GAZA — Bagaimana rasanya merajut sisa hidup ketika kematian pernah berada hanya sepersekian senti di depan mata? Bagi mereka yang bertaruh nyawa di garis depan kemanusiaan Jalur Gaza, kematian bukan lagi sekadar angka atau kabar duka, melainkan aroma, bentukan potongan tubuh, dan jejak traumatis yang menetap dalam sanubari.

Hanya separuh tubuh bagian bawah sang ayah yang terlihat, sementara sisanya tertimbun di bawah tiga lapis reruntuhan beton. Petugas medis Abdul Qader Ahmed berlari kencang, merangkul kaki ayahnya, lalu menempelkan bibirnya di sana sembari terisak, “Engkau meminta syahid dan kini telah mendapatkannya, Yah.”

Detik-detik memilukan itu melemparkan ingatan Abdul Qader pada sebuah percakapan lama. Kala itu, sang ayah mendadak memotong perjalanan luar negerinya dan memutuskan kembali ke Gaza pada hari kedua perang. Ketika keluarga bertanya alasan di balik keputusan nekatnya, sang ayah menjawab lugas: “Aku pulang untuk mati syahid di sini, atau untuk tetap hidup dan shalat di Masjid Al-Aqsa.”

Sang ayah pula yang memantapkan hatinya untuk terus bertugas sebagai sukarelawan medis di Gaza utara, melepaskan kekhawatiran seorang anak dengan kalimat yang terus terngiang: “Aku telah menyerahkanmu kepada Allah, Nak. Berjalanlah bersama-Nya.”

Menamai Potongan Tubuh Keluarga Sendiri

Tak pernah terbayangkan oleh Abdul Qader bahwa profesi medisnya akan berujung pada ujian paling berat sebagai seorang anak. Hari itu, peran penyelamat yang biasa ia jalani luluh lantak; ia berubah menjadi seorang anak yang mencari jasad keluarganya sendiri di balik bongkahan puing.

“Ibumu, saudara-saudara perempuanmu, pamanmu, keponakanmu, hingga iparmu… semuanya ada di sini,” ujar warga di lokasi kejadian.

Pencarian bermula dari sang ibu. Abdul Qader memindahkan batu demi batu sambil terus memanggil namanya, hingga seorang warga memintanya memeriksa jenazah wanita yang terlempar dari lantai enam ke halaman tetangga akibat ledakan roket. Jasad itu memang ibunya—utuh, namun tanpa kepala.

Abdul Qader mengenang pergolakan batin yang membakar dadanya saat itu: antara dorongan kuat menemukan kepala sang ibu agar bisa dimakamkan secara utuh, atau harapan agar tidak pernah menemukannya demi menjaga memori Wajah cantik sang ibu sebagaimana yang selalu ia ingat.

Setelah pencarian panjang, ia menemukan sepotong kulit kepala beserta sisa rambut ibunya. Dengan hati-hati, ia meletakkannya di dalam kain kafan, mengusap helai rambut itu di antara jemarinya, sebelum kembali menyisir puing mencari kerabat yang lain. Tak lama, ia dipanggil ke rumah sakit dan dihadapkan pada tumpukan daging, tulang, dan potongan tubuh yang tak lagi mengenali bentuk.

Sebagai petugas medis sekaligus ahli waris, ia harus mengidentifikasi setiap potongan tubuh tersebut dan memasukkannya ke kafan yang tepat. “Ini bagian dari Paman Bilal, ini tangan Paman Diab, dan ini jemari adikku Maryam yang baru saja menikah,” tutur Abdul Qader menggambarkan kepiluan detik-detik tersebut. “Saya membekukan perasaan dan menghentikan pikiran. Saya bertindak murni sebagai petugas medis yang tak mengenal siapa mereka, hanya demi menyelesaikan tugas.”

Di antara jasad yang gugur, terdapat Salah, keponakannya yang baru berusia tujuh tahun. Abdul Qader hanya menemukan leher dan sisa rambut bocah itu di antara tumpukan jenazah. Setelah pemakaman selesai, ia kembali ke lokasi ledakan dan menemukan kedua telapak tangan Salah di atap rumah tetangga. Tanpa ragu, ia menggali kembali makam sang keponakan dan menyatukan jemari mungil itu di samping jasadnya.

Kini, tiga tahun berlalu sejak pembantaian tersebut, bayang-bayang itu tak pernah benar-benar pergi. “Setiap jalan yang saya lalui menyimpan cerita tentang pengeboman, evakuasi, jasad yang berhasil diangkat, dan mereka yang tertinggal di bawah reruntuhan,” ungkap Abdul Qader. Ia terdiam sejenak sebelum menuturkan, “Perang telah menetap dalam geografi kota ini, persis seperti ia menetap dalam ingatan saya.”

Getar Jiwa Pemulasara Jenazah

Di sudut lain, pada jarak yang sama dekatnya dengan maut, proses penyucian dan pengkafanan jasad menjadi saksi bisu betapa dalamnya luka yang ditinggalkan konflik. Abdul Karim Jaser, seorang pemulasara jenazah yang saban hari menyentuh dan membungkus para korban, mengaku getaran takut itu tak pernah sirna.

Jaser menepis anggapan bahwa pekerjaan memulasara jenazah pada akhirnya akan menumpulkan rasa empati. Baginya, setiap jasad yang ia mandikan tetaplah seorang manusia yang memiliki kehormatan, martabat, dan kisah hidup yang meninggalkan bekas mendalam. Bayangan itu kerap mengekor hingga ia tiba di rumah, di saat anak-anaknya menanti sosok ayah yang ‘normal’.

