TEPI BARAT — Gelombang intimidasi dan kejahatan militer Israel di berbagai wilayah Tepi Barat yang diduduki kian tak terkendali. Pasukan Penjajah Israel (IDF) kembali melancarkan aksi penggerebekan berskala besar yang diwarnai bentrokan, korban luka-luka, hingga penangkapan massal terhadap puluhan warga Palestina.
Aksi brutal ini berjalan serentak dengan pengetatan blokade yang mengisolasi seluruh pemukiman, serta aksi pembongkaran rumah, fasilitas pertanian, dan tempat usaha warga.
Di lapangan, dua pemuda Palestina dilarikan ke rumah sakit usai menjadi korban penganiayaan berat oleh prajurit Israel saat penggerebekan di Desa Awarta, sebelah tenggara Nablus. Sumber lokal melaporkan bahwa militer Israel tak segan melesakkan peluru tajam, bom gas air mata, dan granat kejut ke arah warga, hingga memicu bentrokan sengit di sepanjang jalan desa.
Kekerasan serupa merembet ke Tulkarm. Pasukan Israel menciduk seorang pemuda, Qusai Nidal al-Mas’ud, setelah mengacak-acak kediamannya di Desa Bala’a. Sementara di Bethlehem, Rami Issam al-Amour (24 tahun) ditangkap saat tentara melancarkan penggerebekan di Desa Tuqu’ sembari mendirikan pos pemeriksaan militer di pusat kota.
Rangkaian aksi intimidasi ini memperpanjang Operasi Pembersihan Militer yang dilancarkan sejak pertengahan pekan. Sedikitnya 21 warga Palestina (termasuk dua anak di bawah umur) digeret ke sel tahanan dalam operasi sweeping di Tulkarm, Bethlehem, Nablus, Hebron, Jenin, dan Ramallah.
Tak hanya itu, kawanan pemukim ilegal dengan dikawal ketat tentara merangsek ke area Surda, Silwad, dan Qaffin, hingga menyita paksa sebuah truk bermuatan pisang di wilayah Al-Ras al-Ahmar, sebelah tenggara Tubas.
Blokade Ketat Beit Iksa dan Penggusuran Massal di Yerusalem-Jenin
Di balik aksi penangkapan, otoritas Israel juga terus memperketat isolasi fisik. Memasuki minggu kedua, warga Desa Beit Iksa di barat laut Al-Quds yang diduduki dipaksa hidup terisolasi. Kebijakan ini menyandera sedikitnya 32 warga Palestina dalam situasi serba salah, dilarang pulang ke rumah atau takut keluar desa karena diancam tak boleh kembali.
Kantor Gubernur Yerusalem menyatakan otoritas Israel memberlakukan “alasan keamanan” untuk menolak izin masuk 13 warga, sementara 19 warga lainnya terpaksa bertahan di dalam desa tanpa akses layanan kesehatan dan bahan pokok karena khawatir hak tinggal mereka dicabut begitu melangkah keluar.
| Wilayah | Bentuk Kejahatan & Intimidasi | Dampak pada Warga Palestina |
| Nablus & Tulkarm | Penembakan peluru tajam, gas air mata, & penangkapan | Pemuda luka-luka, puluhan warga dipenjara |
| Beit Iksa (Al-Quds) | Blokade total & pembatasan izin melintas | 32 warga terisolasi dari akses medis & pangan |
| Silwan & Jenin | Penggusuran rumah, 12 rumah kaca, & 8 toko | Puluhan keluarga kehilangan mata pencaharian |
Di Kota Tua Al-Quds, buldoser militer Israel meratakan rumah milik Yusuf al-Rashiq di lingkungan Al-Bustan, Silwan, setelah pemiliknya dihajar hingga babak belur. Penggusuran juga menyasar sebuah bangunan peternakan di Al-Ram, yang diwarnai hujan gas air mata ke arah pemukiman warga.
Keganasan infrastruktur ini turut menerjang Jenin. Militer Israel meratakan 12 rumah kaca (greenhouse), 8 gudang komersial, 10 ruang pertanian, serta pagar dari dua kawasan perkebunan di dekat Desa Arana.
Di saat yang sama, pemukim ekstremis Yahudi terus memperluas wilayah rasis mereka dengan memasang kawat berduri di dekat komunitas Baduy Al-Mahtoush dan mendirikan tenda pemukiman baru di Desa Al-Rashayida, Bethlehem.
Kota-kota di Tepi Barat kini praktis berada di bawah ancaman serbuan harian pasukan Israel dan teror pemukim ilegal. Tanpa ada perlindungan internasional, warga Palestina di Tepi Barat terus dipaksa bertahan menghadapi penggusuran tanah dan ruang hidup yang makin menyempit saban harinya.









