Keluarga tahanan Palestina dari Gaza hidup dalam kecemasan terus-menerus, tanpa kepastian tentang nasib anak-anak mereka yang ditahan di penjara Israel. Komunikasi yang minim dan data resmi yang terbatas membuat ketidakpastian semakin mencekam, memperbesar kekhawatiran manusiawi dan hukum terkait kondisi penahanan.
Segmen “Suara dari Gaza” menyoroti penderitaan ini melalui kesaksian para ibu dan kerabat tahanan.
Terputusnya Kontak Terakhir
Seorang istri menceritakan, kontak terakhir dengan suaminya Abdul Rahman terjadi pada 5 Januari. Ia sempat berbicara tentang keinginannya menempati tenda di kamp pengungsian agar menghentikan perpindahan yang terus berlangsung, tetapi komunikasi terputus setelah itu. Keluarganya hanya menerima foto seorang pria di jalan dengan tangan terangkat, yang sebagian besar diyakini mereka sebagai Abdul Rahman, meski tidak ada kepastian.
Mereka sudah menghubungi lembaga tahanan, mengisi berbagai formulir, namun tak ada respons dari pihak Israel. Harapan tetap ada karena banyak nama tahanan masih tidak tercatat.
Pengalaman Paling Tragis
Seorang ayah menceritakan bagaimana pasukan Israel menggerebek rumahnya dan menahan semua laki-laki yang ada, termasuk anak-anaknya dan kerabatnya, sekitar 15 orang. Semua dilepas kecuali anaknya, Omar, yang menurut informasi dari lembaga tahanan dilaporkan tewas pada Desember lalu. Ayah itu yakin kematian anaknya akibat penyiksaan dan kekerasan fisik, menyebut metode yang digunakan “sangat kejam” termasuk pemukulan dan praktik “bayangan” yang tak masuk akal.
Meskipun keluarga belum mendapat kepastian, beberapa tahanan yang dilepas mengaku masih melihat Omar setelah tanggal kematiannya dilaporkan, memberi mereka secercah harapan.
Tahanan Sakit
Seorang istri lain menceritakan suaminya ditahan pada 27 Desember dari RS Kamal Adwan di utara Gaza. Informasi dari tahanan yang dibebaskan menyebut kondisinya kritis, sering pingsan akibat penyiksaan. Anak-anaknya terus bertanya tentang ayah mereka, dan sang putra kecil menunggu hingga detik terakhir saat pembebasan tahanan baru-baru ini, berdiri di jendela setiap kali mendengar tembakan, berharap ayahnya akan muncul.
Data dan Realita
Menurut lembaga tahanan Palestina, Israel menahan 1.460 tahanan Gaza berdasarkan kesepakatan gencatan perang, dengan 1.220 di antaranya dianggap “pejuang ilegal.” Selama pertukaran tahanan 2025, 3.745 warga Palestina dibebaskan, sementara 9.300 masih dalam tahanan administratif hingga Desember 2025. Sejak 7 Oktober 2023, 86 tahanan meninggal, termasuk 50 dari Gaza.
Kesaksian tahanan Gaza mengungkap pola penyiksaan sistematis, baik psikologis maupun fisik, di bawah sistem kekebalan Israel yang menjamin pelaku lepas dari hukuman. Lembaga hak asasi Palestina mencatat sekitar 7.000 kasus penahanan dalam setahun terakhir, termasuk 600 anak dan 200 perempuan, sementara sejak 8 Oktober 2023, jumlah tahanan mencapai 21.000, termasuk 1.655 anak dan 650 perempuan, belum termasuk tahanan Gaza dan wilayah Israel yang diduduki.
Kesaksian ini membuka tabir penderitaan keluarga Palestina, menunjukkan bahwa perjuangan mereka menanti kepulangan anak-anak dari penjara Israel bukan sekadar soal jarak fisik, tetapi juga menahan ketidakpastian yang menghancurkan jiwa.
Sumber: Al Jazeera









