PALESTINA – Menteri Keamanan Penjajah Israel yang berhaluan kanan ekstrem, Itamar Ben-Gvir, menyatakan ambisinya untuk menduduki posisi Menteri Pertahanan dalam pemerintahan mendatang. Tak cuma itu, partainya, Otzma Yehudit, juga tengah mendorong anggota parlemen Tally Gotliv untuk mengamankan kursi Menteri Hukum.
Ambisi tersebut diiringi dengan rilis dokumen resmi rencana keamanan yang bakal dieksekusi Ben-Gvir jika kelak memegang komando kementerian pertahanan. Isinya tergolong radikal yakni melucuti seluruh persenjataan aparat keamanan Palestina, serta melancarkan skema “migrasi sukarela” bagi warga Palestina keluar dari Jalur Gaza dan Tepi Barat yang diduduki.
Cetak biru keamanan itu juga memuat perintah untuk mengakhiri kebijakan kompromi, menangkapi para pemimpin Otoritas Palestina, melonggarkan aturan tembak di tempat bagi militer, menaikkan gaji prajurit, hingga membagikan tanah gratis untuk para tentara.
Di ranah hukum, rencana tersebut memplot perombakan drastis: pemecatan mendadak terhadap Jaksa Agung, pengubahan mekanisme penunjukan hakim Mahkamah Agung agar wajib melewati persetujuan dua pertiga suara di Komite Hukum Komite Komite Knesset, serta pembatasan kewenangan peradilan atas keputusan pemerintah melalui prinsip “tidak semua hal bisa diintervensi pengadilan”.
Langkah bertenaga Ben-Gvir ini memperpanjang rekam jejak kontroversialnya, setelah sebelumnya ia mendalangi pendorongan “Rencana Hukuman Mati bagi Pelaku Operasi” terhadap tawanan Palestina yang disahkan Knesset pada akhir Maret 2026 lalu.
Israel kini membentang menuju pemilihan umum yang dijadwalkan pada 27 Oktober mendatang. Kontestasi ini tak sekadar persaingan meraih kursi kekuasaan, melainkan pertaruhan atas masa depan institusi negara dan tatanan politiknya.
Kelompok kanan melihat pemilu ini sebagai jalan meneruskan arah politik keras mereka, sementara para kritikus mewanti-wanti potensi hancurnya pilar-pilar demokrasi dan makin terancamnya masa depan warga Palestina.
Dinamika politik pun bergerak dinamis. Survei jajak pendapat di Israel pada awal September ini merekam kemerosotan elektabilitas koalisi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang diproyeksikan hanya meraup 47 kursi, sementara kubu oposisi melesat memimpin dengan proyeksi 57 kursi di Knesset.










