GAZA — Segala cara tampaknya terus dikerahkan mesin propaganda Israel untuk membalikkan narasi publik global. Terbaru, sejumlah akun media sosial pro-Israel ketahuan memelintir video balik layar (behind the scenes) pembuatan sebuah serial drama Palestina, lalu mengklaimnya sebagai bukti rekayasa penangkapan dan penyiksaan oleh tentara Israel.

Niat hati ingin menyudutkan warga Palestina dengan tuduhan “pandai berakting”, kebohongan propaganda ini justru terbongkar total setelah ditelusuri kebenaran fakta di lapangannya.

Bermula dari Unggahan ‘Gazawood’

Isu ini menggelinding setelah video singkat berdurasi beberapa puluh detik beredar luas di berbagai platform media sosial. Dalam video itu, terlihat beberapa orang berseragam militer Israel dan memegang senjata sedang memaksa sejumlah pemuda Palestina berlutut, menutup mata, serta mengikat tangan mereka ke belakang.

Tak lama, terdengar suara aba-aba hitungan mundur dari balik kamera: “Tiga, dua, satu… action!” Proses pengambilan gambar yang berlokasi di dalam sebuah kafe itu pun diulang beberapa kali demi mendapatkan shot yang presisi.

Tim Penelusuran Sumber Terbuka (Open Source) Al Jazeera menemukan bahwa pihak yang pertama kali membagikan video ini adalah akun @GAZAWOOD. Akun ini dikenal gencar menyebarkan propaganda pro-Israel dan secara sistematis berupaya memicu keraguan publik atas penderitaan korban serta kehancuran di Gaza.

Pada 28 Agustus lalu, akun tersebut mengunggah video itu dengan narasi sarkastis, “Behind the scenes yang memperlihatkan tentara Israel menangkap warga Palestina yang ‘malang’.”

Tak berhenti di situ, mereka menambahkan narasi penyesatan, “Demi menjaga narasi palsu sebesar ini tetap hidup, dibutuhkan pasokan materi visual yang tak pernah putus.”

Pesan yang ingin disuntikkan ke benak publik sangat jelas: mereka ingin mengesankan bahwa bukti-bukti kekerasan dan penangkapan brutal oleh militer Israel yang beredar saban hari hanyalah adegan drama buatan (gimmick).

Unggahan tersebut langsung memicu gelombang komentar provokatif dan kebencian terhadap warga Palestina di platform X (dahulu Twitter). Sejumlah netizen pro-Israel melontarkan ejekan hambar, bahkan ada yang mengaitkannya dengan sentimen anti-Islam.

Narasi serupa juga menyebar cepat ke Facebook hingga menyasar publik Amerika Serikat agar tak memercayai liputan media di Palestina.

Jejak Digital Membongkar Kebohongan

Namun, propaganda itu langsung mentah begitu detail video diperiksa secara cermat. Ada sejumlah bukti tak terbantahkan yang membongkar kebohongan klaim Israel tersebut:

  1. Bahasa dan Konteks Pengambilan GambarDalam rekaman asli, seluruh kru berbicara menggunakan bahasa Arab dengan istilah-istilah teknis produksi film. Percakapan mereka murni soal tata letak kamera (framing) dan pengarahan adegan drama, bukan setting rekayasa propaganda terselubung.
  2. Upaya Membalikkan Gambar (Mirroring)Peneliti menemukan kejanggalan pada detik ke-46: terdapat tulisan Arab yang tampak terbalik. Ini menandakan video sengaja dibalik (mirroring) oleh pengunggah pertama untuk mengaburkan lokasi asli agar sulit dilacak.
    Setelah orientasi gambar dikembalikan ke posisi semula, terbacalah tulisan “Basha Bar”. Penelusuran menunjukkan lokasi tersebut berada di Basha Cafe yang terletak di Kota Tua Nablus, Tepi Barat. Pencocokan visual dengan akun Instagram resmi kafe tersebut (mulai dari lukisan dinding hingga dekorasi interior) mengonfirmasi 100 persen lokasi pengambilan gambarnya.
  3. Jejak Digital Lebih Awal di FacebookMelalui metode reverse image search, ditemukan bahwa rekaman versi jernih (high definition) sudah diunggah lebih dulu oleh warga Nablus bernama Ahmed Awad di Facebook pada 21 Agustus, beberapa hari sebelum akun pro-Israel memelintirnya.

Ahmed Awad secara gamblang menjelaskan bahwa video tersebut merupakan rekaman balik layar dari proses syuting serial drama Palestina berjudul Nazif al-Turab (Bleeding Soil).

Serial ini mengisahkan realitas pahit kehidupan warga Palestina di bawah pendudukan militer Israel. Tokoh-tokoh yang muncul dalam video singkat itu juga terkonfirmasi sebagai sutradara Bashar al-Najjar bersama jajaran pemeran serta kru film terkait.

Pola Lama Membungkam Realitas

Modus memelintir karya seni atau potongan dokumenter menjadi “bukti rekayasa Palestina” (Pallywood) bukanlah barang baru. Sejak agresi militer di Gaza memanas pasca-7 Oktober 2023, pola propaganda semacam ini terus berulang.

Pihak-pihak pro-Israel berulang kali mencabut video dari konteks aslinya untuk mencapai dua tujuan sekaligus: memicu keraguan publik internasional atas bukti pelanggaran HAM oleh tentara Israel, sekaligus memutus empati dunia terhadap penderitaan bangsa Palestina.

Adapun serial drama Nazif al-Turab sendiri melibatkan sekitar 50 aktor Palestina dan 20 kru teknis. Skenario dan proses produksinya digarap seusai peristiwa 7 Oktober 2023.

Alur ceritanya dibuka dengan adegan pelarian empat tahanan Palestina dari Penjara Ofer milik Israel melalui lubang galian di dalam sel, sebuah gambaran seni yang diproduksi untuk merekam suara penderitaan, yang ironisnya kini berusaha dibungkam lewat manipulasi informasi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here