Setiap 7 Januari, rakyat Palestina menandai Hari Syuhada bukan sebagai ritual emosional singkat, tetapi sebagai pengingat terbuka tentang memori, hak, dan tanggung jawab. Hari ini mengenang mereka yang gugur mempertahankan kebebasan dan martabat, sekaligus menegaskan pertanyaan penting: apa makna pengorbanan mereka di tengah realitas yang semakin keras dan masa depan yang menuntut aksi nyata, bukan sekadar kata-kata?
Hari Syuhada ditetapkan pada 1969 untuk memperingati syahid pertama dalam revolusi bersenjata Palestina, komandan Ahmed Moussa Salameh, yang gugur pada 1965 setelah menjalankan operasi heroik “Terowongan Eilabun”. Sejak itu, tanggal ini menjadi momen nasional untuk refleksi kolektif terhadap sejarah dan hak-hak yang terus diperjuangkan selama lebih dari tujuh dekade.
Syahid dalam Kesadaran dan Memori Palestina
Bagi keluarga syahid, hari ini adalah pengakuan terbuka atas kehilangan yang mengubah hidup mereka. Bagi masyarakat luas, ini pengingat bahwa kebebasan selalu dibayar mahal.
Dalam kesadaran kolektif, syahid bukan sekadar angka statistik atau foto arsip, tetapi nama yang terpatri dalam ingatan bersama. Ia hadir di dinding rumah, dalam cerita sebelum tidur, dan di kursi kosong di meja makan. Ia adalah anak, saudara, tetangga yang raganya hilang, tapi jejaknya tetap hidup dalam setiap detil kehidupan sehari-hari.
“Hari ini membuka kembali luka, tetapi memberi saya rasa bahwa anak saya tetap hadir dalam kesadaran publik,” kata Hanin, ibu syahid Ahmed.
“Hari Syahid tidak mengganti kehilangan, tetapi menjaga memori tetap hidup agar tak mudah dilupakan atau dimaafkan begitu saja,” tambah ayah syahid lain.
Hari ini menuntut refleksi lebih dari sekadar duka. Bagaimana memelihara memori syahid tanpa menjadikannya beban bagi yang hidup? Bagaimana memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga mereka? Bagaimana mengajarkan makna pengorbanan ke generasi muda dengan menekankan martabat dan hak, bukan glorifikasi penderitaan?
Menurut hak-hak asasi manusia Ahmed Abu Zahri, mengenang syahid juga merupakan tindakan hakiki untuk menghadapi upaya penghapusan narasi Palestina, berbicara tentang hak hidup bebas dan penolakan ketidakadilan, bukan sekadar merayakan kehilangan.
Angka yang Menggambarkan Tragedi
Sejak Nakba 1948, jumlah syahid Palestina lebih dari 172 ribu. Dalam dua dekade perang dan agresi di Gaza, angka syahid menembus 71.391, menjadikannya salah satu periode paling berdarah dalam sejarah modern Palestina.
Di balik statistik itu, puluhan ribu keluarga kehilangan anak dan pencari nafkah mereka, menghadapi realitas ekonomi, sosial, dan psikologis yang sangat berat.
Hak Keluarga Syahid
Hak-hak keluarga syahid adalah ujian nyata makna Hari Syahid. Mereka tidak cukup diberi penghormatan simbolik; mereka membutuhkan keadilan praktis: tempat tinggal layak, perlindungan sosial, bantuan, pendidikan, perawatan kesehatan, dan dukungan psikologis jangka panjang.
Agresi Israel yang terus berlanjut telah mendorong banyak keluarga ke ambang kemiskinan, memaksa anak-anak meninggalkan sekolah. Para ahli menekankan bahwa tanggung jawab ini bersifat kolektif:
- Individu: melalui inisiatif sosial dan solidaritas lokal.
- Pemerintah: menjadikan Hari Syahid sebagai dasar kebijakan publik yang nyata, bukan sekadar pemotongan gaji atau penolakan bantuan, seperti yang terjadi pada ribuan keluarga syahid Palestina.
- Masyarakat sipil: memantau, menuntut akuntabilitas, dan mengembangkan program pemberdayaan.
- Dunia Arab dan Islam: menyediakan kerangka dukungan institusional, beasiswa, dan program pelatihan yang menjamin kemandirian dan martabat keluarga syahid.
Bagi rakyat Palestina, Hari Syahid bukan kenangan yang selesai, tetapi komitmen terbuka, mengubah memori menjadi aksi, pengabdian menjadi keadilan, dan retorika menjadi perlindungan nyata bagi mereka yang membayar harga tertinggi.
Pertanyaannya tetap terbuka: Apakah kita cukup berhenti pada peringatan, atau akan mengubahnya menjadi tanggung jawab berkelanjutan? Apa langkah yang bisa diambil setiap individu atau institusi di lingkungannya untuk memastikan hak dan martabat keluarga syahid terlindungi?
Hari Syahid bukan akhir cerita, melainkan ujian tahunan kejujuran memori dan keadilan tindakan.
Sumber: Palinfo










