RAMALLAH — Hassan Salameh, tahanan Palestina yang menjalani hukuman 48 kali penjara seumur hidup di penjara Israel, dilaporkan mengalami penganiayaan berat dan ditembak langsung di dalam selnya. Insiden tersebut menyebabkan sembilan luka tembak di sejumlah bagian tubuhnya dan memunculkan kekhawatiran serius terhadap keselamatan jiwanya.
Kabar itu diungkapkan Ghufran al-Zamil, tunangan Salameh, berdasarkan keterangan yang diperolehnya setelah seorang pengacara mengunjungi tahanan tersebut pada Senin lalu. Menurut al-Zamil, penganiayaan terjadi pada 15 September, menyusul perselisihan verbal antara Salameh dan Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir.
Ben-Gvir, politikus sayap kanan ekstrem Israel, sebelumnya mendatangi sel Salameh dan merekam pertemuan mereka dalam sebuah video. Rekaman tersebut memicu gelombang kecaman.
Al-Zamil menuturkan, dalam pertemuan itu Salameh terlibat perdebatan sengit dengan Ben-Gvir. Tahanan Palestina tersebut menegaskan hak rakyat Palestina untuk mempertahankan diri dan tanah mereka, sekaligus mengingatkan menteri Israel itu atas kejahatan yang dilakukan penjajah di Jalur Gaza.
Salameh, sebagaimana dikutip al-Zamil, mengatakan kepada Ben-Gvir:
“Sebagai orang Palestina, saya berhak membela rakyat dan tanah saya. Setelah semua yang Anda lakukan di Gaza, Anda tidak berhak mengadili saya. Anda mengenakan kacamata hitam dan melihat apa yang terjadi pada Anda, tetapi Anda tidak melihat apa yang menimpa rakyat saya.”
Al-Zamil mengatakan, sekitar pukul 16.00 pada hari yang sama, pasukan militer Israel kembali mendatangi sel Salameh. Mereka memukulinya sebelum melepaskan sembilan tembakan ke sejumlah bagian tubuhnya.
Ia mengaku belum mengetahui jenis peluru yang digunakan tentara Israel dalam penyerangan tersebut. Dalam berbagai tindakan represif terhadap tahanan Palestina, otoritas penjara Israel diketahui menggunakan sejumlah alat kekerasan, termasuk peluru merica, peluru karet, dan gas air mata.
Tiga Hari Tanpa Penanganan Medis Memadai
Menurut al-Zamil, otoritas penjara Israel baru mendokumentasikan luka-luka Salameh tiga hari setelah penembakan. Setelah itu, ia dikembalikan ke sel tanpa memperoleh perawatan medis yang memadai. Petugas hanya memberinya obat pereda nyeri meski kondisinya dinilai serius.
Pengacara yang mengunjunginya pada Ahad lalu juga melihat kondisi kesehatan Salameh memburuk. Ia tampak sangat lemah dan kelelahan. Namun, pengacara tersebut tidak berhasil memperoleh keterangan lebih lanjut mengenai lokasi maupun tingkat keparahan luka-lukanya.
Pemimpin Hamas, Abdul Rahman Shadid, mengecam tindakan terhadap Salameh sebagai kejahatan. Ia memperingatkan bahwa serangan terhadap tahanan tersebut, baik secara fisik maupun psikologis, terus meningkat.
Shadid menegaskan Israel bertanggung jawab penuh atas keselamatan Salameh dan seluruh tahanan Palestina. Ia mendesak lembaga-lembaga PBB, organisasi hak asasi manusia, serta institusi kemanusiaan dan medis segera turun tangan untuk memastikan Salameh dan tahanan lainnya memperoleh perawatan yang diperlukan. Ia juga meminta Israel dimintai pertanggungjawaban atas pelanggaran yang dilakukan.
48 Hukuman Seumur Hidup
Di tengah kerasnya penahanan dan isolasi, Salameh tetap menghasilkan sejumlah karya yang merekam pengalaman hidupnya di balik jeruji. Di antaranya Lima Ribu Hari di Dunia Barzakh, Kisah 14 Tahun di Sel Isolasi, Tiga Orang, dan Operasi Pembalasan Suci.
Salameh juga berhasil menghafal Al-Qur’an selama menjalani masa penahanan.
Namanya pernah menjadi salah satu yang diperjuangkan Hamas dalam perundingan pertukaran tahanan dengan Israel. Pada 2011, Hamas meminta Salameh dimasukkan dalam kesepakatan pertukaran tahanan, tetapi Israel menolak membebaskannya.
Hingga kini, Salameh masih menjalani hukuman 48 kali penjara seumur hidup. Serangan terbaru di dalam selnya kembali menyoroti kondisi tahanan Palestina di penjara Israel, terutama ancaman kekerasan dan terbatasnya akses terhadap perawatan medis.
Sumber: Al Jazeera dan media Palestina










