JENIN — Hanya ada bentangan jarak sekitar 50 meter yang memisahkan rumah keluarga Rahhal di Kota Arraba, sebelah barat daya Jenin, dengan kompleks pemukiman Yahudi Mevo Dotan (Emek Dotan). Jarak yang sangat dekat ini merenggut ketenangan hidup keluarga tersebut, mengubah keseharian mereka menjadi kecemasan berlanjut di bawah ancaman teror pemukim Yahudi.
Dalam laporan wartawan Al-Jazeera, Laith Jaar, keluarga Rahhal membeberkan rentetan aksi intimidasi yang mereka alami. Pemukim Yahudi sengaja memutus aliran listrik, merusak instalasi pipa gas, hingga mengacak-acak jaringan pembuangan limbah (septic tank) di sekitar rumah.
Pada malam hari, para pemukim kerap mendekatkan kendaraan mereka lalu menyorotkan lampu tembak berdaya tinggi langsung ke arah jendela kamar tidur untuk menakut-nakuti penghuni rumah.
Bagi keluarga Rahhal, situasi ini bukan sekadar perselisihan biasa soal jalan atau batas tanah, melainkan tekanan psikologis dan fisik yang dihujamkan langsung ke dalam ruang privat mereka. Keberadaan pemukim bersenjata dalam radius puluhan meter memaksa seluruh anggota keluarga selalu dalam kondisi siaga satu setiap malam.
Fasilitas dasar seperti listrik, pasokan gas, dan sanitasi tak lagi menjadi hal lumrah dalam hidup mereka, melainkan sasaran pengerusakan yang berulang. Sorot lampu kanta malam hari pun sengaja ditujukan untuk merampas hak tidur dan rasa aman mereka.
Rekaman visual di lokasi memperlihatkan betapa rumah keluarga ini menempel langsung dengan batas luar pemukiman Mevo Dotan. Gesekan langsung ini berdampak buruk pada kualitas tidur, kebebasan bergerak, hingga rasa aman keluarga Rahhal di dalam rumah mereka sendiri.
Pembatasan Akses dan Penutupan Kota
Dampak keberadaan pemukiman tersebut tidak hanya membelenggu keluarga Rahhal. Wali Kota Arraba, Ahmad Arda, menjelaskan bahwa otoritas pendudukan dan pemukim Yahudi terus melancarkan penutupan akses di gerbang timur kota.
Langkah ini menerapkan pembatasan ketat terhadap mobilitas warga serta menghalangi para petani menuju lahan pertanian mereka.
Arda mengaitkan antara ekspansi kawasan pemukiman Mevo Dotan dengan makin mencekiknya pembatasan ruang gerak di Arraba dan sekitarnya. Padahal, mayoritas warga kota menggantungkan mata pencaharian harian mereka pada sektor pertanian di lahan-lahan sekitar.
Di sisi lain, keluarga Rahhal merasakan dampak yang lebih intim: teror yang merangsek hingga ke dalam dinding rumah. Ketakutan mereka bukan sekadar pada pengerusakan fasilitas yang telah terjadi, melainkan pada potensi ancaman keselamatan jiwa yang bisa berulang kapan saja selama pemukim Yahudi berkeliaran persis di samping pekarangan mereka.
Tekanan Sistematis Berkelanjutan
Pengamat isu permukiman Yahudi, Ibrahim Rabaya, menilai tekanan yang dialami warga Palestina di sekitar kawasan pemukiman merupakan bagian dari skema besar untuk mempersempit ruang hidup dan ruang kelola tanah bangsa Palestina.
Rabaya menjelaskan bahwa kehadiran pemukiman tidak hanya mengubah topografi kawasan, tetapi juga memaksakan akumulasi penindasan terhadap warga Palestina di sekitarnya, melalui penyempitan akses mobilitas, perampasan tanah, hingga perusakan layanan dasar secara sistematis.
Di antara bangunan rumah keluarga Rahhal dan pemukiman Mevo Dotan, hanya ada bentangan jarak puluhan meter. Namun bagi keluarga ini, jarak yang tipis itu telah merenggut seluruh kenyamanan hidup mereka: dari kecemasan akan pasokan listrik yang bisa diputus sewaktu-waktu, malam-malam mencekam yang dipenuhi intimidasi, hingga pertanyaan yang terus membayangi tentang berapa lama lagi mereka sanggup bertahan di rumah yang terus terancam tersebut.
*Diterjemahkan dan diolah dari Al-Jazeera.










