AL-QUDS — Narasi Barat mengenai penjajahan Israel di Palestina sering kali disederhanakan secara keliru sebagai benturan dua agama yakni Yahudi versus Islam. Namun, realitas di lapangan membongkar kebenaran yang jauh lebih kelam.

Sejak peristiwa Nakba 1948 hingga perang pembersihan pasca-Oktober 2023 yang berlanjut hingga tahun 2026 ini, komunitas Kristen Palestina (salah satu komunitas penjaga tradisi gereja tertua di dunia) menjadi target sistematis proyek pengosongan tanah (displacement) yang dijalankan oleh Israel.

Bagi Israel, identitas Arab adalah target utama, tanpa peduli apakah di leher mereka menggantung sebuah kalung salib atau di kantong mereka terselip sebuah sajadah.

Akar Arab dan Doktrin Nasionalis Pastor Abdullah Julyo

Di tengah upaya polarisasi sektarian ini, berdiri sosok Pastor Abdullah Julyo. Pria dengan darah Italia namun memiliki identitas Palestina yang mengakar kuat ini menjadi simbol perlawanan lintas iman. Julyo, yang kini menjabat sebagai Penasihat di Dewan Kepresidenan Palestina, menolak pembatasan ruang ibadah hanya pada dinding batu altar.

“Palestina bagi saya adalah sebuah mimpi hidup yang wajib diwujudkan. Gereja saya tidak lagi dibatasi oleh batas geografis paroki, melainkan tersebar di seluruh jalanan dan melekat pada setiap helai napas rakyat,” tegas Julyo dalam wawancara khusus yang dikutip Tempo.

                [GARIS WAKTU HISTORIS: KRISTEN ARAB DALAM BENTENG PALESTINA]
   
   Abad ke-7    : Umat Kristen Arab menyambut hangat khilafah Islam di Damaskus, Baghdad, & Yerusalem.
        │
   Perang Salib : Kristen Arab mengangkat senjata bersama Muslim melawan invasi tentara salib Eropa.
        │
   Tahun 1948   : Nakba menyeret Muslim & Kristen ke dalam gerbong pengungsian yang sama ke Lebanon.

Julyo mengingatkan dunia bahwa eksistensi Kristen di Palestina adalah kelanjutan historis dari Kristen Arab yang berabad-abad lalu mempertahankan Yerusalem bersama umat Muslim dari serbuan Tentara Salib Eropa. “Gereja kami berbicara dan berdoa dalam bahasa Arab, belajar dan bermimpi dalam bahasa Arab,” imbuhnya.

Ia mencontohkan tokoh-tokoh besar seperti Uskup Hilarion Capucci, yang dipenjara dan diasingkan oleh Israel karena menyelundupkan senjata untuk perlawanan, serta jurnalis kawakan Al Jazeera almarhumah Shireen Abu Akleh. “Shireen adalah jemaat gereja kami, dia sangat aktif. Namun saya tidak pernah sekalipun bertanya apa agamanya, karena dia adalah putri Yerusalem, putri dari tanah perlawanan ini,” kata Julyo.

Mafia Tanah Yudaisasi dan Skandal Pemalsuan Dokumen

Di balik intimidasi fisik, terdapat operasi yang jauh lebih berbahaya: likuidasi aset properti dan tanah milik gereja. Dr. Hassan Khatir, Kepala Pusat Internasional Yerusalem sekaligus pendiri Komite Islam-Kristen untuk Pendudukan Suci, membongkar bahwa agresi terhadap situs Kristen berjalan simetris dengan yudaisasi situs Islam.

Sejak 1948, lebih dari 110 hingga 120 kasus agresi terdokumentasi secara hukum, mulai dari pembakaran gereja, penjarahan biara, hingga pencurian artefak emas keagamaan. Namun, puncaknya adalah pencaplokan 80.000 dunam (8.000 hektare) tanah wakaf milik Gereja Ortodoks di Yerusalem melalui skandal kesepakatan palsu dan manipulasi hukum korporasi yang disokong pengadilan Israel.

                    [ANATOMI METODE PENGOSONGAN ASSET GEREJA]
                                       │
         ┌─────────────────────────────┴─────────────────────────────┐
         ▼                                                           ▼
   [Manipulasi Hukum / Pemalsuan]                             [Teror Jalanan Sistematis]
   Pencaplokan tanah milik Gereja Ortodoks                    Aksi meludah, pelemparan telur, & pemukulan
   melalui transaksi sepihak di Yerusalem.                     oleh pemukim Yahudi radikal di Kota Tua.

