Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, langit di atas Jalur Gaza terdengar sedikit berbeda. Dengung pesawat nirawak Israel (yang oleh warga setempat dijuluki “zananah”) tidak lagi meraung sekeras biasanya. Bagi mereka yang hidup di bawah tenda-tenda pengungsian, perubahan kecil itu terasa segera.
Malam menjadi sedikit lebih ringan.
Di balik dinding kain dan plastik tipis yang bahkan tak mampu meredam bisikan pelan, tubuh-tubuh lelah yang menetap di kamp-kamp pengungsian langsung menangkap perbedaan itu. Tanda-tandanya tampak dalam detail sederhana: tidur yang tak lagi terlalu sering terputus, sahur yang lebih tenang, dan anak-anak yang untuk sesaat menemukan ruang kecil untuk merasa aman.
Tak ada yang perlu menjadi analis militer untuk menebak penyebabnya. Banyak warga mengaitkan meredanya suara drone itu dengan memanasnya konflik di kawasan lain, terutama di Republik Islam Iran dan Lebanon dalam dua pekan terakhir.
Namun ketenangan itu tidak sepenuhnya menenteramkan.
Warga Gaza tahu betul, sunyi seperti ini sering kali hanya jeda pendek dalam perang yang belum menunjukkan tanda akan berhenti.
Bukan Berarti Serangan Berhenti
Meski suara drone berkurang, serangan militer belum berhenti. Ledakan dan tembakan masih terdengar, terutama di kawasan yang disebut warga sebagai “zona kuning”, wilayah militer yang kini mencakup hampir setengah area Gaza.
Selain itu, hilangnya drone juga tidak sepenuhnya total. Di beberapa wilayah utara, tengah, dan selatan Gaza, pesawat nirawak masih terbang, meski frekuensinya berkurang.
Malam yang Sedikit Lebih Tenang
Di sebuah tenda pengungsian di pusat Kota Gaza, Fatima Saleh merasakan perubahan itu dengan jelas. Menurutnya, suasana malam selama Ramadhan dalam dua pekan terakhir terasa lebih tenang dibanding sebelumnya.
“Dulu suara drone saja cukup membuat anak-anak terbangun,” katanya. “Mereka selalu mengaitkannya dengan kemungkinan akan ada serangan.”
Sejak suara itu berkurang, tidur anak-anaknya menjadi lebih stabil. Mereka tidak lagi terbangun berulang kali sepanjang malam.
Cerita serupa datang dari Issam al-Daour. Bagi dia, perubahan itu terasa dalam rutinitas harian yang sangat sederhana: tidur lebih nyaman, sahur lebih tenang, dan malam yang tidak terlalu melelahkan.
“Suara ‘zananah’ itu seperti lebah yang berdengung di dalam telinga,” katanya. “Bukan jauh di langit, tapi seperti tepat di atas kepala.”
Di rumah Adham Abu Shanab, dampaknya bahkan lebih terasa pada anak-anak. Menurutnya, adik-adiknya sering menunda tidur karena takut dengan suara pesawat yang terus berputar di atas mereka. Akibatnya, membangunkan mereka untuk sahur menjadi tugas yang berat setiap malam.
Anak-anak Mulai Berani Bergerak
Bagi Inas Ghabayin, perubahan itu tak hanya terasa pada kualitas tidur. Ia juga melihat perbedaan dalam perilaku anak-anak.
Sebelumnya, drone hampir selalu menguasai langit Gaza siang dan malam. Anak-anak kerap terbangun sambil menangis karena ketakutan. Kini, mereka mulai lebih berani.
Mereka bisa berjalan ke kamar mandi luar atau pergi membeli kebutuhan kecil tanpa rasa takut yang sama seperti sebelumnya.
Ibtisam al-Hawari menggambarkan pengalaman serupa. Menurutnya, drone seolah menjadi “anggota keluarga tak diundang” yang selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Di dalam tenda yang hampir tidak memiliki isolasi suara, dengungan itu menembus segala hal—percakapan, pikiran, bahkan ketenangan batin.
