KHAN YOUNIS — Bagi Sair Abu Draz, malam itu berjalan tanpa kedipan mata. Rasa kehilangan menyergapnya begitu instan. Dalam satu hentakan, ia menemukan putri kecilnya, Siwar, yang baru berusia satu tahun, terbujur kaku di atas tanah tenda yang hancur. Tepat di sebelahnya, sang istri juga telah mengembuskan napas terakhir.

Malam itu, riwayat satu keluarga kecil tamat. Padahal, hanya beberapa menit sebelumnya, mereka tengah berlindung di dalam tenda darurat di kawasan Al-Mawasi, sebelah barat Khan Younis. Wilayah yang secara sepihak diklaim oleh militer Israel sebagai “zona kemanusiaan yang aman,” sebelum akhirnya diubah menjadi panggung pembantaian baru.

“Api Melumat Tenda Kami dari Dalam”

Sair menceritakan detik-detik mengerikan tersebut dengan suara yang terputus-putus menahan sesak. Kebahagiaan domestiknya lumat seketika di depan mata.

“Kami terbangun oleh suara ledakan dahsyat yang menggetarkan seluruh tenda. Saat membuka mata, saya melihat api sudah membakar kain tenda dan asap tebal mencekik kami. Saya berteriak memanggil Siwar dan ibunya. Ketika saya menyibak kain penutup, mereka sudah bersimbah darah,” kenang Sair, dikutip dari laman Palestinian Information Center.

Dengan tangan kosong, Sair mencoba menjinakkan kobaran api yang kian membesar, namun sia-sia.

“Saya dekap anak perempuan saya… tubuhnya masih terasa hangat, tetapi jiwanya telah pergi. Di mana rasa aman yang mereka janjikan? Api itu tidak hanya melumat tenda kami, tapi juga menghanguskan sisa umur kami,” ucapnya getir.

Keheningan di Selasar Rumah Sakit Nasser

Di Kompleks Medis Nasser, Sair berdiri mematung di depan jasad kaku putrinya. Tidak ada air mata yang mengalir, hanya tatapan kosong yang terkunci pada wajah mungil yang kini terkoyak serpihan bom (shrapnel). Ia meletakkan kedua tangan di atas kepalanya, tenggelam dalam fase syok yang mendalam.

Siwar baru saja merayakan ulang tahun pertamanya beberapa hari lalu. Perang sama sekali tidak memberikannya kesempatan untuk mengenal dunia lebih lama. Bocah malang ini dipaksa akrab dengan gemuruh ledakan bahkan sebelum ia sempat mengeja kata pertamanya. Di samping jasad Siwar, sang ibu terbujur kaku, meninggalkan suaminya sendirian memeluk kepedihan yang tak mampu diwakili oleh kata-kata.

Ironi Gencatan Senjata Semu

Basi bagi penduduk Gaza, tragedi yang menimpa keluarga Abu Draz adalah bukti nyata dari apa yang mereka sebut sebagai “gencatan senjata tiruan”. Sejak kesepakatan tersebut resmi berjalan pada Oktober 2025, jet tempur dan drone Israel nyatanya tidak pernah benar-benar berhenti merudal berbagai sudut di kantong eksklave tersebut.

Serangan yang menyasar tenda keluarga Sair menjadi rantai baru dari pemboman sistematis terhadap kamp-kamp pengungsian, mengabaikan status wilayah tersebut yang telah diberi label sebagai zona perlindungan kemanusiaan.

Data resmi dari Kantor Informasi Pemerintah di Gaza memaparkan skala pelanggaran yang masif sepanjang periode gencatan senjata hingga 29 Juni 2026:

  • Total Pelanggaran Gencatan Senjata: 3.465 kali pelanggaran oleh militer Israel.
  • Korban Jiwa: 1.045 warga Palestina gugur.
  • Korban Luka: 3.380 orang mengalami cedera fisik.
  • Penahanan Sepihak: 113 warga sipil ditangkap selama periode gencatan senjata berjalan.

Secara akumulatif sejak awal agresi pada Oktober 2023, perang ini telah memusnahkan lebih dari 2.200 keluarga Palestina tanpa sisa dari kartu catatan sipil. Sementara itu, terdapat lebih dari 5.120 keluarga lainnya yang kini hanya menyisakan satu orang penyintas tunggal untuk melanjutkan hidup.

Kembali ke Puing yang Kosong

Usai proses pemakaman dan ritual perpisahan yang singkat, Sair tidak memiliki pilihan tempat tinggal lain selain kembali ke tenda yang sama. Tenda yang telah merampas seluruh dunianya.

“Saya berjalan kembali ke tenda yang sama, tempat di mana beberapa jam lalu saya berpikir akan pulang bersama istri dan anak saya. Kini saya kembali sendirian. Bau darah dan sisa hangus terbakar masih menyengat di sini,” bisik Sair dengan tatapan nanar.

Dalam hitungan menit, eksistensi sebuah keluarga kecil terhapus. Kini, sang ayah berdiri tegak sendirian menjadi saksi hidup atas sebuah kejahatan perang yang ia tegaskan “tidak akan pernah hilang dari ingatan selama hayat masih dikandung badan.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here