PALESTINA- Otoritas Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan Palestina mengungkap kondisi kesehatan sejumlah tahanan Palestina di Penjara Nakab, Israel, yang disebut semakin memburuk akibat minimnya layanan medis. Sejumlah tahanan dilaporkan menderita skabies atau kudis hingga mengalami penyebaran bisul dan luka di berbagai bagian tubuh.
Dalam laporan yang dipublikasikan melalui platform digitalnya pada Ahad, lembaga tersebut menyampaikan kesaksian sejumlah tahanan yang dikumpulkan oleh pengacaranya setelah melakukan kunjungan ke Penjara Nakab. Salah satu persoalan yang paling banyak dikeluhkan adalah penyebaran penyakit skabies di antara para tahanan.
Laporan itu juga menyebut sebagian besar tahanan yang ditemui berstatus tahanan administratif. Mereka ditahan berdasarkan berkas rahasia tanpa dakwaan resmi maupun proses persidangan. Penahanan tersebut ditetapkan dan dapat diperpanjang melalui perintah militer Israel.
Salah satu tahanan yang mengalami kondisi kesehatan memburuk adalah Amr Mansour, warga Nablus. Ia menderita skabies yang dalam beberapa hari terakhir berkembang menjadi bisul dalam jumlah besar di sekujur tubuhnya. Mansour juga mengalami sakit kepala kronis akibat migrain.
Mansour ditahan melalui mekanisme penahanan administratif. Israel telah mengeluarkan empat perintah penahanan terhadapnya, masing-masing selama enam bulan. Masa penahanan berdasarkan perintah terakhir dijadwalkan berakhir pada 25 Januari tahun depan.
Kondisi lain dialami Thair Bukeirat, 23 tahun, warga kawasan Sur Baher, Al-Quds. Ia mengalami kesulitan menggerakkan kaki kanannya akibat luka tembak saat ditangkap. Menurut laporan otoritas Palestina, Bukeirat terkena empat tembakan.
Dua peluru menembus tangan kanannya dan menyebabkan kerusakan parah pada tulang. Sebuah peluru jenis dum-dum yang meledak di kaki kanannya juga menghancurkan sebagian tulang. Sementara satu peluru lainnya menembus dada sebelah kiri dan bersarang di paru-parunya.
Setelah tertembak, Bukeirat sempat dibawa ke Rumah Sakit Hadassah Ein Kerem di Israel. Ia menjalani tiga kali operasi sebelum dipindahkan ke tahanan rumah. Namun, ia kembali ditangkap pada 10 Mei 2023 dan dijatuhi hukuman penjara selama 54 bulan.
Kini, Bukeirat dilaporkan mengalami sesak napas dan tekanan pada paru-paru. Ia juga merasakan nyeri di sekujur tubuh. Otoritas Urusan Tahanan Palestina menyebut ia tidak memperoleh obat pereda nyeri.
Tahanan lainnya, Muhammad Bakhit, warga Kamp Pengungsi Askar di Nablus, juga menderita skabies. Penyakit tersebut dilaporkan semakin parah selama sekitar satu bulan terakhir, tetapi ia belum mendapatkan perawatan yang diperlukan. Bakhit telah menerima tiga perintah penahanan administratif.
Nasib serupa dialami Nawar Masyati, warga Deir al-Hatab, dekat Nablus. Kondisi kesehatannya terus memburuk akibat skabies dan penyebaran bisul di berbagai bagian tubuh. Ia disebut telah berulang kali meminta kepada pengelola penjara agar dibawa ke klinik medis, tetapi permintaannya tidak ditindaklanjuti.
Masyati telah menerima tiga perintah penahanan administratif, masing-masing selama empat bulan. Masa penahanan berdasarkan perintah terakhir dijadwalkan berakhir pada 7 Februari 2027.
Sementara itu, Hassan Jalaytah, warga Jericho, dilaporkan berada dalam kondisi kesehatan yang sangat buruk. Ia mengalami luka tembak di kaki kanan, tepat di atas lutut, setelah mendapat kekerasan saat penangkapan.
Jalaytah sempat dibawa ke Rumah Sakit Hadassah untuk menjalani perawatan selama tiga hari. Namun, menurut laporan tersebut, kondisinya tidak menunjukkan perbaikan. Ia masih mengalami nyeri hebat pada kaki dan punggung.
Israel telah mengeluarkan tujuh perintah penahanan administratif terhadap Jalaytah, masing-masing berdurasi enam bulan. Perintah terakhir dijadwalkan berakhir pada 9 November tahun ini.
Keluhan kesehatan juga dialami Salah al-Bashtawi, warga Nablus. Ia menderita gangguan bantalan tulang belakang di bagian leher dan punggung, disertai rasa gatal yang parah. Ia telah menerima dua perintah penahanan administratif, masing-masing selama enam bulan. Masa penahanan berdasarkan perintah terakhir berakhir pada 27 Februari 2027.
Kasus-kasus tersebut menambah daftar keluhan mengenai kondisi kesehatan tahanan Palestina di penjara-penjara Israel. Minimnya akses terhadap pemeriksaan dan pengobatan, sebagaimana dilaporkan otoritas Palestina, membuat sejumlah tahanan yang sakit dan terluka harus menjalani penahanan dalam kondisi kesehatan yang terus menurun.
Klub Tahanan Palestina memperkirakan otoritas Israel saat ini menahan sekitar 9.350 warga Palestina di penjara-penjaranya. Jumlah tersebut mencakup sekitar 350 anak-anak, 90 perempuan, serta lebih dari 3.170 tahanan administratif.
Data itu menunjukkan bahwa ribuan warga Palestina masih ditahan tanpa proses persidangan melalui mekanisme penahanan administratif, sementara keluhan mengenai akses layanan kesehatan di dalam penjara terus bermunculan.










