PALESTINA- Suhu dingin dan guyuran hujan berat mulai membayangi Jalur Gaza. Di tengah krisis yang tak kunjung usai, Kementerian Pembangunan Sosial Gaza memuntahkan peringatan keras, ribuan keluarga pengungsi yang bertahan di tenda-tenda lusuh serta bangunan retak kini berada di ambang bencana baru.
Kementerian mendesak seluruh lembaga kemanusiaan dan relawan lokal untuk membuang pola lama yang sebatas “merespons setelah musibah terjadi”. Mereka diminta merapat, menyatukan barisan, dan melakukan aksi pencegahan di lapangan sebelum cuaca ekstrem benar-benar menerjang.
Peringatan ini sejalan dengan penilaian terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). PBB menempatkan krisis tempat tinggal sebagai salah satu ancaman kemanusiaan paling krusial di Gaza saat ini, meny meny menyusul hancurnya infrastruktur dan makin minimnya pasokan material penunjang.
Fokus Tenda dan Rumah Rentan Rubuh
Pemerintah lokal memetakan tiga prioritas mendesak. Pertama, mengonsolidasikan seluruh peta kerja bantuan agar tidak tumpang tindih. Kedua, memprioritaskan pengadaan tenda siap pakai, selimut tebal, serta terpal kedap air.
Ketiga—yang tak kalah krusial—adalah mengevakuasi keluarga-keluarga yang nekat menghuni bangunan tua bergaya rapuh akibat tak punya pilihan lain. Mereka harus dipindahkan ke fasilitas yang lebih aman sebelum hujan deras melipatgandakan risiko ambruknya struktur bangunan.
Kementerian menegaskan siap memberi kelancaran izin dan koordinasi di lapangan. Dalam kondisi sekritis ini, ego sektoral dianggap hanya akan memperpanjang penderitaan warga.
Gaza dalam Cengkeraman Gedung Ringkih
Ketakutan akan jatuhnya korban jiwa akibat bangunan ambruk bukan sekadar retorika. Baru saja pada 16 September lalu, sebuah gedung kediaman yang telah retak bekas gempuran perang di lingkungan Tal al-Hawa, Kota Gaza, mendadak runtuh. Peristiwa ini menjadi alarm keras bagi Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA).
Dalam laporan berkala OCHA per 18 September, ribuan warga Palestina tercatat masih memaksakan diri tinggal di ratusan gedung yang dikategorikan berbahaya. Alasan utama mereka sederhana: tidak ada lagi jengkal tanah atau shelter yang tersisa.
Sayangnya, ikhtiar organisasi internasional untuk merelokasi warga ke area yang lebih aman membentur tembok tebal. Pembatasan ketat terhadap pasokan tenda, terpal, bahan bakar, alat berat, hingga suku cadang untuk perbaikan gedung membuat proses mitigasi jalan di tempat.
84 Persen Warga Gaza Tak Punya Tempat Kena Angin dan Hujan
Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan. Data terbaru UNICEF per 17 September mengungkap fakta mengerikan: sekitar 84 persen populasi Gaza—atau setara 1,76 juta jiwa—kini berdesakan di kamp pengungsian atau tempat tinggal sementara yang jauh dari kata layak.
UNICEF telah meluncurkan imbauan dana darurat sebesar 97,5 juta dolar AS untuk menopang kebutuhan musim dingin di Gaza dan Tepi Barat mulai Oktober 2026 hingga Maret 2027. Tanpa dana dan akses material, ancaman banjir bandang, hipotermia, dan sanitasi buruk dipastikan membendung warga.
Hasil asesmen OCHA terhadap 178.632 unit hunian di Gaza makin mempertegas skala kerusakan yang ada. Sebanyak 107.941 unit atau sekitar 60 persen di antaranya rusak berat, hancur total, atau sama sekali tak lagi bisa dihuni.
Dengan 2,1 juta jiwa yang kini menyongsong musim hujan tanpa perlindungan memadai, seruan dari Gaza bukan lagi sekadar permohonan rutin. Ini adalah pacuan melawan waktu sebelum gelombang cuaca dingin pertama berubah menjadi tragedi kemanusiaan jilid berikutnya.










