Otoritas Penyiaran Israel mengungkap, Israel mengizinkan anggota geng pengkhianat “Milisi Yasser Abu Shabab” terlibat dalam pemeriksaan warga Palestina yang masuk dan keluar melalui Perlintasan Rafah, jalur darat yang menghubungkan Gaza dan Mesir.
Dalam laporan yang dipublikasikan Rabu malam (11/2/2026), lembaga penyiaran resmi itu menyebut langkah tersebut dilakukan “dengan harapan pihak ini dapat mengambil alih tugas tersebut secara permanen.”
Sebuah foto yang diambil awal pekan ini di sisi Palestina perlintasan memperlihatkan Ghassan al-Dahini (yang disebut sebagai pimpinan milisi) bersama sejumlah anggotanya. Sumber yang sama menyebutkan indikasi kuat bahwa elemen milisi tersebut berada di sekitar perlintasan, wilayah yang berada di bawah kendali Israel, dan kehadiran mereka terjadi atas persetujuan otoritas pendudukan.
Israel sendiri pada 2 Februari lalu kembali membuka sisi Palestina dari Perlintasan Rafah yang didudukinya sejak Mei 2024. Namun pembukaan itu sangat terbatas, dengan pembatasan ketat yang tetap menempatkan kendali penuh di tangan militer Israel.
Sebelumnya, harian Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa Israel secara diam-diam mendukung milisi bersenjata di Gaza (melalui pendanaan, suplai senjata, dan perlindungan lapangan) untuk digunakan dalam menghadapi Hamas. Laporan itu menyebut kelompok-kelompok tersebut beroperasi di wilayah penyebaran tentara Israel berdasarkan skema yang disesuaikan dengan kesepakatan gencatan senjata.
Menurut surat kabar tersebut, militer Israel memanfaatkan milisi-milisi ini untuk tugas-tugas taktis terbatas, seperti pengejaran dan penangkapan, termasuk mengirim anggota mereka menyusuri terowongan atau menyisir puing-puing guna mencari pejuang Hamas.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Juni lalu secara terbuka mengakui bahwa Israel mempersenjatai milisi di Gaza untuk digunakan melawan Hamas, sebuah pengakuan yang memperkuat dugaan adanya strategi “proksi lokal” dalam operasi militer Israel.
Namun Yasser Abu Shabab, pendiri sekaligus mantan pemimpin geng itu, tewas ditembak dalam bentrokan antarsuku di Gaza pada Desember lalu, sebagaimana dikonfirmasi media Israel. Suku Tarabin (klan tempat Abu Shabab berasal) bahkan menyatakan bahwa “darahnya telah menutup lembaran aib,” sebuah pernyataan yang menunjukkan adanya penolakan internal terhadap kiprah milisi tersebut.
Laporan ini menyingkap pola yang lebih luas: di tengah kontrol ketat atas perlintasan vital dan operasi militer yang terus berlangsung, Israel diduga tidak hanya mengandalkan kekuatan militernya sendiri, tetapi juga membangun jejaring milisi lokal sebagai perpanjangan tangan. Sebuah strategi yang, alih-alih meredakan situasi, justru berpotensi memperdalam fragmentasi dan konflik internal di Gaza.
Sumber: Al Jazeera, Media Israel










