SABASTIYA — Sekitar 12 kilometer ke arah barat laut Kota Nablus, Tepi Barat, sebuah bukit berdiri megah setinggi 463 meter di atas permukaan laut. Di atasnya merentang Sabastiya, sebuah desa bersejarah yang bukan sekadar titik geografis, melainkan tapak jejak peradaban manusia yang membentang lebih dari lima ribu tahun.

Eksistensi Sabastiya adalah saksi bisu dari susun-menusun peradaban, mulai dari bangsa Kanaan pada Zaman Perunggu (sekitar 3200 SM), Kerajaan Samaria di bawah Raja Omri (abad ke-9 SM), hingga pengaruh Asyur, Persia, Hellenistik, Romawi, Bizantium, Islam, Tentara Salib, dan Utsmaniyah.

Kini, nama Sabastiya kembali menjadi sorotan dunia. Pada 24 Juli 2026, Komite Warisan Dunia UNESCO dalam persidangannya di Busan, Korea Selatan, secara resmi menetapkan Sabastiya ke dalam Daftar Warisan Dunia (World Heritage List).

Keputusan ini memicu sukacita luas di Palestina. Perwakilan Tetap Palestina untuk UNESCO, Duta Besar Adel Atieh, menyebut penetapan ini sebagai kemenangan besar bagi identitas nasional Palestina sekaligus langkah krusial untuk melindungi situs berharga tersebut dari ancaman yudaisasi dan pengikisan sejarah.

Namun, pengakuan internasional ini direspons keras oleh otoritas pendudukan Israel. Sejumlah pejabatnya mengklaim bahwa keputusan UNESCO mengabaikan narasi sejarah yang mereka kembangkan di wilayah tersebut.

Nama Abadi dari Kekaisaran Romawi

Etimologi “Sabastiya” berakar dari kata Yunani Sebaste, yang merupakan terjemahan dari gelar Kekaisaran Romawi, Augustus, yang berarti “yang dimuliakan” atau “yang dihormati”.

Nama ini disematkan oleh Raja Herod yang Agung pada tahun 27 SM setelah wilayah tersebut dipindahtangankan kepadanya oleh Kaisar Augustus. Herod merancang dan membangun kembali kota tersebut dengan arsitektur Romawi yang megah.

Jejak masa lalu itu masih berdiri anggun hingga kini, di antaranya:

  • Jalan Pilar Romawi (Colonnaded Street): Bentang jalan sepanjang 800 meter yang dahulunya dihiasi sekitar 600 pilar berornamen Korintus.
  • Teater Romawi: Bangunan setengah lingkaran yang dahulu menjadi pusat kegiatan budaya dan hiburan masyarakat.
  • Kuil Augustus: Puing-puing kuil megah yang dibangun Raja Herod di puncak bukit tertinggi untuk menghormati sang kaisar.
  • Menara Hellenistik: Struktur pertahanan melingkar dari abad ke-4 SM dengan teknik penyusunan batu miring yang khas.
  • Masjid Nabi Yahya AS: Terletak di pusat desa, situs bersejarah ini diyakini dalam tradisi Islam dan Kristen sebagai tempat persemayaman Nabi Yahya AS (Yohanes Pembaptis). Kompleks ini berawal dari katedral era Tentara Salib yang kemudian diubah menjadi masjid setelah pembebasan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi pada 1187 M.

Memasuki era Utsmaniyah, Sabastiya berkembang menjadi salah satu Qura al-Karasi (desa pusat pengaruh lokal) yang dikuasai keluarga-keluarga berpengaruh. Rumah-rumah besar seperti Istana Al-Kayid dan Istana Al-Hawwari menjadi bukti arsitektur tradisional Palestina yang masih tersisa dari era tersebut.

Garis Depan Pertahanan Identitas

Di balik keagungan sejarahnya, Sabastiya kini menghadapi realitas yang pelik. Sekitar separuh dari kawasan cagar budaya ini berada di bawah klasifikasi Area C, yakni wilayah yang berada di bawah kendali militer dan administratif penuh otoritas Israel.

Penetapan status ini membatasi ruang gerak Pemerintah Daerah Sabastiya untuk melakukan perawatan, pemeliharaan, maupun ekskavasi ilmiah di area arkeologi tersebut. Bahkan, upaya pembersihan sampah harian hingga pengibaran bendera Palestina di situs milik mereka sendiri kerap mendapat tindakan represif dari tentara pendudukan.

Ekalasi tekanan semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir. Otoritas pendudukan mengalokasikan anggaran bernilai puluhan juta shekel untuk membangun proyek taman nasional di kawasan tersebut. Proyek ini mencakup pembangunan jalan lingkar baru dan pemagaran yang mengancam akses para petani lokal ke kebun-kebun zaitun warisan leluhur mereka.

Tak hanya itu, sejak kurun 2024–2025, pos-pos militer permanen mulai dibangun di dalam kawasan cagar budaya, tepatnya di area yang mengawasi langsung Kuil Augustus dan beberapa objek vital lainnya.

Penggerebekan berkala, penutupan akses jalan, hingga pembongkaran fasilitas pariwisata warga lokal menjadi dinamika harian yang harus dihadapi penduduk Sabastiya.

Bagi warga setempat, keberadaan situs arkeologi ini bukan sekadar peninggalan batu tua atau objek wisata belaka, melainkan akar identitas dan ruang hidup yang terus mereka pertahankan di tengah himpitan pendudukan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here