GAZA — Perang genosida Israel memaksa warga Jalur Gaza mencari cara-cara tidak biasa untuk bertahan hidup. Di tengah kelangkaan peralatan, penutupan perbatasan, dan blokade yang terus berlangsung, warga mengandalkan kreativitas untuk mengatasi keterbatasan yang kian menekan kehidupan sehari-hari.

Israel masih membatasi masuknya barang-barang yang dapat meringankan penderitaan warga. Bantuan yang diizinkan masuk pun sebagian besar berupa kebutuhan kemanusiaan dan pangan, dengan jumlah terbatas. Kondisi ini mendorong warga Gaza merancang berbagai alat sederhana, mulai dari mesin cuci, kompor, pembangkit listrik, hingga perlengkapan dokumentasi dan pelindung dari tembakan.

Mesin Cuci dari Keranjang dan Kamera dari Reruntuhan

Taisir Ubaid, seorang pembuat konten di Gaza, merakit mesin cuci sederhana untuk membantu keluarganya. Ia memanfaatkan keranjang dan tongkat pel yang disatukan menjadi alat pencuci pakaian. Perangkat sederhana itu cukup membantu mengurangi beban pekerjaan rumah tangga, terutama saat musim dingin.

Untuk mengatasi gangguan tikus sekaligus menggantikan kebutuhan kain dan plastik, Ubaid juga memanfaatkan kaleng-kaleng makanan kosong sebagai bahan membangun dinding dan ruang kecil.

Sementara itu, Ahmad al-Kahlout mengubah tenda pengungsian menjadi dapur sekaligus studio pembuatan konten. Dengan peralatan seadanya, ia merekam kehidupan sehari-hari, termasuk proses memasak dan menyiapkan makanan.

Al-Kahlout mengatakan, ia sengaja membuat konten dari dalam tenda agar masyarakat dunia dapat melihat langsung penderitaan warga Gaza. Ia ingin memperlihatkan bagaimana warga mencuci peralatan dapur, mencari air, hingga memasak dalam kondisi serba terbatas.

Tala Darwish, pembuat konten lainnya, juga berusaha menyampaikan kondisi warga Gaza kepada dunia. Namun, upayanya terkendala minimnya peralatan dokumentasi.

Menurut Tala, kamera, telepon seluler, dan mikrofon sangat sulit diperoleh. Barang-barang tersebut tidak hanya langka, tetapi juga sulit ditemukan di pasar.

“Saya sangat kesulitan sampai akhirnya menemukan mikrofon. Kamera saya ambil dari bawah reruntuhan,” katanya.

Turbin Angin dari Sisa Peralatan Perang

Di kawasan Al-Mawasi, Khan Younis, Muhammad Jum’ah al-Dabari dan warga lain yang mengungsi dari Rafah berusaha menemukan cara menghasilkan listrik dengan biaya murah. Mereka membutuhkan listrik untuk mengisi daya telepon seluler, penerangan, dan kebutuhan rumah tangga sederhana.

Harga energi alternatif yang melonjak membuat warga tidak mampu membeli perangkat pembangkit listrik. Al-Dabari mengatakan, satu panel surya bahkan mencapai 15 ribu shekel atau sekitar 5.000 dolar AS.

Situasi itu mendorong mereka merakit turbin angin sendiri. Bahan-bahannya berasal dari sisa-sisa peralatan yang rusak akibat perang, seperti sepeda listrik, sepeda biasa, dan pipa rumah kaca yang mereka temukan di bawah reruntuhan.

Di kawasan yang sama, sebuah keluarga pengungsi menggali lubang di tanah dan membangun tanggul untuk melindungi satu-satunya keledai milik mereka dari tembakan berulang tentara Israel. Keledai itu menjadi sumber penghidupan bagi lima keluarga.

Ancaman tembakan juga memaksa warga Beit Lahia, kawasan Al-Mashru’ dan Hay al-Salatin, yang berada dekat Garis Kuning, membangun perlindungan sendiri. Tembakan dari kendaraan pengangkat militer Israel dan milisi yang bekerja sama dengannya membuat warga harus mencari cara melindungi diri dan keluarga.

Amin dan saudaranya, setelah ibu mereka terluka, mengumpulkan puluhan karung tepung kosong. Karung-karung itu mereka isi pasir dan susun menjadi tanggul perlindungan.

Abu Muhammad mengambil langkah lain setelah tembakan acak menghantam tempat tidur putrinya yang masih bayi. Ia membeli kerangka lemari es rusak dan kosong, lalu mengisinya dengan tanah sebagai pelindung. Dalam kondisi seperti itu, warga nyaris tidak memiliki pilihan lain selain bertahan dengan apa pun yang tersedia.

Tanggul dari Panci Bekas Menghadapi Musim Hujan

Sebagian warga tidak hanya membangun pelindung dari tembakan, tetapi juga dari ancaman alam. Menjelang musim dingin, kekhawatiran terhadap air laut yang masuk ke kawasan pesisir semakin meningkat.