“Kami hidup dalam tekanan terus-menerus,” katanya. “Kadang kami bahkan sulit saling mendengar karena suara drone terlalu keras. Seolah-olah ia tinggal bersama kami di dalam tenda.”
Kini, ketika suara itu berkurang, ia mengaku merasakan kelegaan yang jarang mereka rasakan selama berbulan-bulan.
Bukan Sekadar Kebisingan
Perubahan ini juga ramai dibicarakan di media sosial. Jurnalis Palestina sekaligus mantan juru bicara Pemerintah Kota Gaza, Asem Alnabih, menulis di Facebook bahwa aktivitas drone pengintai di langit Gaza memang terlihat menurun.
Menurutnya, hal ini mungkin berkaitan dengan terbukanya beberapa front konflik lain, yang memaksa Israel membagi sumber daya militernya.
Namun dampak drone bagi warga Gaza jauh melampaui sekadar gangguan suara.
Menurut psikiater Palestina, Osama Emad, suara drone menciptakan kondisi psikologis yang menyerupai ancaman permanen.
“Ini seperti hidup dalam alarm yang tidak pernah dimatikan,” katanya.
Paparan suara tersebut membuat warga terus berada dalam kondisi siaga: tegang, cemas, dan merasa tidak memiliki kendali atas keselamatan diri mereka.
Efeknya tidak hanya psikologis. Dalam banyak kasus, warga juga mengalami gejala fisik seperti jantung berdebar, sakit kepala, ketegangan otot, gangguan pencernaan, hingga hilangnya nafsu makan.
Anak-anak Paling Rentan
Dampak paling berat justru dialami anak-anak.
Menurut Emad, mereka kerap mengalami gangguan tidur, mimpi buruk, ketakutan berlebihan, bahkan mengompol. Dalam jangka panjang, tekanan semacam ini juga dapat memengaruhi kemampuan belajar, konsentrasi, dan perkembangan perilaku.
Penurunan suara drone dalam beberapa pekan terakhir memang memberi jeda bagi sistem saraf warga untuk sedikit beristirahat. Tidur menjadi sedikit lebih baik, dan sebagian ketegangan mereda.
Namun Emad menegaskan, kondisi ini bukan berarti pemulihan.
Trauma yang telah terbentuk tetap memerlukan penanganan medis dan psikologis yang serius.
Jika drone kembali terbang dengan intensitas seperti sebelumnya, ia memperingatkan, tubuh dan pikiran warga kemungkinan akan kembali masuk ke dalam siklus ketakutan yang sama—bahkan mungkin lebih berat.
Persoalan Hak Asasi
Bagi kalangan pegiat hak asasi manusia, masalah drone di Gaza tidak hanya soal gangguan psikologis.
Direktur eksekutif Al-Dameer Association for Human Rights di Gaza, Alaa Al-Sakafi, menilai penggunaan drone oleh Israel telah melampaui fungsi pengintaian.
Menurutnya, pesawat nirawak kini menjadi alat serangan langsung sekaligus alat tekanan psikologis terhadap populasi sipil.
Suara bising yang berlangsung hampir sepanjang hari, kata dia, telah menjadi bentuk pelanggaran terhadap hak dasar manusia.
“Ini bukan sekadar kebisingan,” ujarnya. “Ini teror psikologis yang membuat masyarakat hidup dalam ketakutan terus-menerus.”
Gaza sebagai “Laboratorium Terbuka”
Laporan terbaru dari Sanad News Verification Agency, unit verifikasi berita milik Al Jazeera Media Network, bahkan menyebut Gaza sebagai “laboratorium terbuka” bagi pengembangan teknologi drone Israel.
Menurut laporan tersebut, industri drone Israel kini mencakup sekitar 30 perusahaan yang memproduksi sedikitnya 93 model pesawat nirawak, mulai dari drone pengintai hingga drone serang dan drone kamikaze.
Sedikitnya 15 model dari sembilan perusahaan telah diuji langsung di Gaza, termasuk drone tempur yang dilengkapi teknologi kecerdasan buatan.