Khatir menekankan bahwa membiarkan bangunan gereja tegak berdiri tanpa ada jemaat di dalamnya adalah bentuk kemenangan taktis Israel. “Apa gunanya merawat dinding batu gereja yang kosong jika seluruh penduduknya telah diusir dan dipaksa pindah ke Eropa atau Amerika? Itu adalah bentuk pemusnahan eksistensi paling nyata,” kritik Khatir.

Genosida Demografi: Dari 14% Menjadi Kurang dari 1%

Statistik demografi menunjukkan penurunan angka yang sangat drastis, menggambarkan bagaimana komunitas ini perlahan-lahan lenyap dari tanah kelahiran mereka:

            [KEMEROSOTAN DEMOGRAFI KRISTEN DI PALESTINA HISTORIS]
   
   Tahun 1946 (Pra-Nakba) : [ ████░░░░░░░░░░░░░░░░ ] 145.000 Jiwa (~8% - 14% Populasi)
   Tahun 2017 (Sensus PCBS): [ ░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░ ] 47.000 Jiwa (Hanya ~1% Populasi)
   Tahun 2026 (Estimasi)  : [ ░░░░░░░░░░░░░░░░░░░░ ] ~50.000 Jiwa (Tepi Barat & Yerusalem Timur)

Di Jalur Gaza, sisa-sisa komunitas Kristen yang berjumlah beberapa ribu jiwa sebelum 7 Oktober 2023, kini berada di ambang kepunahan total akibat pemboman tanpa pandang bulu terhadap tiga gereja bersejarah:

  1. Gereja Baptis: Rusak berat akibat hantaman rudal di kompleks Rumah Sakit Al-Ahli Al-Arabi (Baptis) yang menewaskan ratusan warga sipil.
  2. Gereja Saint Porphyrius (Ortodoks): Tempat perlindungan tertua di Gaza, dihantam bom Israel yang menewaskan 18 warga Kristen yang sedang berlindung di dalam ruang aula.
  3. Gereja Keluarga Kudus (Katolik): Menjadi sasaran tembak runduk (sniper) Israel yang menewaskan seorang ibu dan anak perempuannya di dalam halaman gereja pada Desember 2023, serta ditembak oleh kanon tank pada Juli 2024 yang melukai belasan jemaat dan pastor paroki.

Melawan Doktrin Palsu “Kristen Zionis”

Anggota Komite Kepresidenan Tinggi untuk Urusan Gereja di Palestina, Omar Awadallah, menyatakan bahwa Israel sengaja menggeser narasi konflik politik-teritorial ini menjadi perang agama murni antara Yahudi dan Muslim guna menarik simpati dunia Barat.

“Kami adalah ‘Batu Hidup’ (The Living Stones) dari tanah Palestina. Jika puluhan ribu umat Kristen terusir, itu adalah kehilangan komunal yang masif bagi sejarah Timur Tengah,” ujar Awadallah.

                  [DUALISME PERANG DI MEJA DIPLOMASI GLOBAL]
                                      │
         ┌────────────────────────────┴────────────────────────────┐
         ▼                                                         ▼
   [Program Pendampingan Domestik]                          [Front Ideologis Internasional]
   Pendanaan sekolah, RS, perumahan,                       Melawan doktrin "Kristen Zionis" Barat 
   dan advokasi hukum tanah di Beit Jala.                   yang dianggap menyimpang dari ajaran teologi.

Di bawah kepemimpinan Dr. Ramzi Khoury, komite tersebut kini meluncurkan perang ideologis internasional untuk membongkar gerakan “Kristen Zionis” (Zionist Christianity) di Amerika Serikat dan Eropa. Aliran teologi politik ini dinilai telah membajak ajaran luhur Yesus Kristus demi melegitimasi aksi pengusiran, penjajahan, dan pembunuhan di tanah Palestina.

Melalui diplomasi luar negeri, komite ini mengetuk pintu-pintu dewan gereja dunia dengan satu pesan tunggal: penindasan di Palestina tidak memilih agama. Ketika sebuah bom dijatuhkan atau sebuah rumah dirobohkan, puing-puingnya akan menimbun Muslim dan Kristen di dalam satu liang lahat yang sama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here