Pergerakan kapal-kapal dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) menuju Gaza kini dapat dipantau secara langsung melalui laman pelacak yang baru diaktifkan. Sistem ini dikembangkan bersama lembaga Forensic Architecture untuk menampilkan posisi armada secara real-time selama pelayaran menembus blokade laut Israel.

Melalui tautan gsumud.link/tracker, publik dapat mengikuti pergerakan puluhan kapal yang berangkat dari berbagai pelabuhan Eropa menuju pesisir Gaza. Para penyelenggara menyebut keterbukaan data ini sebagai bentuk “transparansi” sekaligus upaya menjaga keselamatan misi.

“Transparansi adalah perisai kami,” demikian pernyataan Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) dalam keterangan yang dibagikan bersama peluncuran pelacak tersebut.

Koordinator GPCI, Dr. Maimon Herawati, yang berada di salah satu kapal induk flotilla, melaporkan langsung kondisi pelayaran dari rute Barcelona menuju Gaza. Ia berangkat bersama sejumlah relawan, termasuk tokoh publik Chiki Fawzi, dalam rombongan yang disebut sebagai bagian dari gelombang solidaritas internasional.

“Bismillahirrahmanirrahim, alhamdulillah ini adalah pagi pertama kami di dalam kapal induk menuju Gaza,” ujar Maimon dalam pesan yang diterima, Kamis (16/4).

Menurut Maimon, misi flotilla ini lahir dari situasi kemanusiaan di Gaza yang masih berada di bawah blokade ketat. Ia menyebut jalur darat untuk bantuan kemanusiaan tidak mencukupi kebutuhan warga.

Saat ini, lanjutnya, bantuan yang masuk ke Gaza melalui darat disebut masih di bawah 100 truk per hari, angka yang dinilai jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar jutaan warga di wilayah tersebut.

Sebanyak 38 kapal dilaporkan telah bertolak dari Barcelona. Jumlah itu diperkirakan bertambah seiring bergabungnya armada dari pelabuhan lain di Prancis dan Italia, sehingga totalnya bisa mencapai lebih dari 70 kapal dalam satu rangkaian pelayaran.

Misi Global Sumud Flotilla menargetkan pembukaan koridor kemanusiaan melalui jalur laut. Para penyelenggara berpendapat, secara hukum internasional perairan Gaza terhubung langsung dengan laut lepas sehingga akses bantuan seharusnya tidak dihalangi.

Maimon menyebut keikutsertaan relawan dari berbagai negara merupakan respons atas seruan warga Gaza. “Gaza memanggil,” katanya.

Di luar aspek pelayaran, ia juga menyinggung peran dukungan publik di ruang digital. Menurutnya, perjuangan ini tidak hanya berlangsung di laut, tetapi juga di media sosial yang menjadi arena perebutan narasi.

Ia mengajak masyarakat Indonesia untuk terus menyuarakan isu Gaza dan Tepi Barat melalui konten digital, termasuk unggahan sederhana seperti membagikan informasi atau memberi tanda suka, yang menurutnya berpengaruh pada distribusi informasi di platform media sosial.

“Terus dukung Gaza dan Tepi Barat. Kita perlu mendobrak blokade algoritma agar informasi ini tetap muncul,” ujarnya.

Dukungan publik dari Indonesia, yang dikenal sebagai salah satu basis solidaritas terbesar untuk Palestina, disebut menjadi dorongan moral bagi para relawan yang kini berada di tengah pelayaran menuju wilayah yang masih berada dalam blokade ketat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here