GAZA — Di tengah kepungan krisis kemanusiaan yang makin mencekik, sebuah narasi tandingan sengaja dihembuskan di media sosial. Sejumlah akun yang terafiliasi dengan Israel gencar mengampanyekan narasi “Gaza baik-baik saja” melalui tagar #TheGazaYouDontSee di platform X.
Kampanye digital ini berupaya menampilkan citra yang berlawanan dengan kenyataan di lapangan. Lewat potongan video yang dipilih secara selektif (seperti keramaian di kafe, pesta pernikahan, hingga anak-anak yang bermain) mereka berusaha membingkai kehidupan di Gaza seolah telah pulih dan serba berkecukupan, mengabaikan peringatan darurat yang terus disuarakan badan-badan PBB.
Manipulasi Ruang Bermain di Atas Puing
Salah satu etalase propaganda ini diunggah oleh akun @Imshin, yang kerap menjadi motor utama konten serupa. Akun tersebut membagikan video pembukaan tempat bermain anak bernama “Jump City” di dekat kawasan persimpangan As-Sarukh, Gaza.
Meskipun diunggah tanpa keterangan tertulis, penyematan tagar #TheGazaYouDontSee secara eksplisit mengarahkan opini publik bahwa Gaza sedang menikmati kemewahan. Padahal, tempat tersebut tak lebih dari satu-satunya ruang napas tersisa bagi anak-anak yang telah kehilangan hak dasar mereka.
Investigasi penelusuran sumber terbuka (open source) yang dilakukan tim Al Jazeera membongkar fakta di balik potongan video tersebut. Tempat bermain yang diklaim sebagai bentuk “pemulihan Gaza” itu hanyalah sebuah tenda besar darurat berukuran beberapa meter persegi. Di sekelilingnya, membentang pemandangan gedung-gedung pemukiman yang hancur dihantam bom serta deretan tenda pengungsian.
Sensasi “normal” yang coba dibangun lantas runtuh saat rekaman latar belakang memperlihatkan betapa bersahajanya fasilitas tersebut. Tempat itu dibangun secara swadaya dengan peralatan seadanya—sebuah upaya kecil warga untuk merawat sisa-sisa mental anak-anak mereka di tengah bayang-bayang perang, bukan bukti dari sebuah kebangkitan ekonomi.
Ketika Tempat Ceria Berubah Menjadi Abu
Manipulasi narasi ini makin telanjang saat membandingkan kondisi fasilitas hiburan Gaza sebelum dan sesudah agresi militer.
Sebelum perang pecah pada Oktober 2023, “Asdaa City” di utara Khan Younis merupakan taman hiburan terbesar di Gaza. Kawasan ini memiliki wahana air, kebun binatang, dan kolam renang yang menjadi pusat rekreasi keluarga. Kini, lokasi tersebut telah rata dengan tanah setelah dihantam bom dan dijadikan markas tank Israel, sebelum akhirnya berubah menjadi kamp pengungsian kumuh.
Nasib serupa menimpa “Jump Sky”, arena permainan trampolin populer di Jalan Al-Yarmouk, Kota Gaza. Pada Agustus 2023, tempat ini menjadi ruang utama bagi anak-anak Gaza untuk melepas stres. Namun pada Januari 2024, pengelola arena mengunggah rekaman pilu yang memperlihatkan tempat tersebut telah hangus terbakar akibat serangan udara.
“Tawa anak-anak itu kini telah menjadi abu,” tulis akun resmi arena tersebut meratapi puing-puing wahananya yang menghitam.
Rekayasa Narasi dan Jejak Propaganda
Pola yang dipakai dalam kampanye ini terstruktur: memilih situasi terisolasi, melepaskannya dari konteks utama, lalu menyajikannya seolah-olah sebagai gambaran umum seluruh Gaza.
Hasil penelusuran rekam jejak digital menunjukkan bahwa klaim “Gaza yang tidak Anda lihat” telah disiapkan jauh hari. Frasa tersebut pertama kali diunggah oleh akun @Imshin—yang dikelola oleh Jacki Peled asal Tel Aviv—sejak September 2018. Tagar berbentuk lengkap (#TheGazaYouDontSee) baru rutin digunakan sejak Juni 2019.
Strategi framing ini belakangan diadopsi secara resmi oleh institusi negara. Akun resmi COGAT (Coordinator of Government Activities in the Territories—unit militer Israel yang mengurusi wilayah pendudukan) menggunakan tagar tersebut untuk mengklaim bahwa pasar-pasar di Gaza kembali bergairah dan bantuan pangan melimpah.
Realitas yang Coba Disembunyikan
Di balik potongan video berdurasi beberapa detik tersebut, kondisi kemanusiaan di Gaza berada di titik nadir. PBB mencatat lebih dari satu juta anak di Gaza membutuhkan bantuan psikososial darurat, dengan 96 persen di antaranya hidup dalam bayang-bayang ketakutan akan kematian yang bisa datang sewaktu-waktu.
Laporan terbaru World Food Programme (WFP) memproyeksikan dua pertiga penduduk Gaza akan menghadapi ancaman kelaparan tingkat akut. Pemangkasan anggaran bantuan internasional dan pembatasan ketat pintu masuk perbatasan oleh Israel kian memperburuk keadaan.
Lebih dari dua juta jiwa warga Gaza kini berdesakan di garis pantai yang sempit, bertahan hidup di bawah tenda-tenda lusuh atau reruntuhan bangunan yang membahayakan. Propaganda digital mungkin bisa memoles citra di layar kaca, namun ia tidak akan pernah bisa menghapus fakta atas krisis kemanusiaan yang terjadi di tanah Gaza.










