GAZA – Di bawah langit Gaza yang pekat oleh asap mesiu, garis batas antara pencatat sejarah dan pembuat sejarah telah lama kabur. Bagi para jurnalis lokal di sana, pekerjaan mereka hari ini adalah sebuah paradoks yang menyakitkan: mereka harus mendokumentasikan kehancuran kota, mengabarkan berita kematian, sekaligus meratapi rumah mereka sendiri yang hancur dan keluarga mereka yang terbunuh dalam waktu yang bersamaan.
Menjadi jurnalis di Gaza bukan lagi sekadar urusan profesionalitas di ruang redaksi, melainkan pertaruhan nyawa di lapangan yang paling mematikan. Sejak badai konfrontasi kembali memuncak, para reporter dan fotografer dipaksa mengambil keputusan berat. Demi tugas, mereka harus mengisolasi diri dari anak dan istri, menukar pakaian rumahan dengan rompi antipeluru biru bertuliskan “PRESS”, dan menenteng kamera ke pusat-pusat ledakan.
Namun, di balik lensa kamera yang dingin, mereka tetaplah manusia biasa yang didera kelelahan mental luar biasa (burnout). Mereka hidup berpindah-pindah di tenda darurat, berjarak ratusan kilometer dari orang-orang tercinta, dan terus mencari secercah dukungan moral di tengah situasi yang kian menguras air mata.
“Kami memilih profesi ini untuk membawa pesan kehidupan, bukan untuk mencari kematian. Kami tidak diciptakan di atas tanah ini hanya untuk mati di ujung peluru, kami lahir untuk hidup dan membangun peradaban di sini,” ujar sekelompok jurnalis lokal dalam program “Voices from Gaza” (Aswat min Ghazza).
Ketika Dunia Mulai Bosan dan Menganggap Gaza Seperti ‘Sinetron’
Tantangan terbesar para kuli tinta di Gaza hari ini bukan lagi sekadar menghindari pecahan artileri Israel, melainkan melawan ketidakpedulian global. Ada rasa getir yang mendalam ketika mereka menyadari bahwa perhatian dunia mulai menyusut drastis dibandingkan dengan awal-awal pecahnya perang.
Masyarakat internasional perlahan mulai terbiasa melihat gambar-gambar balita yang tertimbun reruntuhan atau tangisan histeris para ibu di rumah sakit. Bagi sebagian pemirsa layar kaca di luar sana, penderitaan di Jalur Gaza pelan-pelan bergeser layaknya sebuah “serial drama” atau sinetron harian yang telah kehilangan efek kejutnya.
Meskipun dunia mulai jenuh, para pekerja media ini menolak untuk menurunkan kamera mereka. Bagi mereka, mendokumentasikan setiap jengkal kehancuran adalah misi kemanusiaan tertinggi. Tugas utama mereka telah berevolusi: bukan lagi sekadar mengirimkan potret visual ke kantor berita, melainkan sebuah ikhtiar darurat untuk menyelamatkan nyawa manusia yang tersisa, bahkan jika bab penutup dari tugas tersebut adalah kematian mereka sendiri.
Rekor Paling Berdarah dalam Sejarah Pers Modern
Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Realitas di lapangan membuktikan bahwa status gencatan senjata atau kesepakatan damai di atas kertas sering kali tidak berlaku bagi keselamatan para jurnalis.
Pada Sabtu kemarin (20/6/2026), sebuah bom yang dijatuhkan militer Israel di wilayah Gaza tengah merenggut nyawa Ahmed Wishah, seorang jurnalis foto dan videografer untuk jaringan Al Jazeera Mubasher. Ahmed tewas bersama dua warga sipil lainnya dalam serangan udara yang menghancurkan sebuah rumah warga.
Kematian Ahmed Wishah memperpanjang daftar hitam pembantaian terhadap pekerja media. Berdasarkan data resmi dari Forum Media Palestina (Palestinian Media Forum), jumlah jurnalis yang tewas sejak awal agresi kini telah menembus angka 263 orang syahid.
Angka 263 jurnalis yang tewas ini menempatkan krisis Gaza sebagai konflik paling mematikan bagi profesi pers dalam sejarah modern. Sebagai perbandingan, jumlah pekerja media yang gugur di Gaza jauh melampaui total korban jurnalis dalam Perang Dunia II atau Perang Vietnam yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Sejak badai genosida ini berkecamuk pada Oktober 2023 hingga pertengahan tahun 2026 ini, korban jiwa dari masyarakat sipil telah melampaui 73.000 orang. Dengan kondisi 90% infrastruktur kota yang telah rata dengan tanah, para jurnalis Gaza yang masih bertahan hidup terus memanjangkan napas perjuangan mereka. Mereka tahu, jika kamera mereka mati, maka runtuh pulalah saksi kunci atas hilangnya kemanusiaan di tanah Gaza.










