GAZA — KISAH yang dialami Hanaa al-Ghandour hanyalah satu dari ribuan potret kelam yang mencengkeram keluarga-keluarga di Jalur Gaza akibat perang dan agresi militer Israel. Namun, detail tragedi yang menimpa wanita Palestina ini menyimpan kepedihan yang teramat dalam dan sukar dibayangkan.
Hanaa menyaksikan secara langsung bagaimana putra tercintanya, Alaa, dieksekusi oleh pasukan Israel di depan matanya sendiri. Jasad Alaa tergeletak begitu saja selama berhari-hari tanpa bisa dievakuasi akibat terkepung. Sampai akhirnya sang ayah terpaksa menggali tanah menggunakan sebilah sendok demi mengebumikan putranya di kompleks sekolah tempat mereka berlindung.
Tak berhenti di situ, takdir pahit kembali menghantam keluarga Hanaa. Pasukan Israel menculik suaminya, Naji Ahmad al-Ghandour, dari dalam sekolah, yang belakangan terkonfirmasi gugur akibat siksaan. Putra Hanaa yang lain ditangkap saat keluar mencari makanan. Kini, Hanaa hanya tersisa bersama putranya yang mengidap autisme, bertahan hidup di dalam tenda pengungsian di tengah duka mendalam.
“Saya adalah istri seorang syahid, ibu dari anak yang syahid, ibu dari anak yang ditawan, dan anak saya satu lagi mengidap autisme. Sekarang hanya kami berdua yang tinggal di tenda ini,” tutur Hanaa dengan suara bergetar.
Hanaa menceritakan runtutan penderitaannya: rumahnya hancur dihantam bom, diusir dari satu sekolah ke sekolah lain, hingga puncaknya pada 9 Desember 2023, ketika pasukan Israel mengepung Sekolah Putri Zayed. Tembakan melesat bertubi-tubi tepat saat Hanaa tengah memasak untuk keluarganya.
Pendarahan Tanpa Pertolongan dan Makam Bertutup Sendok
Hanaa mengenang detik-detik mengerikan saat timah panas menembus mata dan kepala Alaa. Putranya tergeletak di lantai sepanjang malam, bersimbah darah. Dalam kepungan tembakan, tak ada pertolongan medis yang bisa menjangkau lokasi mereka hingga Alaa mengembuskan napas terakhir.
Jasad Alaa terpaksa dibiarkan di salah satu ruangan sekolah selama tiga hari. Keluarga tak sanggup menguburkannya karena ancaman tembakan sniper. Baru setelah pasukan Israel sedikit menarik diri, suami Hanaa memberanikan diri menggali tanah.
“Dengan sendok… dengan sendok suami saya menggali makam untuk anaknya sendiri. Allahuakbar… Saya melepasnya dengan air mata yang menetes. Alaa adalah separuh hidup saya. Setelah tujuh tahun menanti dan berjuang, saya melahirkannya. Dan saat usianya menginjak 27 tahun, ia syahid,” ucap Hanaa meratapi takdir.
Begitu proses pemakaman sederhana itu selesai, militer Israel kembali menyerbu. Mereka merobohkan gerbang sekolah dan mengepung seluruh area untuk kedua kalinya.
Takdir Merekam Kematian dalam Siksaan
Pasukan pendudukan memerintahkan seluruh wanita dan anak-anak untuk pergi tanpa membawa barang apa pun. Sementara para pria dipaksa bertahan dan ditelanjangi di bawah ancaman senjata.
“Instruksi tentara saat itu tegas: wanita keluar, laki-laki tetap di dalam dan dilucuti pakaiannya,” kenang Hanaa.
Usai wanita diinterogasi, suami Hanaa digiring dan ditahan. Tak lama berselang, putranya yang lain, Jihad, turut ditangkap di dekat Rumah Sakit Kamal Adwan. Hingga kini, nasib Jihad tidak diketahui. Sementara itu, hampir satu tahun kemudian, keluarga baru mendapat kabar konfirmasi bahwa sang suami telah meninggal dunia di dalam tahanan akibat siksaan fisik yang parah.
Kini Hanaa, yang berasal dari kawasan Sheikh Zayed di utara Gaza, harus mengungsi ke Kamp Al-Shati di Kota Gaza setelah berkali-kali berpindah tempat. Ia hanya ditemani Abdullah, putranya yang mengidap autisme dan membutuhkan perawatan khusus, serta dua putri kandungnya.
Kisah Hanaa al-Ghandour menjadi saksi bisu betapa dalamnya luka kemanusiaan di Gaza—tempat di mana sendok makan harus berubah fungsi menjadi penggali liang kubur bagi seorang anak.
Dipublikasikan ulang dan diolah dari sumber asli Al-Jazeera.










