NABLUS — Pasukan Penjajah Israel melancarkan penggerebekan ke Desa Qusra, selatan Nablus, Tepi Barat, dan memaksa sejumlah keluarga Palestina mengosongkan rumah mereka yang sebelumnya telah dikepung oleh kelompok pemukim ilegal Yahudi.

Langkah pengusiran ini terjadi di tengah gelombang penangkapan masif terhadap puluhan warga Palestina serta penyerbuan puluhan pemukim ke kompleks Masjid Al-Aqsa.

Ketegangan di Desa Qusra memuncak setelah para pemukim mendirikan pos pemukiman ilegal dan mengisolasi tiga keluarga Palestina di dalam rumah mereka. Kepala Desa Qusra, Abdul Azim Wadi, menuturkan bahwa militer Israel telah memblokir total akses ke desa, menerapkan jam malam, serta menyebar puluhan prajurit di dalam dan sekitar permukiman.

Akses bantuan makanan, air bersih, listrik, hingga obat-obatan terputus total karena tim dari pihak berwenang desa dilarang mendekati kawasan Ras al-Ain, lokasi keluarga yang terkepung berada. Pengepungan ini bermula saat para pemukim mendirikan tenda di dekat permukiman warga (termasuk rumah milik warga Palestina berpaspor Amerika Serikat) yang menutup akses masuk perbekalan.

Pengusiran Demi Kepentingan Militer

Abdul Azim Wadi membeberkan, alih-alih membubarkan pemukim ilegal sebagaimana yang diklaim militer, ratusan tentara Israel justru memaksa warga Palestina yang terkepung untuk angkat kaki dari rumah mereka dalam batas waktu singkat.

Pihak militer mengklaim penguasaan rumah tersebut untuk kepentingan operasional pasukan hingga kurun waktu tertentu, yang memaksa warga mengungsi ke rumah kerabat terdekat di lokasi tersebut karena menolak pergi meninggalkan tanah mereka.

“Situasi ini sangat berbahaya bagi kami. Kami sangat khawatir penggerebekan dan pengosongan rumah ini hanyalah pintu masuk bagi para pemukim untuk menguasai bangunan tersebut secara permanen,” tegas Wadi.

Meski militer Israel mengklaim telah membongkar dua pos ilegal dan menahan satu pemukim, warga lokal mengonfirmasi bahwa mereka masih dalam kondisi terkepung dan para pemukim tetap bertahan di lokasi.

Media Israel Channel 12 bahkan melaporkan bahwa para pemukim langsung kembali ke lokasi di Qusra tak lama setelah dievakuasi oleh militer.

Pengakuan “Tanpa Kekerasan” vs Fakta di Lapangan

Di tengah bukti kebrutalan tersebut, Menteri Pertahanan Israel yang baru, Israel Katz, justru mengklaim bahwa “tidak ada tindakan kekerasan” yang dilakukan oleh para pemukim Yahudi di Tepi Barat. Pernyataan ini menuai kecaman mengingat rekam jejak Katz yang sebelumnya membatalkan perintah penahanan administratif terhadap pemukim radikal.

Di sisi lain, kecaman keras datang dari pihak internasional. Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee (yang dikenal mendukung permukiman di Tepi Barat) secara terbuka mengecam tindakan para pemukim di Qusra dan menyebut aksi intimidasi terhadap keluarga Palestina tersebut sebagai hal yang “menjijikkan dan premanisme”.

Laporan harian Haaretz mengutip sumber keamanan yang memperingatkan bahwa Tepi Barat kini berada di atas “tong bubuk mesiu yang siap meledak kapan saja”. Para perwira Israel dilaporkan enggan mengambil tindakan tegas terhadap pemukim radikal karena khawatir akan merusak karier militer mereka akibat tekanan politik sayap kanan.

Kantor Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR) turut menegaskan bahwa serangan pemukim di Tepi Barat telah mencapai tingkat yang sangat berbahaya. PBB mendesak Israel untuk memenuhi kewajiban hukumnya melindungi warga Palestina dan segera menghentikan aksi intimidasi.

Penyerbuan Al-Aqsa dan Penangkapan Masif

Di saat yang sama, eskalasi kekerasan meluas ke wilayah lain. Kantor Gubernur Jerusalem melaporkan sekelompok pemukim yang dipimpin oleh politikus ekstremis Yehuda Glick kembali menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa dan menggelar ritual di area timur menghadap Kubah Shakhrah.

Di tempat terpisah, kantor berita WAFA melaporkan militer Israel menggelar gelombang penangkapan masif di berbagai kota, termasuk Salfit, Jenin, Tulkarm, Qalqilya, Ramallah, dan Hebron.

Di Desa Al-Minya, Bethlehem, serangan pemukim yang diiringi pengeroyokan melukai dua warga Palestina, membakar lahan, serta menyita 100 ekor domba milik warga lokal. Tentara Israel justru menangkap korban pengeroyokan tersebut meski dalam kondisi luka parah.

Data Badan Perlawanan Tembok dan Pemukiman Palestina mencatat, sepanjang rentang Oktober 2023 hingga Juni 2026, kelompok pemukim ilegal Yahudi telah melancarkan sedikitnya 12.506 kali serangan. Rangkaian aksi teror ini telah menewaskan 52 warga Palestina serta memicu 890 kasus kebakaran pada bangunan dan lahan pertanian milik warga.

(Sumber: Al Jazeera / WAFA / Haaretz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here