Penjajah Israel akhirnya mengumumkan pembukaan kembali Masjid Al-Aqsa dan Gereja Makam Suci di Al-Quds, mulai Kamis (9/4/2026). Keputusan ini disampaikan kepolisian Israel pada Rabu malam (8/4), setelah 40 hari penutupan total sejak pecahnya perang terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Dalam pernyataan resminya, polisi Israel menyebut pembukaan dilakukan menyusul “pembaruan instruksi dari Komando Front Dalam Negeri.” Otoritas menyatakan, mulai Kamis pagi, seluruh tempat suci di Al-Quds akan kembali dibuka untuk pengunjung dan pelaksanaan ibadah.

Namun, keputusan ini datang setelah serangkaian pembatasan ketat yang memicu sorotan. Sejak 28 Februari, penjajah menutup sepenuhnya akses ke Masjid Al-Aqsa dengan dalih mencegah kerumunan, mengaitkannya dengan situasi perang Israel–AS melawan Iran. Penutupan itu praktis memutus akses umat Muslim ke salah satu situs suci terpenting mereka.

Tidak hanya itu. Untuk pertama kalinya sejak penjajahan Al-Quds Timur pada 1967, otoritas Israel juga melarang pelaksanaan salat Idul Fitri di kompleks Al-Aqsa tahun ini. Larangan ini menjadi catatan baru dalam sejarah pembatasan ibadah di kawasan tersebut.

Di saat yang sama, kebijakan berbeda justru diterapkan. Israel tetap mengizinkan warga Yahudi melaksanakan ritual di Tembok Al-Buraq—yang mereka sebut Tembok Barat—bertepatan dengan perayaan Paskah Yahudi yang berlangsung sejak 2 April dan berakhir Rabu ini.

Kebijakan yang kontras ini kembali menegaskan pola pengelolaan tempat suci di Al-Quds yang kerap dipandang tidak seimbang, terutama dalam konteks akses dan kebebasan beribadah.

(Sumber: Kantor berita)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here