UTRECHT — Gelombang solidaritas terhadap perjuangan rakyat Palestina terus menjalar di jantung penegakan hukum Eropa. Di Kota Utrecht, Belanda, sekelompok aktivis kemanusiaan menggelar aksi unjuk rasa kreatif sekaligus mencekam. Mereka melakukan teatrikal jalanan yang mensimulasikan bentuk-bentuk penyiksaan fisik dan psikologis yang dialami warga Palestina di dalam jeruji besi Israel, sebagai upaya mengetuk nurani publik dunia dan mendesak pembebasan ribuan tahanan.

Dalam aksi teatrikal yang menarik perhatian ratusan pejalan kaki tersebut, para demonstran memperagakan detail penyiksaan secara akurat berdasarkan laporan-laporan lembaga hak asasi manusia. Beberapa aktivis berperan sebagai tahanan dengan mata tertutup, tangan terikat, dan dipaksa duduk dalam posisi berlutut serta membungkuk (squatting position) selama berjam-jam.

Mereka juga memperagakan bagaimana para sipir melakukan intimidasi, merampas hak air minum, hingga memaksa para tahanan yang kelaparan untuk meneriakkan yel-yel yang memuji negara penjajah, seperti slogan “Am Yisrael Chai” (Hidup Rakyat Israel), di bawah ancaman kekerasan fisik dan verbal.

Ribuan Jiwa Dilenyapkan Secara Paksa

Maaike, seorang aktivis perempuan Belanda yang ikut menginisiasi aksi tersebut, menegaskan bahwa agenda utama kegiatan ini adalah untuk merobek dinding pembungkaman informasi terkait nasib para tahanan Palestina.

“Ada ribuan manusia yang diculik dan disekap di Palestina. Mereka adalah laki-laki, perempuan, anak-anak, petugas medis, hingga warga sipil biasa yang hanya ingin menjalani kehidupan normal mereka,” ujar Maaike kepada jurnalis lapangan.

Ia menambahkan bahwa militer Israel telah melakukan penangkapan ugal-ugalan ini tanpa melalui mekanisme hukum yang adil. “Kezaliman yang mengangkangi keadilan ini sudah berlangsung selama puluhan tahun di bawah mata dunia,” tegasnya.

Senada dengan Maaike, aktivis Belanda lainnya bernama Merijn membeberkan data hitam penahanan sepihak oleh Tel Aviv. Saat ini, lebih dari 9.400 warga Palestina mendekam di penjara-penjara Israel, termasuk di antaranya lebih dari 350 anak-anak di bawah umur dan sedikitnya 80 orang perempuan.

Merijn menjelaskan mengapa mereka secara konsisten menggunakan terminologi “tawanan” (prisoners of war) ketimbang narapidana biasa. Hal ini karena mereka ditangkap dan disekap oleh kekuatan sepihak yang menduduki tanah Palestina secara ilegal berdasarkan hukum internasional. Mereka dijebloskan ke sel tanpa proses peradilan sipil, atau jika diadili, mereka dipaksa tunduk di bawah hukum pengadilan militer yang bias.

Desakan Boikot dan Seruan Pengadilan bagi Israel

Melalui pesan visual yang dihadirkan oleh para pemeran teatrikal, Merijn menyerukan pentingnya aksi nyata dari masyarakat Eropa untuk menghentikan genosida yang tengah berlangsung di Palestina.

Ia memaparkan rentetan penyiksaan sistematis yang harus dihentikan seketika, mulai dari perusakan mental (teror psikologis), pembiaran penyakit (kelalaian medis), kekerasan seksual, isolasi di sel sempit, hingga kebijakan kelaparan massal.

“Pemerintah Belanda dan seluruh jajaran kabinet di Eropa tidak boleh lagi berdiam diri. Mereka harus mengangkat suara secara tegas terkait nasib para tahanan Palestina, menuntut pembebasan segera, serta mendesak adanya investigasi internasional yang independen atas pelanggaran kemanusiaan ini. Israel harus diseret ke meja pengadilan dan dihukum atas kejahatan-kejahatan perangnya,” pungkas Merijn.

Aksi di jalanan Utrecht ini menjadi sinyal kuat bahwa narasi perjuangan Palestina kini semakin dipahami oleh masyarakat sipil Barat sebagai isu keadilan universal, yang menuntut runtuhnya impunitas hukum yang selama ini dinikmati oleh otoritas pendudukan.

Sumber: Diolah dari Laporan Lapangan Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here