Sementara itu, Atiya Al-Dabbour, pemulasara lainnya, menceritakan tentang ‘hantu indera’ berupa suara-suara yang terus bergema di telinganya. Ia mencoba berlari dari ingatan itu, namun sia-sia. Jeritan seorang istri yang kehilangan suaminya lalu merangkul jasad sang suami sembari meratap, “Lalu apa yang harus aku perbuat dengan bayi kembar di dalam perutku ini?”, atau bayangan wajah bocah kelaparan yang mendapati ibunya tewas setelah berjanji akan membawa makanan, terus menghantuinya.

Ketika Dokter Dipaksa Memilih

Jika para pemulasara berhadapan dengan jasad yang telah berpulang, Dr. Moatasem Harara, Kepala Departemen UGD di Kompleks Medis Al-Shifa, bertarung dengan kematian dari sisi yang berbeda.

Ia membagikan kenyataan pahit yang harus disaksikannya saban hari: melihat pasien terluka di depan mata yang sebenarnya bisa diselamatkan jika alat medis tersedia, namun terpaksa dibiarkan meninggal karena ketiadaan fasilitas. “Kepala yang hancur, tubuh yang terbakar, hingga balita yang kakinya terpaksa diamputasi bahkan sebelum ia belajar berjalan,” cerita Dr. Moatasem. Bayangan itu terus mengejarnya, baik saat terbangun maupun dalam tidur.

Namun, yang paling menghujam ingatannya adalah kisah seorang wanita hamil yang tiba di rumah sakit dalam kondisi tewas tanpa kepala, sementara detak jantung janin di rahimnya masih terdengar. Tanpa membuang waktu, ia melakukan operasi darurat dan mengeluarkan bayi tersebut untuk memberinya kesempatan hidup. Sayangnya, ketiadaan inkubator dan ruang perawatan intensif membuat bayi itu menyusul ibunya 12 jam kemudian.

Kondisi ekstrem memaksanya untuk ‘mengosongkan’ ingatan setiap kali melangkah ke UGD di hari berikutnya agar tetap sanggup bekerja. Meski demikian, bertahun-tahun hidup dalam pusaran trauma membuat fisiknya terkuras. Ia mengakui, kapasitas energinya kini tak lagi sama seperti sebelum perang pecah.

Sebagai pimpinan UGD, Dr. Moatasem dituntut untuk tidak boleh runtuh. Ia harus mengumpulkan sisa kekuatan demi menjadi penopang bagi rekan-rekan sejawatnya, di saat dirinya sendiri harus berjuang melawan kelaparan, pengungsian, dan rasa lelah yang luar biasa.

Namun, kehadiran maut yang terlampau pekat membawa risiko lain: kematian berisiko dianggap sebagai hal biasa. Dr. Moatasem menuturkan, para dokter harus saling mengingatkan agar sikap apatis tidak meracuni cara mereka melayani pasien. “Anggaplah pasien di depanmu itu adalah ayahmu, ibumu, atau keluargamu sendiri,” menjadi mantra yang kerap mereka bisikkan satu sama lain untuk menjaga sifat kemanusiaan mereka.

Bau Maut dan Trauma yang Tertinggal

Bagi Shuruq Al-Rantisi, seorang perawat sukarelawan yang selamat dari pengepungan Rumah Sakit Kamal Adwan, memanggil ingatan tentang perang tidak membutuhkan visual—cukup dengan bau. “Apakah kematian memiliki aroma? Ya, itu adalah bau darah yang bercampur dengan mesiu dan daging yang membusuk,” tuturnya.

Shuruq mengaku, pada awal konflik ia sering menangis setiap kali melihat luka parah. Namun, rentetan korban mutilasi yang datang bertubi-tubi menyita waktu, bahkan untuk sekadar merasa takut. Ia teringat rekan kerjanya, Israa, yang tewas ditembak saat keluar rumah sakit hanya untuk mengantarkan roti kepada ayahnya, atau momen ketika pasukan pendudukan mencabut besi platina dari kaki pasien dan mematikan alat penunjang hidup karena tak ada lagi harapan.

Menanggapi fenomena trauma kolektif ini, psikolog Saeed Al-Kahlout menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya tidak dirancang untuk berada dalam kondisi panik dan berduka secara terus-menerus tanpa henti. Jiwa manusia secara alami akan menyempitkan ruang emosinya—bukan karena terbiasa dengan kematian, melainkan sebagai mekanisme pertahanan diri agar tetap mampu menjalankan fungsi dasar kehidupan.

“Manusia tidak pernah benar-benar terbiasa dengan kematian. Mereka hanya belajar bagaimana berjalan di sampingnya atau melaluinya agar tetap bisa bertahan hidup,” jelas Al-Kahlout.

Ia menambahkan, efek psikologis ini kerap baru memuncak ketika situasi mulai tenang, sebab di tengah ancaman, fokus utama warga Gaza hanyalah bertahan hidup mencari makan dan tempat berlindung. Al-Kahlout menegaskan bahwa pemulihan tidak menuntut seseorang untuk melupakan ingatan kelam tersebut, melainkan menempatkan kenangan itu di masa lalu agar tidak terus menyoroti masa depan.

Ketika ditanya bagaimana perang dapat dihapus dari ingatan warga Gaza, Al-Kahlout menjawab mantap: “Yang dibutuhkan bukanlah menghapus ingatan mereka, melainkan menjadikan perang tersebut sebagai bagian dari bab perjalanan kisah hidup mereka, dan bukan keseluruhan dari cerita itu sendiri.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here