AL-QUDS — Pekan ini, Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, dengan sengaja memamerkan sebuah video di media sosial. Isinya memperlihatkan dirinya tengah mengolok-olok dan merendahkan para aktivis kemanusiaan kapal Sumud Flotilla yang diculik oleh pasukan keamanan Tel Aviv.
Dalam salah satu cuplikan, seorang aktivis perempuan yang tangannya terborgol meneriakkan kalimat “Free Palestine” saat Ben-Gvir berjalan santai di depannya. Detik itu juga, rambut aktivis tersebut dijambak secara kasar dan tubuhnya dihempaskan ke tanah oleh petugas keamanan. Ben-Gvir menyaksikan kebrutalan itu dengan wajah semringah penuh kepuasan.
Pada cuplikan lain, puluhan tahanan dipaksa berlutut dengan dahi menempel di lantai dalam posisi yang menyiksa, sementara lagu kebangsaan rezim Israel sengaja diputar keras-keras dari pengeras suara. Di depan para tahanan yang tak berdaya itu, Ben-Gvir melambaikan bendera besar Israel sambil berteriak congkak: “Selamat datang di Israel, kami yang berkuasa di sini.”
Ben-Gvir tahu betul ia bisa bertindak sewenang-wenang seperti itu tanpa perlu takut menghadapi konsekuensi serius. Mengapa dia harus berpikir sebaliknya? Israel baru saja lolos dari jerat hukum atas tindakan genosida yang disiarkan secara langsung (livestreamed) ke hadapan penonton global di seluruh dunia.
Kecaman memang berdatangan, terutama dari pemerintah yang warga negaranya ikut menjadi korban penahanan. Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, menyebut rekaman itu “tidak dapat diterima” dan merupakan pelanggaran nyata terhadap martabat manusia. PM Spanyol, Pedro Sanchez, menyatakan tidak akan menoleransi penyiksaan terhadap warganya.
Sanchez mengumumkan akan mendesak Uni Eropa untuk menjatuhkan sanksi khusus kepada Ben-Gvir, setelah sebelumnya melarang menteri radikal tersebut menginjakkan kaki di Spanyol. Bahkan, Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, turut berkomentar bahwa Ben-Gvir telah “mengkhianati martabat bangsanya sendiri”.
Sanksi Kosmetik di Tengah Mesin Genosida
Namun, sekencang apa pun kemarahan internasional yang meledak saat ini, menjatuhkan sanksi kepada Ben-Gvir hanyalah menyasar satu gigi roda kecil dari sebuah mesin genosida yang jauh lebih besar. Ini adalah taktik usang yang serupa dengan apa yang dilakukan negara-negara Eropa saat menghadapi pembangunan pemukiman ilegal di Tepi Barat yang diduduki.
Mereka menjatuhkan sanksi kepada segelintir pemukim yang melakukan kekerasan, namun membiarkan struktur negara yang merencanakan, mendanai, dan melindungi proyek pemukiman ilegal itu tetap utuh tanpa disentuh. Langkah kosmetik ini sengaja diciptakan untuk memberi kesan adanya hukuman, tanpa pernah mengusik sistem yang memproduksinya.
Ini jelas bukan sebuah pertanggungjawaban hukum (accountability). Ini hanyalah cara komunitas internasional menarik garis batas yang aman, agar mereka tidak terlihat ikut bersalah dan merasa tangan mereka tetap bersih.
Ben-Gvir tidak membangun penjara-penjara itu sendiri. Dia bukan satu-satunya orang yang memerintahkan penyiksaan sistematis di dalamnya, atau yang memberlakukan blokade laut yang coba ditembus oleh armada flotilla.
Dia hanyalah salah satu menteri dalam sebuah pemerintahan yang menjalankan agenda genosida dengan dukungan logistik militer dan diplomatik dari negara-negara Barat, yang kini justru mengantre untuk mengecamnya. Menyingkirkan Ben-Gvir dari posisinya tidak akan mengubah apa pun. Penjara-penjara keji itu akan tetap berdiri, blokade Gaza akan tetap mencengkeram, dan genosida akan terus berjalan.
Panik karena Boroknya Telanjur Kelihatan
Unggahan video tersebut rupanya juga memicu kegaduhan internal di dalam lingkaran kekuasaan Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu secara terbuka menegur Ben-Gvir dengan mengatakan bahwa perilakunya “tidak sejalan dengan nilai dan norma Israel”.
Menteri Luar Negeri Gideon Saar bahkan langsung melabrak Ben-Gvir melalui akun X miliknya: “Anda dengan sengaja telah merugikan negara kita lewat tontonan yang memalukan ini—dan ini bukan yang pertama kalinya.” Saar menambahkan bahwa tindakan Ben-Gvir telah “merusak kerja keras, profesional, dan sukses yang telah dibangun oleh begitu banyak orang.”
Bagi Saar dan Netanyahu, masalah utamanya bukanlah pada apa yang dilakukan oleh Ben-Gvir terhadap para tahanan, melainkan karena menteri tersebut memamerkannya secara terang-terangan di depan kamera. Kekhawatiran mereka murni soal citra (optics).
Video tersebut telah menelanjangi dan memperlihatkan secara jelas kepada publik Eropa—terlebih melibatkan warga negara Eropa, apa yang selama ini sebetulnya sudah menjadi praktik standar harian Israel terhadap warga Palestina.
Apa yang dipertontonkan dalam video tersebut bukanlah sebuah anomali atau kejadian luar biasa. Saat ini, lebih dari 9.600 warga Palestina mendekam di fasilitas penahanan rezim Israel. Dari jumlah tersebut, lebih dari 3.500 orang ditahan di bawah status penahanan administratif (administrative detention), artinya mereka dipenjara tanpa batas waktu, tanpa dakwaan resmi, dan tanpa proses peradilan sama sekali. Di antara para tahanan tersebut, terdapat ratusan anak-anak.
Para tahanan Palestina ini dipaksa menghadapi kelaparan yang sistematis, pemukulan brutal, penolakan akses perawatan medis, hingga kekerasan seksual mulai dari penelanjangan paksa hingga pemerkosaan. Setidaknya 84 tahanan Palestina telah tewas di dalam tahanan Israel sejak Oktober 2023 akibat penyiksaan, kelaparan, dan pembiaran medis.
Hampir setiap rumah tangga di Palestina memiliki anggota keluarga yang pernah dipenjara pada satu titik dalam hidup mereka—sebuah pengalaman traumatis yang gaungnya melintasi generasi dan meninggalkan luka batin yang mendalam bagi keluarga dan komunitas, bahkan lama setelah mereka dibebaskan.
Gideon Saar mengakhiri tegurannya kepada Ben-Gvir dengan bersikeras menegaskan bahwa tindakan brutal tersebut “bukanlah wajah Israel”.
Saar sepenuhnya salah. Apa yang dilakukan Ben-Gvir justru adalah wajah asli Israel yang sebenarnya: penuh kekerasan, buruk rupa, dan sangat kejam.
_______
Sumber: Yawa Hawari, Co-director of Al-Shabaka, the Palestinian Policy Network










