PALESTINA 48 — Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, kembali memicu gelombang kecaman internasional. Kali ini, politikus sayap kanan ekstrem tersebut mengunggah video berteknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang terang-terangan merayakan kebijakan penderitaan dan pengetatan pangan bagi para tahanan Palestina di penjara-penjara Israel.
Dalam unggahan yang kini mendulang lebih dari dua juta tayangan di media sosial, Ben-Gvir memamerkan kebijakan pemangkasan jatah makan dan isolasi ketat yang diterapkannya. Ia menyertakan narasi singkat yang provokatif: “Kami berjanji, dan kami telah membuktikannya.”
Aksi ini dinilai para pengamat dan aktivis hak asasi manusia bukan sekadar propaganda biasa, melainkan bentuk eksplisit eksploitasi penderitaan manusia yang disulap menjadi panggung pencitraan politik demi menggaet simpati pemilih radikal di dalam negeri.
Pola Lama: Dari Provokasi Langsung ke Konten Digital
Langkah Ben-Gvir memproduksi konten AI bukanlah insiden terisolasi. Sebelumnya, ia menuai kecaman hebat usai mengunggah rekaman saat dirinya mendatangi langsung sel-sel tahanan wanita Palestina di Penjara Damon, dekat Haifa. Dalam video itu, ia terlihat melontarkan kalimat-kalimat bernada merendahkan.
Tindakan tersebut direspons keras oleh Khaled Mahajnah, pengacara dari Komisi Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan Palestina. Menurut Mahajnah, Ben-Gvir berniat membangun persepsi kekuasaan lewat dokumentasi tersebut, namun justru tanpa sengaja membuka mata dunia atas kondisi riil di dalam penjara.
“Dunia kini mendengar langsung suara para tahanan wanita yang dirampas hak-hak dasarnya. Ben-Gvir berdiri mengoceh dengan dikawal ketat para sipir di sekelilingnya, sementara para wanita Palestina itu merespons dan menyampaikan penderitaan mereka tanpa rasa takut sedikit pun,” ujar Mahajnah.
Ia menambahkan bahwa dalam momen tersebut, narasi kekuatan yang ingin dibangun Ben-Gvir justru runtuh oleh keteguhan para tahanan.
Eksploitasi Tahanan demi Panggung Politik
Sejak menjabat sebagai Menteri Keamanan Nasional, Ben-Gvir konsisten menerapkan serangkaian kebijakan pembalasan yang ia sebut sebagai “pengetatan kondisi hold”. Kebijakan ini mencakup pemangkasan pasokan makanan harian, pembatasan akses air, hingga penutupan fasilitas dasar bagi lebih dari 9.500 tahanan Palestina (termasuk sekitar 90 tahanan wanita) yang saat ini mendekam di penjara-penjara Israel.
Para aktivis Palestina mengkhawatirkan kondisi para tahanan akan semakin memburuk dalam beberapa waktu ke depan. Di tengah dinamika politik Israel yang kian keras, nasib para tahanan rentan dijadikan komoditas kampanye untuk menunjukkan siapa pejabat yang paling agresif terhadap warga Palestina.
“Ia menggabungkan rasialisme, kebencian, ketidakmampuan diplomasi, dan keangkuhan dalam satu paket tindakan,” tulis salah satu aktivis dalam unggahan yang viral merespons video tersebut.
Bumerang Propaganda dan Bukti Niat Niat Buruk (Intent)
Di ranah diplomasi digital, video AI buatan Ben-Gvir ini justru dijadikan bukti kunci oleh para kritikus barat. Unggahan tersebut secara mendasar mematahkan klaim resmi pemerintah Israel di panggung internasional yang kerap membantah adanya kebijakan perampasan pangan atau kelaparan yang disengaja.
Seorang aktivis HAM di media sosial menandai Menteri Energi Inggris Ed Miliband dan Walikota Manchester Andy Burnham, seraya menuliskan:
“Ketika Israel berdalih tidak pernah menggunakan kelaparan sebagai senjata terhadap warga Palestina, video dari pejabat resminya sendiri ini adalah bukti niat (intent) tersebut. Mereka bahkan membanggakannya lewat AI. Lantas, atas alasan apa senjata masih terus dikirimkan kepada mereka?”
Gelombang kecaman ini diiringi desakan kuat kepada lembaga-lembaga hukum dan HAM internasional untuk segera turun tangan. Para aktivis mendesak dilakukannya investigasi independen atas kondisi sistemik di dalam penjara-penjara Israel, serta menuntut pertanggungjawaban hukum agar praktik normalisasi kejahatan atas nama panggung propaganda politik tidak terus berlanjut.










