Di salah satu sudut Gaza yang luluh lantak, Muhammad Abu Mohsen, 10 tahun, menjadi saksi hidup tragedi yang tak terbayangkan. Ia selamat keluar dari reruntuhan rumahnya di kawasan Sabra setelah serangan Israel, sementara ibu, ayah, dan saudara-saudaranya syahid seketika.
Tubuh kecilnya kini menanggung kehilangan dan cacat: satu mata hilang penglihatan, kedua kaki patah parah, dan ia bergulat dengan rasa sakit yang terus membayangi setiap langkah hidupnya.
Muhammad menatap dunia dengan mata yang tersisa, berharap satu-satunya kesempatan hidupnya ada pada kesempatan untuk berobat di luar Gaza.
“Saya ingin bisa berjalan lagi dengan kaki saya, dan melihat dengan kedua mata saya. Tolong biarkan saya pergi untuk berobat,” ujarnya dengan suara tertahan.
Cedera Fisik, Trauma Batin
Pamannya, Rami Abu Mohsen, menggambarkan tragedi yang menimpa Muhammad: jatuh dari lantai lima akibat bom, kaki mengalami patah serius yang memerlukan pemasangan plat logam, sementara operasi pada matanya gagal memulihkan penglihatan.
Kini, setiap aktivitas sehari-hari (dari pergi ke kamar mandi, perawatan fisioterapi, hingga mengganti perban) menjadi perjuangan.
Muhammad juga menderita trauma psikologis dan mimpi buruk berulang, hidup dalam lingkungan yang tidak ramah anak, kehilangan keluarga dan rasa aman sekaligus. Pamannya menyerukan: dunia harus segera membuka akses untuk pasien seperti Muhammad sebelum cedera ini berubah menjadi “kematian perlahan”.
Rafah Tertutup, Nyawa Menunggu
Ismail Al-Thawabta, Direktur Kantor Media Pemerintah Gaza, menyatakan bahwa penutupan perbatasan Rafah memperparah krisis kesehatan. Sekitar 22 ribu pasien menunggu pengobatan yang tak tersedia di Gaza, sementara lebih dari setengah juta prosedur medis mendesak tidak bisa dilakukan karena keterbatasan fasilitas.
“Penutupan ini digunakan sebagai alat untuk menaikkan angka kematian. Kami meminta Presiden Amerika, mediator, dan negara penjamin gencatan senjata untuk menekan Israel membuka perbatasan kedua arah,” kata Al-Thawabta.
Lebih dari 80 ribu warga Palestina terjebak di luar Gaza, ribuan siswa tidak bisa melanjutkan pendidikan, sementara tindakan ini memperkuat praktik pemindahan paksa dan pembatasan mobilitas warga.
Sistem Medis di Ambang Kehancuran
Dr. Muhammad Abu Salmiya, Direktur Rumah Sakit Al-Shifa, menegaskan bahwa sejak gencatan senjata, tidak ada terobosan berarti.
Obat-obatan yang masuk hanya 20% dari kebutuhan, jauh dari cukup. Lebih dari 20 ribu pasien telah menyelesaikan prosedur untuk pergi, namun tidak diperbolehkan, dan sekitar 1.200 pasien meninggal, termasuk anak-anak dan penderita kanker.
Sumber: Al Jazeera










