GAZA — Di tengah realitas konflik yang teramat kelam, menjelaskan situasi Palestina kepada anak-anak jelas bukan perkara gampang. Namun, sejumlah penulis dan ilustrator memilih tidak tinggal diam. Bermodalkan pena, garis warna, dan empati mendalam, mereka merawat ingatan kolektif tentang tanah para nabi agar tetap hidup di benak generasi penerus.

Gerakan literasi ini mendapat dukungan kuat dari berbagai penerbit dan lembaga internasional. Isu Palestina kini diangkat lewat cerita bergambar, bait puisi, hingga buku kebudayaan yang dikemas ringkas namun tetap sarat makna.

Apresiasi Global dan Narasi Lokal

Satu contoh menarik terlihat pada buku cerita Talal and the Orange Land karya Muhannad Al-Akous. Mengisahkan anak bernama Talal yang berusaha menyelamatkan kebun jeruk kesayangannya, buku ini menyelipkan pesan tentang kehilangan, ketangguhan, dan harapan secara halus tanpa kesan menggurui.

Penerbit Zingo Ringo di Lausanne, Prancis, membawa buku ini masuk ke dalam daftar rekomendasi International Board on Books for Young People (IBBY). Lembaga literasi anak dunia tersebut mencatat tak kurang dari 61 judul buku bertema Palestina yang dikaji dan diperbarui secara berkala oleh tim ahli internasional.

Langkah serupa digaungkan platform Hadi Badi di Mesir yang aktif mengoreksi direktori literasi Palestina dalam bahasa Arab, Inggris, hingga Prancis. Di Inggris, portal Inclusive Books for Children menyediakan kanal khusus bacaan anak usia 1–7 tahun guna mengenalkan warisan budaya Palestina sejak dini.

Bukan Sekadar Ilustrasi, Ini Bentuk Perlawanan

Karya Saeed and the Wonderful Keffiyeh tulisan Dana El-Husseini turut menyabet daftar kehormatan IBBY. Ilustratornya, Heba Abu Kweik, mengungkapkan betapa emosionalnya proses pengerjaan karya tersebut.

“Saya melukis bukan cuma dengan kuas, tapi dengan hati,” tutur Heba kepada Al Jazeera. “Pengalaman masa kecil saya di Yerusalem (melihat Bab al-Amud, Al-Aqsa, dan Gereja Makam Kudus) semua saya tuangkan dalam warna-warna hangat. Saya ingin anak-anak merasai kehangatan tempat itu, lengkap dengan tradisi keffiyeh, tari dabke, hingga hidangan maqluba.”

Bagi Heba, garis dan warna adalah senjatanya untuk mempertahankan identitas bangsa yang berusaha dikikis.

Menolak Lupa di Tengah Isu yang Pasang Surut

Dukungan penerbit terhadap isu Palestina diakui naik turun mengikuti tensi geopolitik. Kondisi inilah yang sempat memicu akademisi sekaligus penulis Mesir, Dr. Afaf Tabbala, meluncurkan buku Two Pictures.

“Beberapa bulan sebelum peristiwa badai Al-Aqsa, saya merasa orang-orang mulai melupakan Palestina,” ungkap Afaf.

Berangkat dari latar belakang ayahnya yang pernah menjadi komandan batalion relawan pada Perang 1948, ia menuliskan kisah emosional hubungan historis Mesir-Palestina dari sudut pandang seorang anak.

Bagi Afaf, keberhasilan buku anak tidak hanya diukur dari seberapa besar dampaknya, melainkan dari konsistensinya menyuarakan kebenaran. Cerita anak hadir sebagai benteng pertahanan terakhir agar nama Palestina tidak hilang dari ingatan sejarah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here