Saat debu di Gaza belum benar-benar mengendap, petinggi Israel dan utusan Washington berkumpul dalam sebuah rapat darurat. Di atas meja, bukan hanya rencana rekonstruksi yang dibahas, melainkan juga kemungkinan untuk menarik pelatuk perang kembali. Damai yang disepakati Oktober lalu kini berada di ujung tanduk.

SELASA pekan lalu, sebuah pertemuan krusial berlangsung di kantor Perdana Menteri Israel. Benjamin Netanyahu menjamu Nickolay Mladenov, Direktur Eksekutif Dewan Perdamaian Gaza. Pertemuan ini bukan sekadar kunjungan diplomatik rutin, melainkan sebuah sinyal bahwa “stabilitas” yang selama ini dipamerkan Washington mulai retak di persimpangan jalan.

Mladenov, diplomat Bulgaria yang ditunjuk Donald Trump pada Januari lalu untuk menakhodai misi ambisius ini, datang dengan membawa mandat berat: memastikan rencana damai 20 poin Trump tidak berakhir di tempat sampah sejarah.

Meja Bundar di Tengah Ketidakpastian

Pertemuan itu dihadiri oleh “lingkaran dalam” yang menunjukkan betapa seriusnya posisi Amerika Serikat dalam menjaga pengaruhnya di kawasan. Berdasarkan laporan Politico, nama-nama yang hadir di sana bukanlah orang sembarangan:

  • Mike Huckabee: Duta Besar AS untuk Israel.
  • Jasper Jeffers: Komandan Pasukan Stabilitas Internasional.
  • Aryeh Lightstone: Penasihat kunci Dewan Perdamaian.
  • Caroline Glick & Ophir Falk: Penasihat kepercayaan Netanyahu.
  • Michael Eisenberg: Pebisnis berpengaruh AS-Israel.

Resminya, mereka membahas kemajuan kerja Dewan Perdamaian sejak kesepakatan 10 Oktober tahun lalu. Mladenov sendiri, lewat akun X-nya, memoles pertemuan itu sebagai momen “positif dan produktif”. Namun, di balik bahasa diplomatik yang rapi, ada bau mesiu yang kembali tercium.

Kebuntuan di Kairo dan Ancaman Perang

Sehari sebelum pertemuan, Radio Militer Israel membocorkan agenda yang lebih kelam. Kedatangan Mladenov ke Yerusalem merupakan imbas dari “kolapsnya” pembicaraan dengan Hamas di Kairo beberapa hari sebelumnya.

Isu utamanya klasik namun mematikan, pelucutan senjata.

Israel menuduh Hamas enggan berkomitmen pada syarat pelucutan senjata sebagai syarat masuk ke Fase Kedua gencatan senjata. Sebaliknya, delegasi Hamas di bawah Khalil al-Hayya bersikap keras: tak akan ada pembicaraan fase kedua sebelum Israel menjalankan poin-poin Fase Pertama secara utuh. Salah satu ganjalan terbesarnya adalah keengganan militer Israel mundur dari apa yang mereka sebut sebagai “Garis Kuning”.

Ultimatum di Balik Layar

Sebuah surat rahasia yang dikirim Mladenov dan Aryeh Lightstone kepada Ali Shaath (kepala komite pengelola Gaza versi Palestina) mengungkapkan betapa rapuhnya posisi kemanusiaan dalam kesepakatan ini. Times of Israel melaporkan bahwa isi surat itu adalah sebuah ancaman terbuka.

Mladenov memperingatkan bahwa Dewan Perdamaian tidak akan memaksa Israel tunduk pada syarat gencatan senjata jika Hamas menolak kerangka kerja pelucutan senjata. Secara blak-blakan, surat itu menyebutkan bahwa jika “kerangka kerja” ini tidak diterima dalam waktu yang “wajar”, maka komitmen Israel untuk menghentikan operasi militer, mengirim 4.200 truk bantuan per minggu, dan pembukaan gerbang Rafah akan dianggap batal demi hukum.

Realitas yang Berdarah

Saat para elite berdebat tentang definisi “damai” di ruang ber-AC, realitas di lapangan bicara lain. Sementara Hamas diklaim telah memenuhi kewajiban Fase Pertama dengan menghentikan serangan dan melepas tawanan, Israel justru dituduh mengangkangi mayoritas poin kesepakatan.

Laporan Anadolu mencatat sedikitnya 830 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata “berlaku”. Yang terbaru, seorang bocah berusia 14 tahun, Mahmoud Sahwil, gugur dalam serangan udara yang menghantam pos polisi di Kota Gaza.

Hamas pun mulai mendesak para mediator dan PBB untuk bertindak. Mereka menuding Tel Aviv hanya menggunakan gencatan senjata sebagai selimut untuk melanjutkan taktik lama: blokade, penghentian bantuan medis, dan pembiaran kelaparan.

Kesepakatan ringkih ini lahir setelah dua tahun “genosida” yang meluluhlantakkan 90 persen infrastruktur sipil Gaza. Kini, pertanyaannya bukan lagi kapan rekonstruksi dimulai, tapi seberapa cepat perang besar berikutnya akan pecah. Mladenov boleh saja menyebut rapat itu “produktif”, tapi bagi warga Gaza yang masih menggali reruntuhan, kata produktif sering kali berarti datangnya kiriman bom baru.


Sumber: Diterjemahkan dan diolah dari Politico, Times of Israel, dan Anadolu Agency

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here