AL-QUDS – Suasana menjelang shalat Jumat di Kota Suci Al-Quds berubah menjadi mencekam, Jumat (15/5). Kelompok pemukim ekstremis Israel secara brutal menyerang warga dan jamaah Muslim di pemukiman Wadi al-Joz, sebuah wilayah yang berbatasan langsung dengan kompleks Masjid Al-Aqsa.
Bukannya meredam aksi kekerasan tersebut, aparat keamanan Israel justru menangkap sembilan warga Palestina setelah mereka babak belur dianiaya oleh para pemukim.
Menurut laporan saksi mata di lapangan, para pemukim menyerang jamaah dengan tangan kosong dan tendangan. Sejumlah lansia bahkan tak luput dari sasaran anarkisme tersebut. Saat warga berusaha membela diri dari serangan membabi buta itu, polisi Israel justru melakukan intervensi dengan membekuk warga Palestina dan menggiring mereka ke pusat interogasi Al-Qashla.
Akses Shalat yang Terpasung
Bersamaan dengan aksi kekerasan di jalanan, kepolisian Israel melakukan pengetatan akses secara sistematis. Pintu-pintu utama menuju Al-Aqsa, seperti Bab al-Asbat dan Pintu Raja Faisal, ditutup rapat bagi jamaah yang hendak menunaikan kewajiban ibadah mereka.
“Polisi juga memberlakukan pembatasan ketat bagi pemuda Palestina yang ingin masuk ke dalam masjid,” lapor sumber lokal. Langkah ini menambah daftar panjang hambatan bagi umat Islam untuk beribadah secara bebas di tempat suci ketiga mereka.
Provokasi dari Pucuk Kekuasaan
Ketegangan hari ini sejatinya merupakan buntut dari aksi provokatif Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir. Pada Kamis kemarin, menteri beraliran ekstrem kanan tersebut memimpin penyerbuan ke dalam pelataran Masjid Al-Aqsa bersama 1.336 pemukim di bawah pengawalan ketat polisi.
Di dalam kompleks Al-Haram asy-Syarif, Ben-Gvir melakukan tindakan yang sangat ofensif dengan mengibarkan bendera Israel. Ia melontarkan pernyataan yang menyulut kemarahan umat Islam sedunia: “Kami telah mengembalikan kedaulatan dan pemerintahan ke Gunung Baitullah (Al-Aqsa), dan seluruh Yerusalem adalah milik kita,” klaimnya dengan nada pongah.
Aksi ini semakin memanas ketika Ben-Gvir bersama Menteri Keuangan Bezalel Smotrich bergabung dalam “Pawai Bendera” di Kota Tua Yerusalem. Ribuan pemukim yang ikut dalam pawai tersebut meneriakkan slogan-slogan rasis yang mengerikan, termasuk seruan “Mampuslah bangsa Arab”.
Tak hanya teriakan, massa juga melakukan ritual keagamaan Yahudi yang dilarang di kompleks tersebut, termasuk melakukan “sujud epik” dan berbagai simbolisme yang secara terang-terangan melecehkan status quo Al-Aqsa.
Yerusalem hari ini bukan hanya tentang perebutan ruang, tapi tentang martabat sebuah bangsa yang terus dicabik-cabik oleh kebijakan rasis yang dilegalkan oleh kekuasaan. Al-Aqsa tidak sedang baik-baik saja.
Sumber: Pusat Informasi Palestina










