Perang Israel di Jalur Gaza telah meluluhlantakkan berbagai sektor ekonomi, termasuk industri dan fasilitas produksi. Di wilayah timur Kota Gaza, sejumlah pabrik dan tempat usaha dilaporkan hancur total, meninggalkan kerusakan yang nyaris tak menyisakan harapan untuk segera bangkit.
Dampaknya langsung dirasakan ribuan pekerja yang kehilangan sumber penghidupan. Mereka kini terjebak dalam kondisi kemiskinan dan ketidakpastian, sementara para pemilik pabrik dan usaha kecil menghadapi kebuntuan untuk memulai kembali aktivitas ekonomi di tengah skala kehancuran dan kepungan yang terus berlangsung.
Koresponden Al Jazeera di Gaza, Shadi Shamia, merekam langsung potret penderitaan warga di wilayah timur Kota Gaza setelah Israel menghancurkan pabrik-pabrik dan sumber penghidupan mereka. Fasilitas industri dan komersial yang sebelumnya berkontribusi pada perekonomian lokal serta menyerap ribuan tenaga kerja kini rata dengan tanah.
Salah seorang warga menuturkan, satu pabrik di kawasan tersebut sebelumnya menjadi tumpuan hidup lebih dari 200 keluarga. Seluruh penghidupan itu lenyap seketika setelah serangan Israel menghancurkan fasilitas tersebut.
Al Jazeera juga menyoroti kisah Ahmad Habboub, seorang pengusaha lokal yang berdiri di atas puing-puing pabrik sepatu miliknya yang hancur total di timur Kota Gaza. Pabrik itu sebelumnya mempekerjakan puluhan pekerja dan menjadi sumber nafkah utama bagi banyak keluarga.
Ahmad mengatakan, Israel secara sengaja menargetkan pabrik dan infrastruktur ekonomi Gaza dengan tujuan melemahkan kemandirian ekonomi wilayah tersebut dan menjadikannya bergantung sepenuhnya pada Israel.
Pandangan serupa disampaikan analis ekonomi Muhammad Abu Jiab. Ia menilai Israel menjalankan kebijakan penghancuran sistematis terhadap sektor industri dan perdagangan Gaza. Menurutnya, lebih dari 90 persen sektor perdagangan telah hancur, sementara aktivitas ketenagakerjaan lumpuh total, mendorong tingkat pengangguran melampaui 80 persen, berdasarkan data Pusat Statistik Palestina.
Serangan Israel ke Gaza tidak hanya menimbulkan korban syahid dan luka dalam jumlah besar, tetapi juga menghancurkan fondasi ekonomi dan infrastruktur sipil, memperparah krisis kemanusiaan yang terus membelit wilayah tersebut.
Sumber: Al Jazeera










