Serangan terhadap jurnalis di Gaza kembali terjadi. Muhammad Wishah, koresponden Al Jazeera Mubasher, syahid pada Rabu (9/4) setelah kendaraan yang ditumpanginya dihantam drone Israel di wilayah barat Kota Gaza.
Serangan itu terjadi di Jalan Al-Rashid, dekat persimpangan Al-Nabulsi. Menurut keterangan otoritas pertahanan sipil Gaza, sebuah drone menembakkan rudal langsung ke mobil yang dikendarai Washah. Kendaraan tersebut terbakar habis, dan ia bersama satu orang rekannya syahid di lokasi.
Petugas pemadam kebakaran dan tim penyelamat bergegas ke lokasi untuk memadamkan api dan mengevakuasi jasad korban. Keduanya kemudian dibawa ke Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di tengah kondisi lapangan yang disebut sulit.
Insiden ini bukan berdiri sendiri. Rekan sesama jurnalis, Shadi Shamia, menyebut Wishah sebelumnya menjadi target kampanye hasutan dari juru bicara militer Israel sejak awal agresi terakhir di Gaza. Ia menilai pola tersebut mengarah pada upaya sistematis membungkam suara media dan menghilangkan saksi lapangan.
Pernyataan serupa datang dari juru bicara pertahanan sipil Gaza, Mahmoud Basal. Ia mengungkapkan bahwa Wishah sebelumnya juga pernah menjadi sasaran percobaan pembunuhan selama meliput genosida di Gaza.
“Dia bukan sekadar jurnalis. Dia adalah mata yang merekam kebenaran,” kata Basal. Menurutnya, Washah tidak hanya melaporkan peristiwa, tetapi juga aktif membantu menyuarakan kondisi korban dan hambatan yang dihadapi tim penyelamat di lapangan.
Palestinian Journalists Syndicate mengecam keras insiden tersebut. Dalam pernyataannya, organisasi itu menyebut pembunuhan Wishah sebagai “kejahatan lengkap” dan menilai peristiwa ini sebagai bentuk eksekusi lapangan terhadap jurnalisme dan fakta.
Mereka mendesak penyelidikan internasional yang independen dan transparan, serta perlindungan segera bagi jurnalis yang masih bekerja di Gaza di tengah risiko yang terus meningkat.
Wishah berasal dari Kamp Al-Bureij, Gaza tengah. Ia memiliki pengalaman lebih dari dua dekade sebagai jurnalis, meliput berbagai perang di Gaza, termasuk perang pada 2012, 2014, hingga agresi terbaru. Di layar Al Jazeera Mubasher, ia dikenal konsisten melaporkan kondisi pengungsi dan mendokumentasikan dampak serangan di lapangan.
Sumber: Al Jazeera









