TEL AVIV — Di tengah berkepanjangannya agresi di Jalur Gaza yang melahirkan lanskap politik dan militer yang luar biasa pelik, sebuah kesadaran pahit kini mulai mencuat dan mengakar kuat di dalam internal institusi keamanan dan intelijen Israel.
Masa depan Jalur Gaza tidak lagi bisa diukur dari sejauh mana kemampuan militer untuk melenyapkan Gerakan Perlawanan Islam (Hamas). Sebaliknya, Tel Aviv mulai dipaksa mengakui bahwa Hamas adalah bagian integral dari fondasi wilayah tersebut yang mustahil dihapus dari kalkulasi geopolitik.
Pendekatan realistis ini (sebagaimana dilaporkan oleh situs berita Israel, Walla, yang mengutip dokumen penilaian terbaru dari badan keamanan Israel) bersandar pada serangkaian indikator faktual di lapangan.
Salah satu bukti paling sahih mengenai masih kokohnya pengaruh Hamas adalah absennya gejolak sosial atau gerakan massa dari warga Palestina untuk menentang kelangsungan pemerintahan Hamas, sekalipun masyarakat Gaza berada di bawah tekanan krisis kemanusiaan dan kelaparan yang sangat ekstrem akibat blokade.
Menurut laporan Walla, seruan yang sempat beredar masif di media sosial untuk menggelar aksi demonstrasi memprotes kondisi hidup di Gaza pada Jumat lalu, nyatanya sama sekali tidak direspons oleh masyarakat. Tidak ada pergerakan massa atau aksi turun ke jalan yang terealisasi.
Badan keamanan Israel menganalisis bahwa kegagalan gerakan protes tersebut bukan sekadar urusan faktor risiko keamanan di bawah bayang-bayang militer, melainkan bentuk pengakuan atas kapasitas Hamas yang dinilai masih sangat prima dalam mengendalikan teritori. Jaringan aparat dan elemen sayap militer mereka tetap tersebar di jalur-jalur utama dan persimpangan kota, memperlihatkan kontrol yang masih efektif di tengah kehancuran infrastruktur.
Skenario AS dan Pemerintah Teknokrat yang Tidak Realistis
Potret lapangan ini mempertebal keyakinan di kalangan lingkaran keamanan Tel Aviv bahwa Hamas telah berhasil memulihkan struktur organisasinya pasca-fase intensif perang. Kelompok ini dinilai mampu mereproduksi kembali instrumen-instrumen pemerintahan sipil mereka di atas puing-puing bangunan yang hancur.
Analisis intelijen ini bahkan melangkah lebih jauh dengan menyimpulkan bahwa rancangan internasional maupun regional mana pun yang mencoba mendepak Hamas dari tata kelola masa depan Gaza adalah sebuah rencana yang “sama sekali tidak realistis”.
“Hari ini telah tersaji bukti-bukti tak terbantahkan bahwa dua juta warga Palestina di luar pagar pembatas tidak menolak pemerintahan Hamas, terlepas dari operasi darat dan udara yang terus dilancarkan militer Israel,” tulis laporan Walla.
Situs berita tersebut menggarisbawahi bahwa kesimpulan ini merupakan pesan terbuka yang menampar proyek bentukan Amerika Serikat dan pemerintah teknokrat bentukan faksi sekuler yang mencoba mendesain realitas baru di Gaza lewat konsep “zona bebas Hamas”.
Dokumen internal itu seolah menegaskan, “Silakan masukkan semua rencana itu ke dalam laci, sebab selama Hamas memegang kendali di lapangan, tidak ada peluang sedikit pun bagi skenario asing untuk bekerja.”
Pandangan ini selaras dengan ulasan analitis dari pengamat militer senior Israel, Ron Ben-Yishai, di harian Yedioth Ahronoth. Ben-Yishai melontarkan kritik tajam terhadap jargon politik resmi pemerintah Israel yang terus-menerus mendengungkan narasi “kemenangan mutlak” (absolute victory) dan penumbangan Hamas.
Menurut Ben-Yishai, Hamas bukanlah entitas asing yang dicangkokkan secara paksa dari luar ke dalam tubuh Gaza. Gerakan ini merupakan representasi organisasional dari struktur sosial, kultural, dan politik yang mengakar kuat di tengah masyarakat Gaza. Hal inilah yang membuat upaya pemisahan antara populasi sipil dan faksi perlawanan tersebut menjadi jauh lebih rumit daripada sekadar retorika politik di mimbar-mimbar Tel Aviv.
Lonjakan Produksi Senjata dan Krisis Pengganti
Pada saat yang sama, stasiun televisi resmi Israel, Kan, melaporkan peringatan darurat dari jajaran perwira tinggi militer Israel yang ditujukan langsung kepada Kepala Staf Militer, Jenderal Eyal Zamir. Mereka memperingatkan bahwa Hamas saat ini tengah gencar membangun kembali kapasitas tempurnya guna bersiap menghadapi potensi pecahnya perang jilid berikutnya.
Sumber-sumber militer mengungkapkan bahwa pabrik-pabrik bawah tanah milik Hamas mampu memproduksi ratusan bom dan rudal antipasukan/antitantara setiap bulannya. Mereka juga aktif merekrut personel baru, melatih unit-unit pasukan elite (nukhba), berupaya menyelundupkan pesawat nirawak (drone) serta alat komunikasi canggih, hingga memulihkan kembali fungsionalitas jaringan terowongan bawah tanah mereka.
“Hamas sangat kuat di atas tanah dan tidak ada satu pun kekuatan lokal yang mampu mengancam posisinya,” ujar seorang pejabat militer senior Israel.
Di tengah rekomendasi militer Israel untuk kembali melanjutkan opsi ofensif, mereka terbentur oleh keberatan dari sekutu utama mereka, Amerika Serikat, yang melihat opsi militer tidak lagi efektif melahirkan solusi politik.
Bagi para pengamat, teka-teki mengenai siapa yang akan mengelola Gaza pasca-perang justru mencerminkan kepanikan dan kebingungan kolektif di kubu Israel dan sekutunya. Krisis utamanya kini bukan lagi soal meruntuhkan Hamas, melainkan ketiadaan alternatif yang kredibel untuk mengisi kekosongan kekuasaan jika kelompok tersebut absen.
Otoritas Palestina (PA) di Ramallah dinilai telah kehilangan legitimasi dan mengalami krisis kepercayaan akut di mata rakyat, sementara opsi mengerahkan pasukan multinasional atau kepolisian internasional membentur dinding penolakan keras dari internal kabinet Israel sendiri. Alhasil, skenario membuang Hamas dari peta pemerintahan Gaza dinilai hanya sekadar teori akademik yang indah di atas kertas, namun lumpuh total saat diuji di atas tanah Gaza.
Sumber: Diolah dari Laporan Walla, Yedioth Ahronoth, Kan, dan Haaretz










