Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza melaporkan, dalam 24 jam terakhir, rumah sakit di wilayah itu menerima empat korban syahid dan 12 orang terluka. Dengan tambahan ini, total korban akibat agresi Israel sejak 7 Oktober 2023 mencapai 72.289 syuhada dan 172.040 korban luka.

Angka tersebut, menurut otoritas kesehatan setempat, belum mencerminkan keseluruhan situasi di lapangan. Masih banyak korban yang tertimbun di bawah reruntuhan atau tergeletak di jalanan, tanpa bisa dijangkau tim evakuasi. Serangan yang terus berlangsung serta ketiadaan jaminan keamanan membuat ambulans dan petugas pertahanan sipil kesulitan bergerak.

Kementerian Kesehatan juga mencatat, sejak gencatan senjata diberlakukan pada 11 Oktober lalu, jumlah korban terus bertambah. Sedikitnya 713 warga Palestina syahid dan 1.940 lainnya terluka dalam periode tersebut.

Selain itu, tim penyelamat berhasil mengevakuasi 756 jenazah dari bawah reruntuhan di berbagai wilayah Gaza, sebuah indikasi bahwa masih banyak korban yang sebelumnya tidak terdata.

Otoritas kesehatan menegaskan, angka yang dirilis sejauh ini hanya mencakup korban yang berhasil dibawa ke fasilitas medis. Sementara kondisi di lapangan menunjukkan jumlah korban kemungkinan jauh lebih besar.

Banyak area masih sulit dijangkau akibat kerusakan infrastruktur, puing bangunan, serta ancaman serangan lanjutan yang belum berhenti.

Sejak pengumuman gencatan senjata, militer Israel dilaporkan membangun tujuh titik militer baru di sepanjang garis pemisah. Lima di antaranya telah dipersiapkan untuk operasi jangka panjang, lengkap dengan infrastruktur pendukung.

Dalam perkembangan berikutnya, kehadiran militer meluas melampaui garis tersebut. Blok beton dipasang, bangunan dihancurkan, dan warga dipaksa meninggalkan tempat tinggal mereka.

Dampaknya terasa langsung: sekitar 2,1 juta warga Palestina kini terdesak di area yang luasnya kurang dari separuh wilayah yang mereka huni sebelum perang. Dalam ruang yang menyempit itu, krisis kemanusiaan semakin dalam, akses terhadap pangan, air bersih, dan layanan kesehatan kian terbatas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here