GAZA CITY — Eskalasi keamanan di Kota Gaza mendadak memanas pada Selasa. Sebuah pasukan khusus militer Israel dilaporkan melakukan infiltrasi ke kawasan Al-Kutiba dan Ansar di Gaza barat. Langkah ini langsung disusul rentetan tembakan intensif dan pemboman udara di tengah permukiman yang padat oleh tenda-tenda pengungsi.
Berdasarkan data medis dari Rumah Sakit Al-Shifa, gempuran udara yang melingkupi operasi tersebut menewaskan sedikitnya empat warga sipil (termasuk tiga anak-anak dan seorang wanita) serta melukai belasan lainnya.
Sementara itu, sumber-sumber lokal menyebut pasukan menyusup itu sempat terlibat kontak tembak sengit dengan kelompok perlawanan sebelum akhirnya melarikan diri di bawah lindungan jet tempur.
Insiden ini memicu kesimpangsiuran informasi terkait target utama operasi dan sejauh mana misi tersebut memetik hasil di lapangan.
Penyergapan di Tengah Tenda Pengungsi
Kawasan Al-Kutiba dan Ansar selama ini menjadi titik tumpu ribuan warga yang kehilangan tempat tinggal. Di situlah tenda-tenda darurat berdiri rapat. Saksi mata dan koresponden lapangan melaporkan drone-drone tempur melayang rendah, melepaskan amunisi peledak yang disusul rentetan tembakan artileri.
Situasi kacau tersebut sempat mengunci pergerakan tim medis. Mobil ambulans kesulitan menerobos lokasi karena sengitnya imbakan peluru yang terus membabi buta di sekitar rumah sakit lapangan.
Beda Klaim: Penangkapan Pejabat atau Infiltrasi Gagal?
Perbedaan narasi yang mencolok bermunculan dari kedua belah pihak terkait apa yang sebenarnya terjadi saat operasi berlangsung:
- Versi Tel Aviv: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa dinas intelijen Shin Bet dan militer telah merancang “operasi khusus yang berani”. Hasilnya, klaim Netanyahu, mereka berhasil membekuk Kepala Dinas Keamanan Internal Hamas di dekat kediamannya. Sosok tersebut dituduh bertanggung jawab menyembunyikan sandera, menyembunyikan petinggi Hamas, dan mencoba membangun kembali kendali organisasi pasca-serangan. Menteri Pertahanan Israel Gallant (atau Israel Katz) turut mengklaim operasi ini sebagai capaian intelijen yang krusial.
- Versi Palestina: Pihak keamanan di Gaza langsung menepis klaim penangkapan orang nomor satu di dinas keamanan tersebut. Menurut sumber internal, pejabat yang disasar justru selamat dari upaya pembunuhan. Pasukan Israel hanya menculik seorang perwira tingkat menengah setelah meredam rumahnya lewat bom udara, serangan yang menewaskan istri perwira tersebut. Kantor Media Pemerintah di Gaza bahkan menyatakan beberapa personel unit khusus Israel tewas di tempat saat misi mereka terbongkar sebelum rampung.
Laporan lapangan menunjukkan bahwa pasukan penyusup tersebut melarikan diri menggunakan sepeda motor, memicu payung udara berupa pemboman berskala besar untuk melapangkan jalan keluar mereka.
Payung Udara Masif dan Dampak pada Pengungsi
Guna mengamankan jalur mundur unit khusus yang terdesak, militer Israel mengerahkan lebih dari 10 jet tempur dan deretan drone untuk menghantam area sekitar. Pemboman ini menyasar wilayah dekat Rumah Sakit Lapangan AS di Al-Kutiba, yang kian memperparah jatuhnya korban dari pihak sipil.
Pihak militer Israel mengonfirmasi adanya serangan udara tersebut dengan dalih “menghilangkan ancaman” terhadap pasukan mereka, sembari mengklaim tidak ada korban jiwa di pihak prajuritnya.
Namun, otoritas penyiaran Israel (KAN) mencatat militer enggan memperjelas apakah ancaman yang dimaksud berasal dari perlawanan Palestina atau bentrokan antar-kelompok lain di lapangan.
Hamas: Bentuk Pelanggaran dan Sikap Masa Bodoh atas Kesepakatan
Menanggapi insiden berdarah ini, Hamas merilis pernyataan keras. Mereka mengutuk operasi infiltrasi di tengah kawasan padat pengungsi tersebut sebagai kejahatan serius yang secara sengaja mengabaikan keselamatan jiwa warga sipil.
Hamas menilai eskalasi ini membuktikan bahwa pemerintah Israel terus melanggar kesepakatan gencatan senjata dan mengabaikan peran negara-negara mediator.
Melalui pernyataan resminya, Hamas mendesak Pemerintah Amerika Serikat, negara-negara penengah, serta Dewan Keamanan PBB untuk mengambil sikap tegas dan menindak pelanggaran sistematis yang merusak stabilitas di Jalur Gaza.










