Militer Israel pada Senin malam mengakui telah menembaki gedung Palang Merah Internasional di Rafah, Gaza selatan. Sementara itu, PBB mengonfirmasi bahwa serangan terhadap kompleksnya di Gaza pekan lalu, yang menewaskan seorang staf asal Bulgaria, berasal dari tank Israel.
Dalam pernyataannya, tentara Israel mengklaim pasukannya menembaki gedung di Rafah setelah mendeteksi keberadaan “tersangka” dan merasa terancam. Namun, tidak ada korban jiwa, hanya kerusakan ringan. Setelah pemeriksaan, mereka menyatakan bahwa tembakan itu salah sasaran dan menargetkan gedung Palang Merah. Insiden ini akan diselidiki lebih lanjut.
Komite Internasional Palang Merah mengonfirmasi bahwa salah satu kantornya di Rafah terkena tembakan pada Senin, tetapi tidak ada korban luka. Mereka mengecam keras serangan tersebut karena berdampak langsung pada operasi kemanusiaan mereka, meskipun tidak menyebut pihak yang bertanggung jawab.
Serangan dari Tank Israel
Di New York, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stéphane Dujarric, menyatakan bahwa serangan terhadap kompleks PBB di Deir Al-Balah pada 19 Maret berasal dari tank Israel. Serangan ini menewaskan seorang staf asal Bulgaria dan melukai enam lainnya dari Prancis, Moldova, Makedonia Utara, Inggris, dan Palestina.
Dujarric menegaskan bahwa lokasi kompleks PBB telah diketahui oleh semua pihak dalam konflik ini. Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mengecam keras serangan tersebut dan menuntut penyelidikan menyeluruh, independen, dan transparan.
Israel sebelumnya menyatakan sedang menyelidiki insiden tersebut, tetapi membantah telah menyerang kompleks PBB di Deir Al-Balah. Hamas, di sisi lain, menyalahkan Israel atas serangan tersebut.
PBB Kurangi Kehadiran di Gaza
Dengan meningkatnya serangan udara dan operasi darat Israel, PBB mengumumkan bahwa mereka akan mengurangi jumlah staf internasionalnya di Gaza untuk alasan keamanan dan operasional. Jumlah staf internasional akan dikurangi sekitar sepertiga dari sekitar 100 orang yang bertugas di sana.
Pengurangan ini mencakup staf UNICEF, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Program Pangan Dunia (WFP), dan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA). Namun, Dujarric menegaskan bahwa PBB tidak akan meninggalkan Gaza dan masih memiliki sekitar 13.000 staf dari UNRWA yang berperan vital dalam bantuan kemanusiaan.