GAZA — Kementerian Dalam Negeri Gaza mengonfirmasi syahidnya Direktur Kepolisian Provinsi Gaza, Brigadir Jenderal Jamal Abu Kamil, akibat serangan udara Israel yang menargetkan kendaraannya di Jalan Pesisir Ar-Rasyid, kawasan barat Kota Gaza.
Sumber dari Tim Medis dan Darurat Gaza melaporkan kepada Al Jazeera bahwa jet tempur atau drone Israel melancarkan serangan langsung di Distrik Asy-Syaikh Ajlin. Penembakan mendadak ini menewaskan Abu Kamil di tempat dan melukai dua rekannya secara kritis sebelum akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit Al-Syifa.
Koresponden Al Jazeera, Shadi Syamiyah, membeberkan bahwa drone militer Israel melepaskan tiga rudal secara bertubi-tubi ke arah mobil yang ditumpangi Abu Kamil hingga membakar seluruh badan kendaraan.
Klaim Israel vs Bantahan Ketat Direktorat Polisi
Militer Israel mengklaim telah membunuh seorang “komandan Hamas yang terlibat dalam penyerbuan 7 Oktober 2023”, mengacu pada sosok Jamal Abu Kamil. Juru bicara militer Israel menuduh Abu Kamil terus beroperasi melawan pasukan mereka selama perang berlangsung.
Namun, Direktorat Jenderal Kepolisian Gaza secara tegas membantah tuduhan tersebut. Dalam pernyataan resminya, pihak kepolisian menegaskan bahwa Abu Kamil adalah pejabat sipil yang berkomitmen penuh menjalankan tugas kepolisian sesuai hukum, serta tidak memiliki keterlibatan dalam tuduhan yang dilayangkan militer Israel.
“Tujuan utama dari kejahatan pembunuhan ini adalah untuk merusak tatanan institusi kepolisian sipil demi menyebarkan kekacauan dan unrest di tengah masyarakat Palestina di Jalur Gaza,” tegas Direktorat Kepolisian Gaza.
Selain insiden di Kota Gaza, sebuah drone Israel juga menyerang kawasan Hayy al-Amal, barat Khan Yunis, yang menewaskan satu warga sipil dan melukai beberapa lainnya. Eskalasi ini menambah daftar korban tewas akibat serangan udara Israel di Gaza dan Khan Yunis dalam hitungan jam.
Kembali ke Taktik Pembunuhan Terarah
Koresponden Syamiyah melaporkan bahwa bombardir artileri intensif terus diarahkan ke rumah-rumah warga di kawasan utara, timur, dan selatan Gaza, khususnya di Ash-Syujaiyah, barat Kota Gaza, dan Bait Lahia.
Mengutip Kementerian Dalam Negeri, rangkaian serangan ini menandai kembalinya Israel ke taktik pembunuhan terarah (targeted assassination) menggunakan pesawat nirawak setelah sempat mereda beberapa hari.
Dalam kurun waktu 24 jam terakhir, tercatat sedikitnya tiga serangan drone dilancarkan: bermula di Bait Lahia, berlanjut ke Khan Yunis, dan berujung pada penembakan mobil pejabat kepolisian di barat Kota Gaza.
Pelanggaran atas Kesepakatan Gencatan Senjata
Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) dan fraksi-fraksi Palestina mengutuk keras pembunuhan terencana ini. Mereka menilai langkah Israel sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kesepakatan gencatan senjata dan manuver untuk menggagalkan transisi menuju tahap kedua kesepakatan tanpa adanya tindakan tegas dari para mediator.
Hamas menegaskan bahwa pembunuhan terhadap kepala polisi sipil ini merupakan upaya frustrasi Israel untuk menciptakan kekacauan keamanan di dalam Gaza. Hamas mendesak para mediator dan pihak penjamin internasional untuk segera turun tangan menekan Israel agar mematuhi poin-poin kesepakatan yang telah disetujui.
Eskalasi ini terjadi di tengah klaim media Israel bahwa militer mereka “berkomitmen” pada Rencana 15 Poin yang diprakarsai Dewan Perdamaian dan telah disetujui Hamas—meskipun Perdana Menteri Benjamin Netanyahu secara terbuka menyatakan penolakannya terhadap rencana tersebut.
Data Kementerian Kesehatan Palestina mencatat, berbagai pelanggaran kesepakatan yang dilakukan Israel telah mengakibatkan 1.259 warga Palestina syahid dan 4.148 lainnya luka-luka.
Kesepakatan gencatan senjata ini sejatinya dicapai untuk menghentikan aksi genosida Israel sejak 8 Oktober 2023, yang secara keseluruhan telah menelan lebih dari 73 ribu korban jiwa, 174 ribu korban luka, serta menghancurkan 90 persen infrastruktur sipil dengan estimasi biaya rekonstruksi PBB mencapai 70 miliar dolar AS.
(Sumber: Al Jazeera / Anadolu)










