RAMALLAH — Penjara-penjara militer Penjajah Israel kian menjadi tempat yang mengerikan bagi para tawanan Palestina. Lembaga Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan Palestina merilis kesaksian terbaru yang memperlihatkan memburuknya krisis kemanusiaan di Lapas Ofer dan Janut, mulai dari penganiayaan fisik, krisis sanitasi pemicu kudis, hingga larangan melaksanakan shalat berjamaah.

Melalui dua rilis resminya, lembaga tersebut membeberkan kondisi tiga tahanan di Penjara Ofer yang kesehatannya makin kritis. Salah satunya adalah Maher Rizq Abdel Nu’san (60 tahun), warga Desa Al-Mughayyir, Ramallah, yang ditangkap sejak 6 Juli lalu.

Maher mengalami penyiksaan berat saat ditangkap. Ia dipukuli, dijemur berjam-jam di bawah terik matahari, hingga disulut rokok pada tubuhnya. Bekas-bekas penyiksaan itu masih membekas hingga kini. Kondisi fisiknya kian merosot akibat penyakit kronis yang diidapnya, diperparah oleh rasa sakit di dada, punggung, dan bahu akibat penganiayaan. Pihak penjara sengaja membiarkannya tanpa penanganan medis yang memadai.

Kondisi tak kalah memprihatinkan dialami Rafiq Ra’id Rafiq Qabaj (23 tahun), mahasiswa farmasi asal Al-Bireh yang ditangkap untuk ketiga kalinya sejak Februari lalu. Menurut pengacaranya, Rafiq yang memang memiliki riwayat gangguan detak jantung kini harus berjuang melawan penyakit kudis (scabies). Penyakit kulit ini meluas cepat dan menginfeksi hampir seluruh penghuni sel akibat sanitasi penjara yang sangat buruk.

Larangan Shalat Berjamaah dan Krisis Air

Kesaksian lain datang dari Ali Abdel Eid Barghouthi (23 tahun). Ia mengungkapkan bahwa pengelola Penjara Ofer kini melarang para tahanan menggelar shalat berjamaah. Siapa pun yang memberanikan diri menjadi imam shalat dipastikan bakal dijatuhi sanksi disipliner.

Tak hanya itu, para tahanan diintimidasi dengan razia sel yang intensif. Penggeledahan kerap diwarnai perusakan hingga penyitaan barang-barang pribadi.

Kondisi sanitasi pun kian mengenaskan. Para tahanan tak diberi akses pakaian ganti yang cukup. Mereka terpaksa mencuci pakaian seadanya tanpa sabun saat masa istirahat, yang justru mempercepat penularan wabah kudis di dalam penjara.

“Kami mendesak intervensi internasional yang mendesak untuk menyelamatkan nyawa para tahanan, terutama mereka yang sakit dan lansia. Praktik penganiayaan dan pembiaran medis ini harus segera dihentikan,” tegas lembaga tersebut dalam pernyataan resminya.

Kondisi di Penjara Janut: Makanan Basi dan Penganiayaan Fisik

Kondisi di Penjara Janut tak kalah menyedihkan. Laporan lembaga menunjukkan bahwa para tahanan di sana menghadapi intimidasi harian, kelaparan, dan krisis medis.

Tahanan Osama Fathallah Al-Shani, yang mendekam sejak November 2024, mengalami pergeseran tulang belakang (herniated disc) yang memicu rasa sakit luar biasa. Pihak sipir secara konsisten menolak memberikannya obat pereda nyeri. Osama juga melaporkan bahwa kualitas makanan yang diberikan sangat buruk dan minim gizi, membuat berat badan para tahanan merosot drastis.

Tindakan represif sipir kerap berujung kekerasan fisik. Qassam Abdel Karim Shibli merinci kejadian pada 4 September lalu, ketika unit penindak Israel mendobrak sel-sel tahanan. Mereka melepaskan tembakan peluru karet, gas air mata, dan memukuli para tahanan hingga dua orang terluka.

Kasus pembiaran medis juga dialami Ashraf Muhammad Hassan Al-Zaghari. Ia menderita luka tembak di kedua lututnya serta luka di telinga kiri akibat aksi penyerbuan sipir di Penjara Ofer satu setengah tahun lalu. Hingga kini, Ashraf masih mengalami gangguan pendengaran berat dan dengungan di kepala tanpa pernah mendapatkan pengobatan. Sementara itu, tahanan administratif Ahmad Mustafa Balidi dari Salfit dilaporkan membusuk di dalam sel akibat infeksi kudis yang tak kunjung dirawat.

Berdasarkan data Klub Tahanan Palestina (Palestinian Prisoners Society), saat ini terdapat lebih dari 9.400 warga Palestina yang mendekam di penjara-penjara Israel, termasuk 370 anak-anak dan 92 perempuan. Sebagian besar dari mereka bertahan di tengah ancaman penyiksaan dan pengabaian hak-hak dasar manusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here