Alaa Shahada, 33 tahun, seorang ibu dari empat anak di Kamp Pengungsi Jabalia, Gaza Utara, tahu apa itu takut sebelum perang. Namun, ia tidak pernah membayangkan bahwa mencari sekarung tepung bisa berakhir dengan membawa jenazah anaknya sendiri.

Sebelum serangan Israel Oktober 2023, hidup Alaa bersama suami dan anak-anaknya relatif sederhana, meski dibatasi 16 tahun blokade. Suaminya, Mahmoud, bekerja serabutan dan sempat pergi mencari pekerjaan jauh sebelum perang, meninggalkan Alaa dan anak-anak dengan harapan masa depan.

Ketika perang pecah, semua berubah. Rumah mereka hancur, kawasan menjadi zona bahaya, dan Alaa terpaksa mengungsi ke berbagai sekolah di Gaza, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, di bawah ancaman bom dan panggilan telepon dari aparat Israel.

Perjalanan panjang mencari makanan menjadi bagian hidup sehari-hari. Anaknya berdiri berjam-jam di antrean untuk sepiring lentil, nasi, dan kacang, cukup untuk menahan lapar, tapi selalu diiringi risiko mati akibat serangan.

Ketika gencatan senjata Januari 2025 diumumkan, Alaa kembali ke Jabalia. Rumahnya rata dengan tanah, lingkungan hancur, dan ia hanya mampu mendirikan tenda di antara reruntuhan. Namun, harapan itu singkat: serangan kembali terjadi pada Maret 2025, pembatasan bantuan makanan dan obat-obatan membuat kelaparan lebih parah dari sebelumnya.

Pada malam 21 Juli 2025, Alaa pergi lagi mencari tepung untuk anak-anaknya. Dalam kekacauan tembakan dan serangan udara, tenda tempat mereka tinggal hancur. Alaa menemukan putrinya, Sila, berusia delapan tahun, tewas terkena pecahan peluru. Anak lainnya, Farah dan Sand, terluka parah, sementara rumah sakit penuh sesak, obat menipis, dan operasi sulit dilakukan.

Alaa berkata dengan suara yang berat: “Apa salah Sila? Apa kejahatan seorang anak yang mati karena kelaparan, hanya karena menunggu sepotong roti?”

Sumber: Palestinian Information Center

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here