KHAN YOUNIS – Koridor Kompleks Medis Nasser di Khan Younis, Gaza Selatan, tak ubahnya etalase dari sisa-sisa kemanusiaan yang lumat. Kamis, 28 Mei 2026, takbir Idul Adha bergema lirih di antara desis tabung oksigen dan rintihan pasien.
Bagi ratusan korban luka, hari raya ketiga sejak pecahnya perang besar pada Oktober 2023 ini tidak dirayakan di ruang tamu atau taman kota, melainkan di atas bangsal perawatan yang pekat dengan aroma antiseptik dan darah.
Kondisi ruang bedah kini begitu sesak. Keterbatasan ruang memaksa manajemen rumah sakit menempatkan beberapa pasien dengan luka parah dalam satu kamar yang sama.
“Sebagian besar warga Gaza menghabiskan lebaran kali ini di tiga tempat: bangsal rumah sakit, kamar jenazah, atau di antara gundukan kuburan,” lapor Ola Abu Muammar, jurnalis lapangan di lokasi.
Satu Peluru, Satu Keluarga Lumat
Di salah satu sudut bangsal bedah, seorang pria paruh baya terbaring menatap langit-langit. Ia mengisahkan bagaimana sebuah peluru nyasar menembus tenda pengungsian saat keluarganya sedang berkumpul.
Insiden kilat itu seketika mengubah takdir mereka: kakak iparnya syahid di tempat, sementara keponakannya (bayi mungil yang baru berusia 40 hari) harus kehilangan kaki kirinya akibat diamputasi sebelum akhirnya didera sepsis (keracunan darah akibat infeksi).
Penderitaan pasien pasca-operasi kian berlipat akibat kelangkaan obat-obatan yang akut. Pihak rumah sakit terpaksa menerapkan sistem “jatah” yang ketat untuk kain kasa, perban, dan antibiotik.
Pasien yang membutuhkan perawatan ekstra atau obat penahan rasa sakit dosis tinggi harus memutar otak mencari pasokan dari apotek luar dengan harga selangit.
Siklus Krisis Medis Kompleks Medis Nasser
- Penyusutan Stok Komoditas Medis
Dampak Embargo Obat
Rumah sakit kehabisan bahan habis pakai dasar seperti benang bedah, antiseptik, dan obat bius akibat blokade total. - Daftar Antrean Operasi Menumpuk
Penundaan Tindakan Bedah
Pasien dengan luka dalam dipaksa menunggu hingga berbulan-bulan demi menunggu giliran ketersediaan alat bedah yang spesifik. - Pembengkakan dan Infeksi Sekunder
Komplikasi Klinis Pasien
Keterlambatan penanganan memicu pembusukan jaringan dan sepsis, memaksa dokter melakukan tindakan darurat yang lebih berisiko.
Dapur Data: Menimbun Shrapnel di Dalam Tubuh
Nasib buruk akibat penundaan operasi dialami oleh Wasim Abu Tilakh. Pemuda ini baru bisa menjalani operasi keduanya tepat di hari raya setelah mengantre selama lima bulan.
Akibat keterlambatan itu, bagian perut Wasim mengalami pembengkakan hebat yang mengganggu aktivitas fisiknya. Di tengah sengatan suhu musim panas, Wasim terpaksa mengenakan pakaian yang sangat longgar agar kondisinya tidak terlihat menonjol di depan teman-temannya.
“Lebaran bagi kami terasa lebih kejam dari hari biasa,” tutur ibunda Wasim. Rumah tangga mereka hancur secara struktural; anak lak-lakinya yang lain, seorang siswa kelas 12 jurusan sains yang terbiasa meraih nilai sempurna, kini harus belajar di bawah tenda pengungsian yang panas tanpa buku teks yang memadai.
Keluarga ini adalah protret nyata bagaimana satu garis keturunan bisa cacat bersamaan. Sang ibu sendiri mengaku saat ini hidup dengan lima serpihan bom (shrapnel) yang bersarang di tubuhnya, di mana salah satu pecahan logam tersebut menancap tepat di ginjalnya.Hingga
Mei 2026, kendati kesepakatan gencatan senjata sempat diumumkan pada Oktober 2025 lalu, agresi militer dan serangan udara presisi di lapangan belum benar-benar surut. Dengan rusaknya 90 persen infrastruktur sipil dan total korban luka yang kini melampaui 172.000 jiwa, rumah sakit di Gaza bukan lagi tempat untuk sembuh, melainkan ruang tunggu panjang bagi sebuah komunitas yang dipaksa bertahan hidup di ambang batas kemampuan fisik manusia.










