Kementerian Kesehatan Gaza mengumumkan delapan pasien dengan sindrom Guillain-Barré (GBS) meninggal dunia akibat kebijakan kelaparan sistematis yang dijalankan Israel.

Direktur Jenderal Kemenkes Gaza, Munir al-Bursh, dalam pernyataannya di platform X menjelaskan bahwa di tengah kondisi kelaparan yang sudah diakui PBB, kasus GBS meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir. Puluhan pasien kini membutuhkan ventilator agar tetap hidup.

Menurutnya, delapan pasien meninggal setara dengan 10,6% dari seluruh penderita GBS di Gaza. Sementara pasien lain menghadapi risiko kematian perlahan akibat ketiadaan perawatan medis memadai.

Al-Bursh menekankan, faktor utama yang memperburuk kondisi pasien adalah air minum yang tercemar, kelangkaan makanan, gizi buruk, serta ketiadaan obat-obatan penting seperti imunoglobulin dan plasma exchange. Tanpa dukungan medis, puluhan pasien terancam kehilangan nyawa.

Penyakit Langka di Tengah Krisis

Sindrom Guillain-Barré adalah penyakit autoimun langka yang dimulai dari kelemahan otot pada kaki dan dapat menjalar ke sistem saraf pusat, bahkan memengaruhi saraf pernapasan. Dalam kondisi normal, pasien dengan GBS masih bisa ditangani dengan terapi khusus. Namun di Gaza, kelangkaan obat, runtuhnya sistem kesehatan, serta blokade Israel telah mengubah penyakit langka ini menjadi ancaman mematikan.

Al-Bursh menggambarkan situasi Gaza dengan kalimat tegas: “Air yang tercemar, makanan yang langka, dan gizi buruk kini menjadi musuh tak kasat mata. Mereka mendahului roket dan merenggut nyawa secara senyap.”

Nadi Kemanusiaan yang Terputus

Sejak 2 Maret 2024, Israel menutup seluruh perlintasan menuju Gaza, mencegah masuknya bantuan kemanusiaan, meskipun ribuan truk bantuan menumpuk di perbatasan. Data resmi menunjukkan hanya 2.654 truk bantuan yang masuk selama 30 hari, jauh dari kebutuhan minimal Gaza yang diperkirakan mencapai 18 ribu truk.

Akibatnya, PBB memperingatkan percepatan laju kelaparan di Gaza. Hingga Rabu (27/8), Kementerian Kesehatan mencatat 313 warga Palestina meninggal akibat kelaparan, termasuk 119 anak-anak, selain puluhan ribu korban akibat bombardir.

Analisis: Kelaparan Sebagai Senjata

Kasus kematian pasien GBS menyoroti dimensi baru dari strategi militer Israel: kelaparan digunakan sebagai instrumen perang. Dengan menghancurkan sistem kesehatan, memutus pasokan makanan, dan menutup akses obat-obatan, Israel tidak hanya membunuh dengan senjata, tetapi juga dengan waktu.

Dalam konteks ini, seruan internasional bukan lagi soal kecaman, melainkan tindakan nyata: pembukaan jalur kemanusiaan, distribusi obat darurat, dan penghentian blokade total. Sebab tanpa itu, angka kematian di Gaza akan terus bertambah, baik karena rudal maupun karena perut kosong yang dipaksa berhenti bernafas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here