NABLUS — Pohon zaitun kembali menjadi sasaran dalam rangkaian serangan Israel dan pemukim di Tepi Barat. Dalam beberapa bulan terakhir, pohon-pohon yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga Palestina ditebang, dicabut, dibakar, dirusak, hingga lahan pertaniannya diratakan.
Bagi warga Palestina, zaitun bukan sekadar tanaman. Pohon yang dapat bertahan puluhan bahkan ratusan tahun itu menjadi sumber penghasilan bagi ribuan keluarga sekaligus bagian penting dari kehidupan pertanian mereka.
Serangan terhadap vegetasi Palestina memang tidak hanya menyasar pohon zaitun. Namun, penebangan dan pencabutan pohon zaitun (terutama yang telah berusia tua) menjadi sorotan karena dilakukan menjelang musim panen.
Alasan yang digunakan beragam. Dalam sejumlah kasus, Israel menyebutnya berkaitan dengan “kebutuhan keamanan dan permukiman”. Dalam kasus lain, pohon-pohon tersebut dicabut tanpa alasan yang jelas.
Zaitun, Penopang Ekonomi Petani Palestina
Kerusakan pohon zaitun terjadi di berbagai wilayah Tepi Barat, termasuk Ramallah, Nablus, dan Jenin. Serangan tidak hanya berupa penebangan atau pencabutan pohon, tetapi juga perataan lahan pertanian dan pembatasan akses petani menuju tanah mereka.
Dampaknya tidak sederhana. Pohon zaitun yang telah berusia puluhan tahun membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali produktif jika ditebang atau dicabut.
Wakil Menteri Pertanian Palestina, Tareq Abu Laben, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa zaitun merupakan sektor pertanian terpenting di Palestina. Tanaman tersebut juga mencakup bagian terbesar dari pohon buah-buahan dan menjadi sumber pendapatan utama bagi ribuan keluarga Palestina.
Menurut Abu Laben, sekitar 130 ribu dunam lahan yang ditanami pohon zaitun berada di balik tembok pemisah Israel atau berdekatan dengan kawasan permukiman. Satu dunam setara dengan 1.000 meter persegi.
Angka itu, kata dia, meningkat pada tahun ini dan memasuki musim panen zaitun yang dimulai pada awal Oktober, menjadi sekitar 220 ribu hingga 230 ribu dunam. Peningkatan tersebut dikaitkan dengan bertambahnya serangan pemukim serta pembatasan akses petani ke lahan mereka.
Abu Laben menyebut zaitun sebagai sektor pertanian utama Palestina. Dari sekitar 900 ribu dunam lahan pertanian, sekitar 730 ribu hingga 750 ribu dunam merupakan lahan yang ditanami tanaman produktif, sedangkan sisanya berada dalam tahap menuju masa produksi.
Kerugian Terus Membesar
Data Kementerian Pertanian Palestina mengenai kerusakan pohon zaitun sepanjang 2023 hingga 2026 menunjukkan tren yang terus meningkat.
Kerusakan yang dihitung mencakup penebangan, pencabutan, pematahan, pembakaran, penguburan pohon, penggunaan limbah beracun, pencurian hasil panen, serta pelarangan akses petani ke lahan.
Pada 2023, sekitar 24.698 pohon mengalami kerusakan. Kerugian hasil panen zaitun diperkirakan mencapai 11,9 juta dolar AS, sementara total kerugian mencapai lebih dari 23,3 juta dolar AS.
Setahun kemudian, kerusakan meningkat tajam. Pada 2024, sekitar 69.961 pohon terdampak. Kerugian hasil panen mencapai 23,3 juta dolar AS, dengan total kerugian lebih dari 61,8 juta dolar AS.
Pada 2025, jumlah pohon yang rusak diperkirakan mencapai 91 ribu pohon. Kerugian hasil panen mencapai sekitar 55 juta dolar AS, sedangkan total kerugian diperkirakan mencapai 103 juta dolar AS.
Memasuki 2026, kerusakan kembali meningkat. Hingga akhir September, sekitar 98.293 pohon zaitun telah terdampak. Kerugian hasil panen mencapai lebih dari 66,5 juta dolar AS, sementara total kerugian mencapai sekitar 128,7 juta dolar AS.
Jika seluruh periode tersebut dijumlahkan, sekitar 283.952 pohon zaitun mengalami kerusakan sepanjang 2023 hingga 2026.
Kerugian hasil panen tercatat lebih dari 156,8 juta dolar AS, sedangkan total kerugian telah melampaui 316,9 juta dolar AS.
Angka tersebut belum memperhitungkan dampak jangka panjang dari hilangnya pohon-pohon tua yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali menghasilkan.
Ancaman Menjelang Musim Panen
Abu Laben mengatakan seluruh wilayah Tepi Barat telah mengalami serangan terhadap pohon zaitun, mulai dari pemotongan, pematahan hingga pencabutan.
Ia memperingatkan serangan berpotensi meningkat ketika musim panen tiba. Saat itu, para petani akan kembali memasuki lahan mereka untuk memetik hasil zaitun.
Di Jalur Gaza, kondisinya bahkan lebih parah. Abu Laben mengatakan hampir seluruh pohon zaitun di wilayah tersebut telah hilang akibat perang.
“Sekitar 100 persen pohon zaitun hilang, kecuali beberapa wilayah yang belum tersentuh serangan di Jalur Gaza,” kata dia.
Dalam beberapa pekan terakhir, kerusakan besar dilaporkan terjadi di desa Burqa, Nablus; Araba di selatan Jenin; al-Mughayyir dan Beit Rima di wilayah Ramallah.
Pohon-pohon zaitun diratakan, sementara pemiliknya menyaksikan kerusakan terhadap lahan yang selama bertahun-tahun menjadi sumber penghidupan mereka.
Serangan terhadap Tanah dan Sumber Penghidupan
Komisi Perlawanan Tembok dan Permukiman Palestina, lembaga pemerintah Palestina, mencatat 2.030 serangan yang dilakukan tentara Israel dan pemukim terhadap warga Palestina, tanah, serta properti mereka sepanjang Agustus lalu.
Dari jumlah tersebut, 1.402 serangan dilakukan tentara Israel dan 628 serangan dilakukan pemukim.
Nablus menjadi wilayah dengan jumlah serangan tertinggi, yakni 380 kasus, disusul Ramallah dan al-Bireh dengan 353 kasus, kemudian Hebron sebanyak 275 kasus.
Data tersebut, menurut lembaga itu, menggambarkan kekerasan yang terus berlangsung terhadap warga Palestina dan aset mereka.
Bagi para petani, persoalannya bukan hanya kehilangan satu pohon atau satu musim panen. Pohon zaitun yang tumbang berarti hilangnya sumber pendapatan yang mungkin baru dapat dipulihkan setelah bertahun-tahun.
Di tengah tekanan tersebut, musim panen kembali tiba. Bagi petani Palestina, memasuki kebun zaitun tahun ini bukan sekadar soal memetik hasil bumi, tetapi juga mempertahankan akses terhadap tanah yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Sumber: Al Jazeera