Asosiasi Miasem untuk Kebudayaan dan Seni, dengan dukungan World Central Kitchen, membangun penghalang menggunakan panci-panci rusak. Tanggul itu ditujukan untuk melindungi kantor asosiasi dan kamp pengungsian di kawasan pelabuhan dari luapan air laut serta mengurangi dampak banjir saat hujan.

Upaya melindungi tenda pengungsian juga dilakukan dengan cara lain. Sebagian warga menggali parit dan memperkuatnya agar tenda tidak hanyut atau terendam. Ada pula yang memasang kelambu untuk mengusir serangga dan tikus.

Uang Kertas Alternatif di Tengah Kelangkaan Tunai

Di kawasan Zeitoun, Kota Gaza, Abu al-Mu’tashim Nassar membuat uang kertas alternatif untuk mengatasi kelangkaan uang tunai dan terputusnya akses internet.

Uang tersebut memiliki beberapa pecahan, yakni 2, 3, 4, dan 10 shekel. Warga dapat menggunakannya untuk berbelanja di toko maupun restoran. Sistem ini membantu mempermudah transaksi harian lebih dari 2.000 orang.

Nassar menjelaskan, ia mendatangi para pemilik toko setiap Senin dan Kamis untuk mengumpulkan uang kertas alternatif yang mereka miliki. Setelah menghitung seluruh nominal, ia mentransfer nilai uang tersebut melalui aplikasi perbankan dengan memanfaatkan koneksi internet di wilayah lain di luar kawasan itu.

Bangku Sekolah dari Palet Bantuan

Kelangkaan bahan bangunan dan kayu juga memaksa warga memanfaatkan barang-barang yang sebelumnya tidak terpikirkan untuk digunakan kembali.

Adnan Ajjour, seorang tukang kayu yang kehilangan sebagian besar peralatan bengkelnya akibat perang, membongkar palet kayu yang digunakan untuk mengangkut bantuan dan barang-barang ke Gaza. Kayu-kayu itu kemudian ia susun ulang menjadi bangku sekolah untuk menggantikan fasilitas yang dihancurkan Israel.

“Tidak ada kayu. Kami sekarang mengandalkan palet untuk menutupi kekurangan,” kata Ajjour.

Ia memperoleh palet dari lembaga bantuan atau melalui perantara, kemudian mengolahnya menjadi bangku untuk siswa di sekolah dan tempat-tempat belajar sementara.

Rumah Sakit Membuat Alat Penyangga Medis Sendiri

Di tengah keterbatasan peralatan dan tenaga medis, Rumah Sakit Lapangan Al-Zawaida tetap memberikan layanan fisioterapi dan rehabilitasi. Fasilitas ini terus menerima pasien baru sekaligus merawat mereka yang mengalami disabilitas permanen maupun sementara akibat perang.

Muhammad al-Yazji, pengawas fisioterapi rumah sakit tersebut, mengatakan jumlah pasien yang mereka tangani setiap hari berkisar antara enam hingga seratus orang. Mereka menjalani sesi rehabilitasi intensif.

Larangan Israel memasukkan peralatan medis dan kelangkaan bahan-bahan kebutuhan mendorong rumah sakit membangun unit pembuatan bidai plastik pada awal 2025. Unit tersebut memanfaatkan bahan lokal sebagai pengganti perlengkapan medis yang tidak tersedia.

Al-Yazji mengatakan, sebelumnya tim medis terpaksa menggunakan gips tradisional sebagai alternatif. Namun, meski dengan peralatan terbatas, mereka tetap mampu memberikan hasil rehabilitasi yang baik dan membantu pasien memulihkan kemampuan menjalani kehidupan secara bertahap.

Kardus Bantuan Menjadi Mainan Anak

Di tengah pengungsian, kreativitas juga menjadi cara orang tua menjaga anak-anak mereka tetap memiliki ruang bermain.

Karem Salmi, seorang pemuda pengungsi yang rumahnya hancur, kini tinggal bersama keluarganya di tempat yang hanya dibatasi plastik dan kain. Ketika putrinya, Lana, terus menangis, ia kesulitan mencari mainan untuk menenangkan anak tersebut.

Mainan anak sulit ditemukan karena Israel melarang barang-barang itu masuk ke Gaza. Jika tersedia, harganya pun sering kali terlalu mahal.

Karem akhirnya membuat ayunan sederhana dari bahan yang ada di sekitarnya. Ia mengambil kardus bantuan, lalu mengikatnya dengan tali plastik yang dikumpulkan dari reruntuhan rumah.

Kardus bantuan juga menjadi penyelamat bagi ribuan pelajar. Mereka memanfaatkannya untuk menggantikan buku tulis, buku catatan, dan kertas gambar yang tidak tersedia.

Berbagai inovasi tersebut memperlihatkan bagaimana warga Gaza berusaha mempertahankan kehidupan di tengah perang, blokade, dan kelangkaan barang. Dari alat rumah tangga hingga fasilitas pendidikan, mereka mengubah sisa-sisa perang menjadi sarana untuk bertahan, ketika kebutuhan paling mendasar pun sulit diperoleh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here