PALESTINA 48 — Peta politik Israel kembali memanas menjelang pemilu legislatif. Pemimpin Partai Demokrat sekaligus mantan Wakil Kepala Staf Militer Israel (IDF), Yair Golan, mengancam akan memenjarakan dan menuntut Sara Netanyahu (istri Perdana Menteri Benjamin Netanyahu) ke pengadilan atas tuduhan pencemaran nama baik dan penyebaran teori konspirasi.
Langkah hukum ini dipicu oleh pernyataan kontroversial Sara Netanyahu dalam wawancara di Channel 14 Israel. Dalam wawancara tersebut, Sara secara terbuka menuding Golan memiliki pengetahuan awal terkait rencana serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Sara mempertanyakan pergerakan Golan pada pagi hari saat serangan terjadi. Menurut versi Sara, seorang perwira militer senior berpangkat jenderal seperti Golan tidak mungkin berada di medan tempur sejak subuh dalam kondisi siap tempur tanpa adanya informasi atau koordinasi awal.
Istri Perdana Menteri tersebut menambahkan bahwa Golan tiba di lokasi serangan sangat cepat, bahkan sebelum situasi dipahami oleh pejabat tinggi lain, termasuk oleh suaminya sendiri, Benjamin Netanyahu. Hal ini diartikan sebagai tuduhan terselubung atas keterlibatan atau keterkaitan Golan dengan rentetan peristiwa tersebut.
Dengan nada sindiran, Sara melontarkan pernyataan bernada sinis. “Siapalah perdana menteri sampai harus tahu kalau perang akan pecah? Untuk apa dia diberi tahu?” ujarnya.
Saat didesak pewawancara apakah ia sedang menuduh adanya pengkhianatan dari internal militer, Sara memilih tidak menjawab tegas. “Saya tidak ingin bicara. Saya tidak tahu. Biarlah ada komite penyelidikan resmi yang membuktikannya,” tuturnya.
Tuduhan ini mencerminkan kian meluasnya narasi konspirasi di dalam lingkaran politik Israel, di mana kubu sayap kanan yang berkuasa mulai secara terbuka mempertanyakan loyalitas dan kinerja jajaran pimpinan militer.
Netanyahu Ngeles: “Mereka Tidak Membangunkan Saya”
Di saat yang sama, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu melontarkan narasi serupa yang menyudutkan pejabat keamanannya sendiri. Netanyahu mengklaim bahwa para pejabat keamanan sengaja tidak membangunkan dirinya pada pagi hari tanggal 7 Oktober 2023.
“Mengapa mereka tidak membangunkan saya? Karena mereka tahu, sebagai perdana menteri, saya pasti langsung memerintahkan seluruh kekuatan militer dalam kondisi siaga penuh. Semua itu bisa dilakukan saat itu. Tapi informasi ini disembunyikan dari publik,” ujar Netanyahu dalam siaran langsung di Instagram.
Sebelumnya, Netanyahu memang kerap beralasan bahwa pihak keamanan terlambat memberitahunya. Namun, tuduhan bahwa tindakan tersebut dilakukan secara “sengaja” oleh pimpinan militer baru mulai ia gaungkan secara masif dalam beberapa hari terakhir.
Gelombang Amarah dan Gertakan Tuntutan Hukum
Pernyataan Sara Netanyahu memicu gelombang kemarahan luas dari oposisi Israel. Insiden ini kian mempertegas polarisasi politik yang tajam di Israel, mengingat pemilu legislatif dijadwalkan bakal digelar dalam waktu kurang dari dua bulan.
Merespons tudingan tersebut, Yair Golan langsung melayangkan gertakan hukum. Ia menuntut Sara Netanyahu membayar ganti rugi sebesar 2,5 juta shekel (sekitar Rp13,2 miliar) jika dalam kurun 24 jam tidak menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.
Golan menyatakan seluruh uang ganti rugi tersebut nantinya akan didonasikan kepada para penyintas tragedi festival musik Nova di Re’im.
“Sara Netanyahu sedang mempropagandakan konspirasi bohong demi merestrukturisasi narasi peristiwa 7 Oktober. Ia berusaha mengubah mereka yang mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan warga menjadi pengkhianat, sementara pihak yang mengabaikan keamanan Israel justru dikesankan sebagai korban,” kritik Golan.
Melalui unggahan di platform X, Golan menegaskan bahwa tuduhan tersebut sudah melampaui batas. “Membagikan teori konspirasi terhadap Jenderal Yair Golan dan mendegradasi aksi heroismenya pada 7 Oktober adalah tindakan yang melampaui garis merah dan mencerminkan kegilaan politik.”
Kecaman keras juga datang dari Gadi Eisenkot, mantan Kepala Staf Militer Israel yang kini menjadi salah satu rival politik utama Netanyahu. Eisenkot mengkritik keras narasi “teori pengkhianatan gila” yang dihembuskan oleh istri perdana menteri tersebut.
“Pernyataan tersebut tidak memiliki tujuan lain selain memprovokasi kebencian dan memperpanjang masa kekuasaan Netanyahu,” tegas Eisenkot melalui akun X miliknya.
Perselisihan elit politik ini terjadi di tengah berlanjutnya operasi militer Israel di Jalur Gaza sejak Oktober 2023. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza yang diakui kredibilitasnya oleh PBB, gempuran Israel telah menewaskan lebih dari 73 ribu jiwa dan memicu krisis kemanusiaan terburuk di kawasan tersebut.










