2023. Pasukan ini adalah unit “nomaden” yang sebelumnya mondar-mandir antara palagan Gaza Selatan dan Lebanon Selatan.
Namun, yang paling mengkhawatirkan bukan soal siapa yang datang dan pergi, melainkan apa yang mereka bangun. Di area antara perbatasan dan “Garis Kuning”, posisi-posisi pertahanan sementara kini telah bersalin rupa menjadi titik-titik konsentrasi militer permanen. Puluhan pos keamanan stabil telah didirikan dalam beberapa bulan terakhir—sebuah infrastruktur fisik yang menegaskan niat Israel untuk mengunci kontrol wilayah.
Efek Domino Antar-Front
Di balik tembok-tembok beton pos jaga itu, para perwira militer di lapangan mengakui tantangan yang tak kunjung padam: Hamas masih mengerahkan upaya raksasa untuk membangun kembali kekuatannya. Upaya pemberangusan total yang dijanjikan Benjamin Netanyahu nyatanya masih jauh dari panggang api.
Israel menyadari Gaza bukan laboratorium yang terisolasi. Nasib pendudukan di sana sangat bergantung pada dinamika di front lain. Kemampuan militer Israel untuk beroperasi di luar Sungai Litani (Lebanon Selatan), hingga hasil negosiasi Washington dengan Teheran, menjadi variabel yang menentukan seberapa banyak pasukan yang bisa disisihkan untuk menjaga Gaza.
Saat ini, sebagian besar energi Israel terkuras di front utara, tempat Hizbullah terus menghujani pemukiman dan pos militer dengan roket. Ketidakjelasan hasil di perbatasan Lebanon inilah yang membuat upaya meraih hasil “final” di Gaza kian pelit terwujud.
Gencatan Senjata yang Berdarah
Pesan dari Tel Aviv pun bernada ancaman: jika jalur diplomatik buntu, militer siap memutar balik mesin perang Gaza ke intensitas tinggi. Bahkan, jika perlu, mereka akan memanggil kembali pasukan yang saat ini sedang berjaga di Lebanon untuk kembali menggempur Gaza.
Statistik dua tahun terakhir adalah monumen kengerian. Sejak perang pecah pada 8 Oktober 2023, lebih dari 72 ribu nyawa melayang dan 172 ribu lainnya luka-luka—mayoritas adalah perempuan dan anak-anak.
Meski di atas kertas ada kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025, kenyataan di lapangan berkata lain. Blokade tetap mencekik, dan bombardemen harian masih menjadi menu rutin. Sejak kesepakatan itu diteken, 832 warga Palestina tewas dan 2.354 lainnya luka-luka. Bagi warga Gaza, istilah “gencatan senjata” hanyalah jeda singkat untuk menghitung jumlah korban baru di bawah bayang-bayang moncong meriam enam brigade Israel yang kini kian berurat akar.
Sumber: Diterjemahkan dan diolah dari Yedioth Ahronoth dan Anadolu Agency.










