Bagi warga Palestina, tenda bukan sekadar kain pelindung dari terik dan hujan. Ia adalah saksi bisu sebuah siklus tragedi yang tak kunjung usai. Dari pengusiran massal tahun 1948 hingga genosida hari ini, tenda menjadi simbol hancurnya sebuah peradaban yang dipaksa mulai dari nol, berulang kali.
GAZA – Di usia senjanya, Haj Muhammad Madoukh, 91 tahun, seolah menjadi jembatan hidup bagi dua noktah paling hitam dalam sejarah bangsa Palestina. Ingatannya masih tajam membelah waktu 78 tahun ke belakang. Ia adalah saksi hidup dari dua Nakba, pertama kali sebagai bocah yang berlari menghindari hujan mortir di Jaffa pada 1948, dan kini sebagai pria renta yang menyaksikan genosida di Gaza dengan tubuh kurusnya.
Sambil duduk di halaman rumahnya, Madoukh memikul beban memori yang berat. Ia mengucap kalimat yang terdengar seperti vonis sejarah: “Demi Allah, andai saja dulu kita bertahan, aku pasti sedang duduk di pantai ‘Pengantin Laut’ (Jaffa) sekarang. Kita tak perlu mengalami semua keruntuhan ini!”
Bagi Madoukh, 15 Mei 1948 tak pernah benar-benar berlalu. Ia mengenang bagaimana Jaffa mulai runtuh di bawah pemboman, jalanan yang sesak oleh manusia yang panik, dan kegagalan ayahnya mencari celah di kapal-kapal yang mengangkut pengungsi. Akhirnya, ia bersama orang tua dan sepuluh saudaranya harus berjalan kaki empat jam tanpa henti menuju Gaza.
Janji yang Menjadi Pengasingan Abadi

Kalimat ayahnya kepada ibunya sesaat sebelum meninggalkan rumah masih terngiang jelas: “Bawa satu setel baju saja untuk setiap anak. Insya Allah, beberapa hari lagi kita akan pulang.”
Madoukh terdiam sejenak sebelum menyambung lirih, “Sejak hari itu, kami tak pernah pulang. Momen itu adalah awal dari pengasingan panjang.”
Ketika ditanya mana yang lebih pedih, Nakba 1948 atau genosida saat ini, ia menjawab tanpa ragu: “Apa yang terjadi pada ’48 tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang kami alami sekarang. Malapetaka yang baru ini mengumpulkan semua wajah horor dalam satu waktu.” Namun, kali ini Abu Marwan—sapaan akrabnya—menolak mengungsi lagi. “Orang beriman tidak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali,” ujarnya getir.
Dua Tenda, Satu Nasib
Kisah Madoukh bukan anomali. Di sudut lain, Attia al-Tibi mengalami nasib yang serupa. Di dalam tenda yang sama yang kini menjadi rumahnya, pemandangan lama terulang kembali. Ia dilempar ke tenda sebagai bocah pada 1948, dan kini kembali menghuni tenda sebagai pria tua dengan satu kaki dan mata yang kehilangan cahayanya akibat perang.
“Dulu hidup itu luar biasa. Kami bahagia, penuh berkah,” kata Al-Tibi, suaranya bergetar membayangkan masa sebelum Palestina “patah” dua kali. Ia bercerita tentang peternakan domba dan unta miliknya di Desa Al-Jiyya, tentang keju terbaik di dunia yang pernah mereka jual. Jika Nakba ’48 merampas tanah dan rumahnya, genosida kedua ini merampas kesehatan tubuhnya dan hasil jerih payahnya selama 70 tahun yang menguap dalam sekejap.
Arsitektur dari Sampah: Melawan Hilangnya Privasi
Tenda bukanlah sekadar kisah masa lalu bagi mereka yang dipaksa kembali ke titik nol. Hala Shabat, salah satu penghuni tenda di Gaza, menolak menyerah pada kemelaratan. Bersama suaminya, ia menyulap reruntuhan menjadi “rumah”.
Mereka membuat rak baju dari kardus, kursi dari karung pasir, meja dari sisa kaleng, hingga lemari dapur dari seng bekas. Bahkan ranjang bayinya—yang lahir di dalam tenda—dibuat dari pipa plastik bekas. Di sekitar tendanya, ia menanam bibit-bibit kecil dan memasang tirai untuk menyekat dapur, demi sedikit privasi.
“Hal tersulit dari tenda bukanlah dingin atau lapar, tapi hilangnya privasi,” ujar Hala. Ia tidur bersama enam anaknya di ruang yang sama, berganti pakaian di ruang yang sama. Meski setiap pagi harus menyapu pasir yang tak pernah habis dan memasak di bawah asap yang menyesakkan dada, Hala tetap teguh. “Aku punya tekad,” katanya. Baginya, setiap perabot dari sampah adalah cara melindungi anak-anaknya dari kehancuran mental.
Kehancuran Eksistensial yang Tak Berakhir
Nasim Abu Shlouf, Kepala Departemen Sejarah di Universitas Al-Aqsa, menjelaskan bahwa tenda tahun 1948 bukan sekadar tempat bernaung sementara, melainkan sebuah “kejutan eksistensial”. Rumah-rumah batu diganti dengan kain, mencabut ribuan keluarga dari akar mereka ke ruang tanpa waktu dan tanpa atap.
Namun, tenda Gaza hari ini jauh lebih kejam. Ia didirikan di tengah perang yang sedang berkecamuk, bukan setelahnya. Ia berdiri di atas trotoar yang hancur dan puing-puing kepemilikan pribadi yang tiba-tiba berubah menjadi kamp pengungsian.
Bagi Abu Shlouf, peran perempuan seperti Hala sangat vital. Mereka mengubah ruang yang rapuh menjadi ruang kehidupan. Ini adalah manifestasi dari memori kolektif Palestina yang menolak menyerah pada tragedi, mengubah tempat tinggal sementara yang menghina martabat menjadi sebuah “dokumen perlawanan”.










