JAKARTA- Film dokumenter NAZA karya sineas Israel Yuval Abraham dan Rachel Szor dijadwalkan tayang di bioskop lebih dari 50 negara. Film produksi The Guardian ini membongkar sistem yang digunakan intelijen Israel dalam misi pembunuhan massal warga sipil di Gaza, Palestina.
NAZA sebelumnya diputar perdana di Festival Film Venesia pada awal September. Film ini mendapat standing ovation terlama yaitu selama 25 menit, dan meraih penghargaan Special Jury Prize.
Setelah diputar di Bologna dan Festival Film San Sebastian, NAZA dijadwalkan melakukan pemutaran perdana di Amerika Utara pada Sabtu di New York Film Festival. Empat hari kemudian, film tersebut akan mulai diputar di IFC Center, New York City. Pada 9 Oktober, penayangan akan diperluas ke Los Angeles dan sejumlah kota utama lainnya di Amerika Serikat sebelum dilanjutkan dengan distribusi nasional.
Selain Amerika Serikat, perilisan NAZA akan mencakup Inggris, Australia, Selandia Baru, Jepang, Kanada, Hong Kong, Brasil, Turki, Thailand, Prancis, Spanyol, Jerman, Amerika Tengah, dan Timur Tengah. Setelah masa penayangan di bioskop berakhir, NAZA akan tersedia secara gratis melalui situs The Guardian. Langkah itu diambil sebagai bagian dari komitmen mereka untuk menyebarluaskan jurnalisme independen.
“NAZA berlandaskan jurnalisme yang ketat yang telah diterbitkan selama tiga tahun terakhir. Namun, film ini juga merupakan karya sinema yang kuat yang tidak lama lagi akan tersedia di layar-layar besar maupun kecil di seluruh dunia,” kata Harry Davies, koresponden investigasi The Guardian sekaligus salah satu produser NAZA, dikutip pada Jumat (25/9/2026).
Sejumlah distributor dan bioskop di Israel telah ditawari film ini. The Guardian juga sedang mencari cara agar NAZA dapat ditayangkan di wilayah Palestina yang diduduki.
Film NAZA mengangkat kesaksian 24 perwira dan prajurit intelijen militer Israel, yang identitasnya dirahasiakan, mengenai operasi militer di Gaza. Film ini memperlihatkan secara rinci sistem yang berada di balik operasi pembunuhan massal warga sipil Palestina di Gaza, NAZA dibuat secara rahasia selama sekitar tiga tahun.
Judul film ini diambil dari istilah eufemisme intelijen berbahasa Ibrani yang digunakan untuk menunjukkan perkiraan jumlah warga sipil Gaza yang akan meninggal dalam suatu serangan udara. Menurut sumber militer IDF, sistem berbasis Al yang dikenal. sebagai Lavender memanfaatkan jaringan telekomunikasi Gaza termasuk panggilan telepon, pergerakan, dan berbagai interaksi, untuk mengidentifikasi target pembunuhan.
Salah satu sumber menggambarkan proses tersebut dilakukan dalam skala massal seperti sebuah pabrik. Narasumber lain yang terlibat dalam identifikasi target mengatakan proses itu seperti video game.
“Prosesnya seperti permainan video, karena semuanya dilakukan dari jarak jauh dan terasa sangat menyenangkan,” kata sumber militer Israel perihal teknologi Al yang dirancang untuk membunuh warga Gaza.
Beberapa sumber juga berbicara mengenai penghancuran rumah warga sipil, pengabaian terhadap hukum kemanusiaan, serta suasana umum yang penuh kebencian terhadap warga Palestina. Di tengah respons positif terhadap film tersebut di festival internasional, Abraham dan Szor menghadapi kecaman serta ancaman di Israel.
Pada pekan lalu, Menteri Kebudayaan Israel, Miki Zohar, mengancam akan mencabut kewarganegaraan dua sutradara film dokumenter NAZA. Zohar menuduh kedua sineas tersebut telah mengkhianati negara sehingga layak untuk dicabut kewarganegaraannya.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga tengah mengupayakan undang-undang baru yang memungkinkan Israel mencabut kewarganegaraan orang yang menjelek-jelekkan tentara Israel dan mencemarkan nama baik Israel.
Dalam pernyataannya, Abraham dan Szor mengatakan mereka membuat film tersebut karena merasa berkewajiban menggunakan posisi mereka sebagai warga Israel untuk mengkaji sistem di balik pembunuhan massal warga sipil Palestina di Gaza.
“Kami membuat film ini karena merasa berkewajiban untuk menggunakan posisi kami sebagai warga Israel guna menelaah sistem di balik pembunuhan massal warga sipil Palestina, yang menjadi tanggung jawab negara kami,” kata keduanya.
Mereka menegaskan, ancaman Pemerintah Israel untuk mencabut kewarganegaraan dan ancaman pembunuhan tidak mengubah keputusan mereka serta tidak akan menghentikan film tersebut, “Kami berterima kasih kepada rekan-rekan kami atas solidaritas mereka dan menantikan saat untuk membagikan NAZA ke seluruh dunia dalam waktu dekat,” kata Abraham dan Szor.
Menanggapi ancaman tersebut, lebih dari 1.500 pembuat film Israel juga telah menandatangani petisi yang membela kebebasan berekspresi dan berkarya serta menyatakan solidaritas terhadap Szor dan Abraham.
Dukungan juga datang dari sejumlah pembuat film terkemuka dunia, di antaranya Ken Loach, Joshua Oppenheimer, Paul Laverty, Laura Poitras, Nan Goldin, Richard Eyre, dan Hanif Kureishi.










